Baru-baru ini kita mendengar mengenai Situs Batu Kuya yang hilang dari tempatnya di kawasan Hutan Lindung Haur Bentes, Desa Pasir Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hingga Senin (29/9) belum terlacak keberadaannya. Situs seberat 6 ton peninggalan Kerajaan Tarumanegara tersebut diduga akan diselundupkan ke luar negeri. Kehilangan satu situs sejarah saja membuat kita bertanya-tanya mengenai perhatian pemerintah terhadap perlindungan cagar budaya bangsa Indonesia.
Ketika orang Jambi sangat menghargai sejarahnya sampai-2 Situs Muara Jambi dikembangkan agar peninggalan sejarah tetap ada ternyata sedih juga pemerintah justru akan menghancurkan dan menenggelamkan situs-situs bersejarah bagi masyarakat sunda dan tidak tanggung-tanggung sekitar 25 situs sekaligus. Berikut ini tuturan ahli budaya dan sejarah.
Mudah-mudahan pemerintah sadar bahwa sejarah itu penting dan tidak serta merta menghancurkan peninggalan-2an sejarah yang nilainya tidak bisa diukur oleh apapun.
Akan sangat malu sekali sama bangsa lain apabila bangsa kita sendiri yang menghancurkan peninggalan sejarah tersebut.
Mengenal Situs Jatigede
Oleh Dr. Nina Herlina Lubis, M.S.
Penulis melakukan kunjungan ke lapangan beberapa bulan lalu untuk melihat kondisi situs-situs tersebut dan mendokumentasikan tradisi lisan yang hidup di sana. Dengan merujuk juga kepada penelitian mutakhir, yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung, di lokasi yang akan ditenggelamkan pembangunan Waduk Jatigede terdapat setidaknya 25 situs arkeologi, yang kebanyakan berupa makam kuna.
Situs Jatigede
Situs-situs yang ada di wilayah ini sebagian merupakan peninggalan masa prasejarah (terlihat dari tradisi megalit yang ada), masa Kerajaan Tembong Agung/Sumedanglaran g, dan sebagian lagi makam leluhur pendiri desa, ada juga yang tidak diketahui asal-usulnya. Menurut penelitian arkeologi, peninggalan- peninggalan leluhur ini, memperlihatkan adanya transformasi dari masa prasejarah (masa sebelum dikenal tulisan) ke masa sejarah (masa setelah dikenal tulisan). Jadi, makam kuna yang tergolong budaya megalit (batu-batu besar) itu adalah warisan prasejarah yang terus difungsikan pada masa sejarah. Situs-situs tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Situs Leuwiloa, berupa makam kuna (keramat) Embah Wacana, yang berlokasi di Kampung Leuwiloa, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
(2) Situs Nangewer, berupa makam kuna (keramat) Embah Mohammad Abrul Saka, yang berlokasi di Kampung Nangewer, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
(3) Situs Tembongagung, bekas-bekas kerajaan Tembongagung yang sudah sulit dikenali, hanya ditemukan sebaran keramik Cina dari masa Dinasti Ming, yang berlokasi di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
(4) Situs Pasir Limus, merupakan kompleks makam kuna Eyang Jamanggala, Eyang Istri Ratna Komala Inten, Eyang Jayaraksa (Eyang Nanti), dan makam lain. Di sebelah timur kedua makam ini terdapat monolit. Diduga ada tatanan batu membentuk bangunan berundak. Makam ini disebut juga petilasan Tilem;
(5) Situs Muhara, berupa makam keramat Eyang Marapati dan Eyang Martapati, yang berada di Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja;
(6) Situs Marongpong, berupa makam keramat Embah Sutadiangga dan Embah Jayadiningrat, pendiri Kampung Cihideung, yang berlokasi di Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
(7) Situs Nangkod, makam Embah Janggot Jaya Prakosa, yang berlokasi di Kampung Nangkod Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
(8) Situs Sawah Jambe, berupa tiga batu berdiri (menhir) yang terletak di wilayah Kampung Sawah Jambe, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
(9) Situs Lameta, berupa makam keramat Embah Dira dan Embah Toa, pendatang dari Betawi yang membedah aliran Cihaliwung dan Cisadane. Tokoh ini juga diceritakan sebagai orang (tempat lalandong/berobat) Prabu Siliwangi. Situs Lameta berada di pemukiman penduduk Kampung Lameta Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja;
(10) Situs Betok, kompleks makam yang berlokasi di Kampung Betok, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja;
(11) Situs Tanjungsari, berupa kompleks makam kuna Embah H. Dalem Santapura bin Betara Sakti, penyebar agama Islam di Darmaraja, dengan enam makam putranya, yang berlokasi di Dusun Kebon Tiwu, Desa Cibogo, Kecamatan Darmaraja. Di lokasi ini juga terdapat makam Demang Patih Mangkupraja, Patih Sumedang semasa Pangeran Kornel, dan makam-makam para juru kunci. Dekat situs terdapat sumur kuna yang disebut Cikahuripan.
(12) Situs Munjul, berupa kompleks makam dengan makam utama Singadipa, yang berlokasi di Kampung Munjul, Desa Sukamenak, Kecamatan Darmaraja;
(13) Situs Keramat Eretan, berupa makam keramat Embah Geulis, istri Prabu Gajah Agung, dan makam-makam lainnya yang berlokasi di Kampung Cisurat, Desa Cisurat, Kecamatan Wado.
(14) Situs Cipawenang, yakni mata air yang dikeramatkan. Situs ini berada di Kampung Cigangsa, Desa Pawenang, Kecamatan Wado. Konon mata air ini dibuat secara ajaib oleh Nyi Mas Ratu Asih, putri dari Kerajaan Nunuk di Majalengka.
(15) Situs Cigangsa, berupa kompleks makam umum yang masih difungsikan hingga sekarang. Pada bagian yang paling atas terdapat kelompok makam yang dikeramatkan, di mana terdapat makam utama yaitu makam Embah Dalem Raden Arya Wangsa Dinaya. Situs berlokasi di Kampung Cigangsa Desa Pawenang, Kecamatan Wado.
(16) Situs Gagak Sangkur, berupa makam keramat Raden Aria Sutadinata ( berasal dari Banten) yang berlokasi di Kampung Sundulan, Desa Padajaya, Kecamatan Wado; (17) Situs Tulang Gintung, berupa makam keramat Eyang Haji Rarasakti atau Jayasakti yang berlokasi di Pasir Leutik, Kampung Sundulan, Desa Padajaya, Kecamatan Wado.
(18) Situs Keramat Gunung Penuh, berupa makam keramat Tresna Putih, yang berlokasi di Kampung Bantarawi, Desa Padajaya, Kecamatan Wado;
(19) Situs Keramat Buah Ngariung, makam Embah Wangsapraja, penyebar Islam di Buah Ngariung, yang berlokasi di Kampung Buah Ngariung, Desa Padajaya, Kecamatan Wado.
(20) Situs Curug Mas, berupa tiga objek, yaitu pertama, kompleks makam Embah Dalem Panungtung Haji Putih Sungklanglarang, penyebar agama Islam dari Kesultanan Mataram dan makam pengikutnya yang bernama Angling Dharma, kedua, air terjun Curug Mas yang diyakini sebagi tempat menyimpan bokor emas, bakakak (ayam dibelah) emas, dan tumpeng emas; dan ketiga, sumur keramat yang dinamai Sumur Bandung. Situs ini berlokasi di Kampung Cadasngampar, Desa Sukakersa, Kecamatan Jatigede.
(21) Situs Cadasngampar, berupa komplek makam Aki Angkrih, pendatang dari Sumatra yang mendirikan Kampung Cadasngampar, dan makam keluarganya, yaitu makam Aki Angkrih, Nini Angkrih, Aki Kulo, dan Nini Kulo. Situs ini terletak di Dusun Cadasngampar, Desa Sukakersa, Kecamatan Jatigede.
(22) Situs Tanjakan Embah, berupa makam keramat Embah Jagadiwangsa dan Embah Sadaya Pralaya, yang berlokasi di Desa Jemah, Kecamatan Jatigede.
(23) Situs Sukagalih, berupa lima makam yang dilengkapi bangunan cungkup. Tokoh utama yang dimakamkan adalah pendiri desa ini yaitu Eyang Akung. Di sebelah baratnya adalah makam istrinya, selanjutnya Aki Gading dan dua makam lagi tidak diketahui namanya. Situs ini berlokasi di Dusun Sukagalih, Desa Jemah, Kecamatan Jatigede.
(24) Situs Keramat Aji Putih. Situs yang berada di Kampung Cipeueut, Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja ini berupa makam Ratu Ratna Inten Nawangwulan, makam Prabu Aji Putih, dan makam Resi Agung.
(a) Makam Ratu Ratna Inten Nawangwulan. Lokasi objek terletak di tengah persawahan Makam Ratu Ratna Inten Nawangwulan (istri Prabu Aji Putih) sampai sekarang masih dikeramatkan oleh penduduk dan masih diziarahi orang, baik penduduk setempat maupun dari luar dengan berbagai keperluan.
(b) Makam Prabu Aji Putih. Lokasi makam terletak di sebelah timur laut makam Ratu Ratna Inten Nawangwulan. Objek berupa makam yang terletak di puncak bukit. Bukit tersebut dikelilingi oleh parit dan tidak jauh dari Sungai Cibayawak.
(b) Makam Resi Agung. Lokasi makam terletak di puncak bukit sebelah utara makam Prabu Aji Putih. Makam tersebut merupakan makam guru Prabu Aji Putih, pendiri Kerajaan Tembongagung. Makam masih dikeramatkan dan diziarahi oleh masyarakat setempat dan dari luar.
(25) Situs Astana Gede Cipeueut. Secara administratif situs terletak di Kampung Cipeueut, Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja. Lokasi situs terletak di pinggir jalan masuk ke Desa Cipaku dan menyatu dengan pemakaman umum warga setempat. Di situs ini terdapat tiga objek berupa makam Raja Sumedanglarang, Prabu Lembu Agung, Embah Jalul, dan istri Prabu Lembu Agung. Ketiga makam tersebut sampai sekarang masih dikeramatkan oleh masyarakat setempat dan luar daerah.
Demikianlah situs-situs yang berada di lokasi bakal genangan Waduk Jatigede. Makam-makam kuna ini adalah peninggalan sejarah yang mencerminkan latar belakang sosio budaya masyarakat lama di Kabupaten Sumedang dan nilai makam-makam ini melekat dengan tempat (site) di mana ia berada. Sebagai warisan peradaban sudah sepatutnya situs-situs itu kita lestarikan.
Penulis, Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Unpad/Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.
Sumber: www.pikiran-rakyat.com
http://aasep.multiply.com/journal/item/30/25_Situs_Bersejarah_Mau_Dihancurkan
===================================
Kontroversi Bendungan Jatigede
Oleh H. USEP ROMLI H.M.
Dua puluh tahun sudah rencana pembangunan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, terkatung-katung. Padahal persiapannya telah berlangsung sejak tahun 1983. Tahun 1984-1985 mulai terselenggara ganti rugi. Para pemilik tanah di tiga kecamatan (Wado, Cadasngampar, Darmaraja) yang akan terendam jika kelak bendungan sudah terwujud, menerima sejumlah uang dan berangkat transmigrasi ke luar Jawa. Hanya sebagian kecil yang masih bertahan, dan sebagian lagi memilih pindah ke desa-desa lain masih di Kabupaten Sumedang.
Jalan baru antara Tolengas-Jatigede telah terbentang, luas dan beraspal mulus. Alat-alat berat, tenaga teknisi, pekerja lapangan dan sebagainya, berseliweran tiap saat. Suasana sepi daerah terpencil yang berhutan lebat itu, berubah menjadi sibuk dan ramai. Situs Marongge, yang dipercaya sebagai pusat "ilmu pelet" (pekasihan) makin banyak dikunjungi para peziarah, karena letaknya persis di pinggir jalan baru Tolengas-Jatigede yang mirip tol itu.
Tapi entah mengapa, bendungan yang ditunggu-tunggu tak pernah muncul, hingga bertahun-tahun, bahkan hingga dua puluh tahun! Jalan "tol" Tolengas-Jatigede telah kembali rusak. Lebih rusak daripada sebelum diperluas dan dipermulus. Bangunan-bangunan infrastruktur di sekitar bakal bendungan pun terbuang begitu saja. Mirip rumah hantu, sebelum roboh sendiri akibat tidak terurus. Para pemilik tanah yang sudah menerima ganti rugi, dan sudah bertransmigrasi, banyak yang pulang kampung.
Kabar tentang bendungan Jatigede simpang siur antara batal dan tidak. Semua samar dan penuh tanda tanya. Yang menjadi korban langsung adalah daerah setempat dan para penghuninya. Terkucilkan dari derap laju pembangunan fisik rutin. Tak ada aliran "listrik masuk desa" (LMD), sebab terhambat oleh rencana pembangunan bendungan. Tak ada perbaikan jalan dan jembatan, karena akan sia-sia jika nanti bendungan muncul. Salah satu contoh yang paling nyata adalah Kampung Jemah, Desa Jatigede, Kecamatan Cadasngampar. Muram dan kusam, dengan rumah-rumah tua dan penghuninya yang terombang-ambing dalam penantian. Jika bendungan Jatigede selesai, Kampung Jemah merupakan kawasan yang paling dulu tergenangi air.
Pemerintah juga ikut menanggung beban derita. Berapa juta dana yang sudah dikeluarkan untuk ganti rugi tanah masyarakat? Hingga tahun 1990, masih banyak plang terpancang, bertuliskan "Tanah Milik Negara", sebagai pertanda telah diberikan ganti rugi dan kepemilikannya beralih. Sekarang semua tanda itu telah hilang, dan tak sedikit tanah yang digarap lagi oleh bekas pemiliknya dulu.
Awal tahun 2000, isu Jatigede kembali menghangat. Konon pemerintah telah siap untuk melanjutkan rencana yang sudah terbengkelai dua puluh tahunan itu. Kesibukan-kesibukan mulai tampak lagi. Terutama dalam hal saling lempar pernyataan. Di satu pihak ada yang optimis, pembangunan bendungan Jatigede akan segera dilaksanakan karena berbagai kebutuhan mendesak. Antara lain pencegahan banjir di wilayah Pantai Utara, penyediaan air untuk irigasi dan bisnis, dan sebagainya. Di pihak lain, beredar keraguan yang berkaitan dengan kemampuan anggaran, manfaat jangka panjang, dugaan korupsi dan kolusi dalam proses ganti rugi, dan sebagainya. Termasuk kekhawatiran mengenai kerusakan lingkungan yang akan berdampak luas terhadap aspek ekologi dan budaya setempat.
Pendapat terakhir ini, diutarakan oleh Dewan Pengamat Kelestarian Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), yang terjun ke lokasi Jatigede, Rabu (10/3).Waduk Jatigede, yang akan membendung aliran air Sungai Cimanuk di Jatigede, Kecamatan Cadasngampar, Kabupaten Sumedang, memang selalu mengundang kontroversi. Bukan sekarang saja. Tapi sejak zaman kolonial dulu. Berdasarkan penuturan penduduk setempat, membendung Sungai Cimanuk sudah direncanakan pada akhir abad 19, di tiga tempat. Yaitu Bakom, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Beureumbeungeut Cipasang, Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang, dan Jatigede. Beureumbeungeut ditangguhkan karena mendapat penolakan dari para pengusaha perkebunan Ganjartemu, sebuah perkebunan teh dan sayuran terbesar di perbatasan Garut-Sumedang hingga tahun 1920-an. Sebab jika Sungai Cimanuk di Beureumbeungeut dibendung, ribuan hektare tanaman teh dan sayuran yang amat subur dan produktif akan lenyap terkena genangan. Pembatalan Beureumbeungeut berarti pembatalan Bakom yang akan menjadi "filter" bagi pasokan air ke bendungan Beureumbeungeut. Akibat selanjutnya, pemerintah kolonial terpaksa menangguhkan Jatigede, sebab tanpa Bakom dan Beureumbeungeut, peran dan fungsi Waduk Jatigede tidak akan optimal, mengingat tak ada "filter" berupa dua bendungan lebih kecil di sebelah hulu.
Penduduk pedesaan Sumedang menyebut kegagalan dan penangguhan pembuatan bendungan Beureumbeungeut dan Bakom, sebagai tacan nincak kana uga (belum tiba saatnya yang tepat sesuai isyarat ramalan). Berdasarkan folklore (cerita rakyat) setempat, yang dicatat pada kegiatan pengumpulan folklore "Tahun Buku Internasional Unesco" 1972, uga mengenai bendungan di Sungai Cimanuk berbunyi: Beureumbeungeut disieuh-sieuh, Jatigede diengke-engke, nunggu gugur kana siwur. Artinya, Beureumbeungeut ditolak mentah-mentah oleh kalangan pengusaha perkebunan yang takut kehilangan untung, sehingga Jatigede dibiarkan berlama-lama dalam ketidakpastian, seraya menunggu masuknya air curahan hujan lebat ke dalam gayung. Yang mengandung arti, bersih dari gejala dan kecenderungan projek (Jatigede) dari korupsi dan kolusi. Dalam makna lebih luas, bendungan di Sungai Cimanuk, baik Beureumbeungeut maupun Jatigede akan terwujud kelak jika semua pihak sudah memiliki kejujuran dan ketulusan.Revitalisasi sungai Bagaimana pun juga, aroma korupsi (sempat) merebak di seputar rencana.
http://www.geocities.com/ex_orientelux/halenam.htm
===================================
Jatigede Map — Satellite Images of Jatigede
Peta lokasi rencana pembangunan Bendungan Jatigede dapat dilihat di link :
http://www.maplandia.com/indonesia/jawa-barat/serang/jatigede/
(read less)