It doesn't have to be a wise decision or a perfect one. Just make one.
In fact, make several. Make more decisions could be your three word mantra.
No decision is a decision as well, the decision not to decide. Not deciding is usually the wrong decision. If you are the go-to person, the one who can decide, you'll make more of a difference. It doesn't matter so much that you're right, it matters that you decided.
Of course it's risky and painful. That's why it's a rare and valuable skill. (seth)
In fact, make several. Make more decisions could be your three word mantra.
No decision is a decision as well, the decision not to decide. Not deciding is usually the wrong decision. If you are the go-to person, the one who can decide, you'll make more of a difference. It doesn't matter so much that you're right, it matters that you decided.
Of course it's risky and painful. That's why it's a rare and valuable skill. (seth)
Sebuah tempat tinggal selalu mencerminkan siapa penghuninya. Rumah adalah tempat tinggal manusia. Sesungguhnya setiap manusia berada dalam derajad yang sama – awalnya bayi yang fitri. Kemudian manusia merasa perlu berbeda (being recognized) dan membedakan diri (self recognition) dengan yang lain dalam berbagai strata. Strata yang dibuat oleh manusia untuk manusia lainnya.
Tempat tinggal orang miskin disebut gubug, orang yang sangat miskin di ‘gubug reyot’. Tempat tinggal orang kota yang mulai kaya yang bertumpuk-tumpuk yang disebut apartemen. Tempat tinggal orang kota tidak kaya yang juga bertumpuk-tumpuk disebut ‘rumah susun sederhana’. Tempat tinggal orang bijak yang mengajarkan kebajikan menyebutnya ‘padepokan’. Dan tempat tinggal seorang raja disebut “istana (palace)”.
Ratu-ratu dan raja-raja di dunia selalu tinggal di istana.
Indonesia tersurat sebagai Negara dalam tatanan Republik, seperti Amerika Serikat dimana Presiden disebutkan sebagai kepalanya. Indonesia serupa dengan Amerika Serikat, yang berputar melingkar dalam “orbit demokrasi” ketika menjalankan tata pemerintahannya. Serupa dan memang berbeda!.
Pusaran orbit demokrasi Amerika terbatas lagi monoton. Terbatas hanya dua partai – tak ada pilihan lain. Hanya dengan dua partai ini, berdemokrasi di Amerika sesungguhnya lebih mudah dan lebih murah. Dan ketika seorang Presiden sudah terpilih, sang Presiden ini hanya bertempat tinggal di “rumah putih (white house)”.
Ke-Indonesia-an adalah kreatifitas. Walaupun demokrasi yang berlaku saat ini adalah hasil contekan, namun kreatifitas politisi Indonesia mampu membuat demokrasi yang monoton dan membosankan jadi semarak dan mengesankan. Orang Amerika tidak serius dalam “pesta (party)”, karena orbit demokrasinya hanya diramaikan hanya oleh dua partai (dual parties). Demokrasi Amerika adalah demokrasi pelit, sepi dan membelenggu hak azasi. Bagi politisi Indonesia sebuah pesta harus semarak, tak pelit, sedikit genit dan tak perlu ‘ngirit’, makin banyak partai makin bergengsi. Para politisi Indonesia memang “serius pesta”. Sebuah pesta harus meriah dan megah. Tak perlu irit, walupun ‘ngutang’ mereka tak sayang uang. “Wong untuk rakyat kok sayang uang!. Biar hutang besar yang penting bukan saya yang bayar! Biar banyak hutang yang penting nampang!” kira-kira begitu (politisi memang paling suka kira-kira).
Sejak merdeka di tahun 1945, Indonesia diperintah oleh seorang Presiden yang “dirajakan” oleh rakyatnya sendiri. Presiden Raja ini berkuasa dan bertahta di istana – Istana Merdeka. Sang Raja didampingi oleh permaisuri (kadang ada selirnya juga) yang dinobatkan sebagai “Ibu Negara”. Dan anak-anak sang raja diperlakukan sebagai pangeran (prince/princes) yang selalu menjadi berita, diberikan “privilege” dan dihormati dimana-mana. Layaknya seorang raja, ia perlu membangun lingkaran-lingkaran yang teridiri dari para punggawa setia untuk mengamankan dan menyamankan kedudukannya. Bahkan sang Presiden Raja memiliki beberapa penasehat spiritual dan perlu “lelaku” untuk menjaga kewibawaannya.
Bukankah dahulu Pak Amin Rais banyak disebut orang sebagai “the King maker” yang berhasil menempatkan Gus Dur menjadi Presiden menggantikan Pak BJ Habibie?. Sebutan ini benar, dan benar-benar “bener” menempatkan Gus Dus sebagai Presiden Raja yang memerintah dari Istana Merdeka. Bahkan ada sebuah stasiun Televisi yang menayangkan program “Menuju Istana” bagi calon Presiden Raja yang hendak bertahta.
Bagi Presiden Raja, telah tersedia pula Istana persinggahan untuk keluarga dan kerabat kerajaan kepresidenan. Ada Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Tapak Siring siap dikunjungi untuk besantai.
Istana (palace) adalah tempat raja,ratu atau kaisar – house of emperor. Jika ada yang mengatakan bahwa sebutan “istana” hanyalah istilah, maka apakah hanya tersedia “satu istilah” yang layak dan pantas bagi seorang Presiden yang benar-benar mempresideni Negara ini – istana?. Man act upon his words and verbal behavior show the color of his character.
InsyaAllah masih ada sinar mentari di tanggal 8 Juli.
Silahkan mencontreng wajah Presiden Raja, setengah Presiden setengah Raja atau Raja yang jadi Presiden – Selamat menikmati puncak kreatifitas demokrasi yang berseni.
Tempat tinggal orang miskin disebut gubug, orang yang sangat miskin di ‘gubug reyot’. Tempat tinggal orang kota yang mulai kaya yang bertumpuk-tumpuk yang disebut apartemen. Tempat tinggal orang kota tidak kaya yang juga bertumpuk-tumpuk disebut ‘rumah susun sederhana’. Tempat tinggal orang bijak yang mengajarkan kebajikan menyebutnya ‘padepokan’. Dan tempat tinggal seorang raja disebut “istana (palace)”.
Ratu-ratu dan raja-raja di dunia selalu tinggal di istana.
Indonesia tersurat sebagai Negara dalam tatanan Republik, seperti Amerika Serikat dimana Presiden disebutkan sebagai kepalanya. Indonesia serupa dengan Amerika Serikat, yang berputar melingkar dalam “orbit demokrasi” ketika menjalankan tata pemerintahannya. Serupa dan memang berbeda!.
Pusaran orbit demokrasi Amerika terbatas lagi monoton. Terbatas hanya dua partai – tak ada pilihan lain. Hanya dengan dua partai ini, berdemokrasi di Amerika sesungguhnya lebih mudah dan lebih murah. Dan ketika seorang Presiden sudah terpilih, sang Presiden ini hanya bertempat tinggal di “rumah putih (white house)”.
Ke-Indonesia-an adalah kreatifitas. Walaupun demokrasi yang berlaku saat ini adalah hasil contekan, namun kreatifitas politisi Indonesia mampu membuat demokrasi yang monoton dan membosankan jadi semarak dan mengesankan. Orang Amerika tidak serius dalam “pesta (party)”, karena orbit demokrasinya hanya diramaikan hanya oleh dua partai (dual parties). Demokrasi Amerika adalah demokrasi pelit, sepi dan membelenggu hak azasi. Bagi politisi Indonesia sebuah pesta harus semarak, tak pelit, sedikit genit dan tak perlu ‘ngirit’, makin banyak partai makin bergengsi. Para politisi Indonesia memang “serius pesta”. Sebuah pesta harus meriah dan megah. Tak perlu irit, walupun ‘ngutang’ mereka tak sayang uang. “Wong untuk rakyat kok sayang uang!. Biar hutang besar yang penting bukan saya yang bayar! Biar banyak hutang yang penting nampang!” kira-kira begitu (politisi memang paling suka kira-kira).
Sejak merdeka di tahun 1945, Indonesia diperintah oleh seorang Presiden yang “dirajakan” oleh rakyatnya sendiri. Presiden Raja ini berkuasa dan bertahta di istana – Istana Merdeka. Sang Raja didampingi oleh permaisuri (kadang ada selirnya juga) yang dinobatkan sebagai “Ibu Negara”. Dan anak-anak sang raja diperlakukan sebagai pangeran (prince/princes) yang selalu menjadi berita, diberikan “privilege” dan dihormati dimana-mana. Layaknya seorang raja, ia perlu membangun lingkaran-lingkaran yang teridiri dari para punggawa setia untuk mengamankan dan menyamankan kedudukannya. Bahkan sang Presiden Raja memiliki beberapa penasehat spiritual dan perlu “lelaku” untuk menjaga kewibawaannya.
Bukankah dahulu Pak Amin Rais banyak disebut orang sebagai “the King maker” yang berhasil menempatkan Gus Dur menjadi Presiden menggantikan Pak BJ Habibie?. Sebutan ini benar, dan benar-benar “bener” menempatkan Gus Dus sebagai Presiden Raja yang memerintah dari Istana Merdeka. Bahkan ada sebuah stasiun Televisi yang menayangkan program “Menuju Istana” bagi calon Presiden Raja yang hendak bertahta.
Bagi Presiden Raja, telah tersedia pula Istana persinggahan untuk keluarga dan kerabat kerajaan kepresidenan. Ada Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Tapak Siring siap dikunjungi untuk besantai.
Istana (palace) adalah tempat raja,ratu atau kaisar – house of emperor. Jika ada yang mengatakan bahwa sebutan “istana” hanyalah istilah, maka apakah hanya tersedia “satu istilah” yang layak dan pantas bagi seorang Presiden yang benar-benar mempresideni Negara ini – istana?. Man act upon his words and verbal behavior show the color of his character.
InsyaAllah masih ada sinar mentari di tanggal 8 Juli.
Silahkan mencontreng wajah Presiden Raja, setengah Presiden setengah Raja atau Raja yang jadi Presiden – Selamat menikmati puncak kreatifitas demokrasi yang berseni.
Fareed Zakaria, editor of Newsweek International, last week examined the global economic crisis and the accompanying angst over the future of capitalism. In a wide-ranging essay titled “Greed is Good: Up to a Point” Zakaria concluded with this observation about the difference between law and ethics as it applies to capitalism: “Most of what happened over the past decade across the world was legal. Bankers did what they were allowed to do under the law. Politicians did what they thought the system asked of them. Bureaucrats were not exchanging cash for favors. But very few people acted responsibly, honorably or nobly (the very word sounds odd today). This might sound like a small point, but it is not. No system — capitalism, socialism, whatever — can work without a sense of ethics and values at its core. No matter what reforms we put in place, without common sense, judgment and an ethical standard, they will prove inadequate.”
GenEtika Society's Notes
Make A DecisionOct 13, 2009
Terima Kasih: Engkau Jadikan Aku RajaJul 6, 2009
Editor's Note - June 2009Jun 30, 2009
Pemimpin RakyatJun 8, 2009
No Worry On WarJun 8, 2009
UNCONVENTIONAL BUSINESS IDEASMay 3, 2009
Catatan Redaksi -April 2009-Apr 29, 2009
The Hierarchy of PresentationsApr 29, 2009
The End of PhilosophyApr 7, 2009










