Komunitas Kenduri Cinta
Merangkai Nilai Merajut Makna
Information
Founded:
2000
Fans

6 of 1,716 fansSee All

Sumur Cinta
Manusia hidup dari hatinya. Manusia bertempat tinggal dihatinya. Hati adalah sebuah perjalanan panjang. Manusia menyusurinya, menuju kepuasannya, kesejahteraannya, kebahagiaannya, dan Tuhannya. Berbagai makhluk menghalanginya, terkadang, atau sering kali, dirinya sendirilah yang merintanginya.
Events

14 past eventsSee All

 
Jamaah atau Jemaah Maiyah

Sebutan Jamaah atau Jemaah ini tidak benar-benar bergerak secara institutif sebagai kelompok eksklusif tertentu. Jemaah ini secara rutin berkumpul dalam forum bersama Cak Nun ( Emha Ainun Nadjib ). Acara ini mungkin bisa dibilang pengajian, tapi standar yang biasa ditemui dalam sebuah acara pengajian tidak benar-benar menjadi dominan. Sebab di dalamnya lebih banyak mengajarkan semangat hidup, sikap toleran dan hidup bersama dalam kontribusi kebaikan. Jadi boleh juga dibilang bahwa Jemaah Maiyah tidaklah identik sebagai sekumpulan orang Islam saja. Malah seringkali hadir dalam pengajian ini tokoh2 lintas Agama, Aliran, Suku Bangsa, Etnik, LSM, Mahasiswa dalam dan luar negeri, dan lain-lain. Nuansanya sangat berbudaya dan tidak juga serta-merta menjadi sinkretisme.
Kenduri Cinta

Beberapa orang yang pernah hadir dalam acara ini antara lain, Gus Dur, Mbah Surip, Ebiet G Ade, Ari Lasso, Ahmad Dhani, Muhammad Nuh , Permadi , Ian L Betts , dan masih banyak lagi.

Bahkan banyak kejadian unik, salah satunya hadirnya orang gila yang akhirnya bisa sembuh di salah satu acara Jemaah Maiyah. Dengan gaya bicara khasnya, Cak Nun bilang “Acara ini bukan acara khusus untuk orang Islam, tapi untuk semua manusia yang Islam dan yang tidak Islam, Manusia waras dan manusia yang tidak waras, bahkan Jin, Setan, Dhemit, Gendruwo, kalau memang berminat untuk jadi baik akan disambut dengan tangan terbuka”.

Jemaah Maiyah memang tidak bisa melepaskan diri dari Cak Nun sebagai figur panutan. Tapi pengkultusan bukan menjadi ideologi masal di Jemaah Maiyah. Jadi meskipun Cak Nun tidak bisa hadir di dalam acara, tetap saja acara bisa berlangsung dengan baik


Sejarah singkat

Maiyah lahir pada malam menjelang akan digelarnya Sidang Istimewa MPR 2001, tepatnya pada tanggal 31 Juli 2001, sementara di Jakarta suhu politik semakin memanas, Emha secara khusus menggelar acara “Sholawatan Maulid” di kediamannya bersama sahabat-sahabatnya Kiai Kanjeng untuk mensikapi situasi politik yang semakin tidak menentu.

Kegiatan semacam ini sebelumnya sudah sering digelar namun belum menggunakan kata-kata Jamaah Maiyah, sebab hanya berupa kegiatan pengajian yang tidak hendak menekankan pada eksistensi substansif. Dalam perkembangannya sebutan Jamaah Maiyah tetap dipertahankan nilai esensialnya bukan mengacu pada kelompok, golongan, ataupun aliran. Pendekatan dengan nama Jamaah Maiyah lebih bertujuan sebagai bentukan kebersamaan meraih semangat bertahan hidup bahwa Allah berada pada setiap nafas kehidupan.

Di hadapan sahabat-sahabat setianya itu, Emha memberi ilmu dan hikmah, bahwa rakyat Indonesia semakin tidak mendapat jaminan apapun dari negara dan pemerintahnya. Nyawa dan keamanan hidupnya tidak dijamin oleh kepolisian, kedaulatan negerinya tidak dijamin oleh tentara, kesejahteraan ekonominya tidak dijamin oleh produsen-produsen budaya serta media massa. Bahkan Indonesia secara transparan mempertunjukkan politik iblis, industri iblis, budaya iblis. Artinya apa yang sehari-hari diperoleh oleh masyarakat adalah hal-hal yang memusnahkan kemandirian ekonominya serta memerosotkan akhlak kebudayaannya.

Maka Emha kemudian mengajak, untuk membangun sendiri negeri-negeri di dalam dirinya, negeri kemandirian dalam kebersamaan, yang dilukiskannya sebagai lingkaran, yang kemudian disebut sebagai Lingkaran Maiyah atau Lingkaran Kebersamaan, suatu kumpulan sebagian rakyat Indonesia yang bergandengan tangan untuk semaksimal mungkin memerdekakan dirinya dari keadaan-keadaan yang membahayakan.

Maiyah yang berarti kebersamaan, pertama melakukan apa saja bersama Allah. Kedua bersama siapa saja mau bersama. Maiyah bisa berarti komitmen nasionalisme, kedewasaan heterogenisme, kearifan pluralisme, dan tidak ada kesenjangan ekonomi. Maiyah sendiri secara “kata” muncul dari untaian hikmah yang disampaikan oleh Ustadz Wijayanto, MA, di tengah-tengah acara internal itu, dengan menyebut beberapa kalimat : “Inna ma’iya rabbi”, menirukan Musa AS. Untuk meyakinkan ummatnya bahwa Allah ada bersamanya. “La takhaf wa la tahzan, Innallaha ma’ana”, Jangan takut jangan sedih, Allah bersama kita. Tutur Muhammad SAW, tatkala dikejar-kejar oleh pasukan musuh, untuk menghibur dan memelihara iman Abu Bakar.

Maka di dalam Maiyah, Emha dan Kiai Kanjeng tidak memfokuskan kegiatannya pada musik dan kesenian, melainkan proses dan komunikasi sosial yang komprehensif. Emha dan Kiai Kanjeng berkeliling Indonesia untuk menumbuhkan spiritualitas manusia, melalui sholawat, wirid, dan doa, untuk pencerdasan pikiran masyarakat, untuk mengajak membangun kemandirian, dan untuk menawarkan alternatif kebudayaan yang tidak membahayakan jiwa masyarakat, tetapi bergembira dan diridhoi Allah di dunia dan akhirat.

Dulu Emha dan Kiai Kanjeng pentas dan diletakkan di panggung. Mereka ditonton oleh penonton, dalam Maiyah tidak berada dipanggung dan tidak ditonton oleh siapapun. Dulu berpakaian hitam-hitam, dalam Maiyah mereka berpakaian putih-putih, yang tidak untuk menunjukkan bahwa mereka sudah putih melainkan agar terdorong untuk putih. Mereka duduk melingkar, menciptakan lapisan-lapisan lingkaran berikutnya, tidak mempertunjukkan musik dan suaranya kepada penonton, Emha dan Kiai Kanjeng hanya bernyanyi, bersholawat, berwirid, membaca puisi atau apapun dengan membawa kesadaran bahwa yang dihadapan mereka adalah Allah.


Maiyah Dan Alunan Bunyi

Kenapa Shalawatan, wiridan, berdzikir, mengaku dosa kok pakai musik? Karena manusia itu khalifatullah, mandataris yang ditunjuk oleh Allah untuk mengurus dirinya sendiri dan alam semesta. Khalifah itu pengelola. Manager, Direktur kehidupan. Eksekutif, badan pelaksana.

Para khalifah alias direktur-direktur ini menentukan apakah saron dibunyikan untuk mengiringi tayuban ataukah untuk memperindah pernyataan cinta kepada Allah. Mereka yang mengambil keputusan apakah biola digesek, kibor dipencet, seruling ditiup, perkusi ditabuh, terbang ditampar – untuk memeriahkan tarian atau lagu-lagu yang tidak terjamin keamanannya di depan pandangan nilai Allah, ataukah dipakai untuk memperasyik lagu puja-puji atas keagungan Allah. Tentu saja, asalkan jangan lantas orang azan diiringi biola, orang sholat ditabuhi pakai gendang, orang thawaf diiringi genderang massal. Maiyah bukan ibadah makhdloh. Ia hanya kegiatan budaya yang menggali inspirasi dari Agama. Ia hanya mereligiouskan perilaku budaya. Ia hanya aktivitas sosial budaya yang tidak merelakan dirinya kalau hanya diperuntukkan buat yang bukan Allah. Karena sabbaha lillahi ma fis samawati wa ma fil ardli, seluruh mahluk yang dilangit dan dibumi ini bertasbih kepada Allah. Dan para khalifah Kiai Kanjeng tahu, bahwa yang bertasbih kepada Allah itu bukan hanya Jin dan manusia, tapi juga benda-benda, saron, biola, seruling, terbang, bahkan capung, rumput, daun-daun kering. Bukankah Allah tidak menggunakan kata man fis samawati, melainkan ma fis samawati?


Etimologi Maiyah

“Inna ma’iya rabbi”, tutur Musa, Nabi ‘alaihissalam, untuk meyakinkan ummatnya bahwa Allah ada bersamanya. Muhammad Rasulullah saw, juga menggunakan kata yang sama – di gua Tsur, tatkala dikejar-kejar pasukan musuh – untuk menghibur dan memelihara iman Abu Bakar, sahabat beliau, Sayyid kita radiallahu’anhu : “La takhaf wa la tahzan, innallaha ma’ana”. Jangan takut jangan sedih, Allah ada menyertai kita.

Jadi, asal usulnya dari ma’a. Artinya, dengan, bersama, beserta. Ma’iyatullah, kebersamaan dengan Allah. Ma’iyah itu kebersamaan. Ma’ana bersama kita. Ma’iya, bersamaku. Lantas kata-kata dan bunyi Arab itu ‘kesandung’ oleh lidah etnik kita menjadi Maiya, atau Maiyah, atau Maiyahan.

Sedikit argumentasi dengan kata kebersamaan. Mengenai Ibu Bapakmu, hal anak cucu para keponakan dan sanak famili, tentu kau ucapkan inna ma’iya, sesungguhnya (mereka) bersamaku. Bersamaku artinya bukan ke mana-mana ubyang-ubyung bareng, makan bareng, mandi bareng. Maknanya substansial, haqiqiyah. Kalau engkau bersamaku berarti engkau adalah bagian dari hatiku. Engkau adalah salah satu serat-serat dari struktur perasaanku. Kalau engkau riang, aku gembira. Kalau engkau berduka, aku menderita. Kalau engkau disakiti, aku mengaduh. Kalau engkau disengsarakan, aku menangis. Kalau engkau ditimpa masalah, itu juga masalahku. Kalau engkau memerlukan, aku mengupayakan pemenuhan. Kalau engkau membutuhkan, aku mengusahakan keberesan. Engkau dan aku sayang menyayangi, kasih mengasihi, tolong menolong, bela membela satu sama lain.


Maiyah dan Nilai Sosial

Kepada teman-teman, kepada para tetangga, kepada sesama ummat, masyarakat, warga negara, sesama manusia, apapun saja sukunya, bangsanya, golongannya, kelompoknya, organisasinya, kepercayaan dan pendapatnya – tidak layakkah, atau bahkan tidak seyogyanyakah, atau siapa tahu tidak haruskah – engkau dan aku ucapkan dan ikrarkan juga : inna ma’iya, sesungguhnya mereka semua ada bersamaku, dan sesungguhnya aku ada bersama mereka? Kiai Kanjeng berkeliling ke mana-mana, menembus berbagai sisi, segmen, lapisan, golongan, kelompok, wilayah, daerah dan jenis sosiologis masyarakat untuk menumbuhkan pertanyaan dan kesadaran inna ma’iya semacam itu.

Adakah dengan tetanggamu, masyarakat dan bangsamu, engkau tidak bersedia tolong menolong, melainkan ancam mengancam? Tidak bersedia saling setia, melainkan saling khianat? Tidak mau saling membela, melainkan saling menghancurkan? Tidak siap saling ikhlas, melainkan tidak saling rela? Tidak saling mengharapkan kebahagiaan bagi yang lain, melainkan diam-diam mensyukuri penderitaan mereka?


Sudut Bahasa

Bahasa kenegaraan Maiyah itu nasionalisme. Bahasa mondialnya universalisme. Bahasa peradabannya pluralisme. Bahasa kebudayaannya heterogenisme, atau kemajemukan yang direlakan, dipahami dan dikelola. Metoda atau manajemen pengelolaan itu namanya demokrasi.

Bahasa ekonominya Maiyah adalah tidak adanya kesenjangan penghidupan antara satu orang atau suatu kelompok dengan lainnya. Tapi ini terlalu ideal dan utopis : jadi mungkin lebih realistis kita pakai ungkapan Maiyah adalah proses dinamisnya menyempitnya atau mengecilnya jarak atau kesenjangan penghidupan di antara manusia. Diproses secara sistem – kolektif jangan sampai ada yang terlalu kaya sementara lainnya terlalu fakir. Kadar Maiyah semakin tinggi dan kualitatif berbanding lurus dengan semakin mengecilnya kesenjangan itu.

Di dalam teori Maiyah nasionalisme, selalu ditemukan ada banyak pihak, ada banyak wajah, ada banyak warna, ada banyak kecenderungan dan pilihan. Masing-masing pilihan itu menggunakan warnanya sendiri-sendiri, wajahnya sendiri-sendiri dan kecenderungannya sendiri-sendiri. Setiap ika (tunggal) menghidupi dan menampilkan dirinya masing-masing, sehingga pada semuanya tampak sebagai bhineka (beragam). Berbagai perbedaan itu tidak membuat mereka berperang satu sama lain, karena diikat oleh prinsip ke-ika-an, yakni komitmen kolektif untuk saling menyelamatkan dan menyejahterakan.

Demikianlah berita gembira berdirinya Republik Indonesia dulu sikap Maiyah diantara berbagai pilihan itu adalah untuk saling menyetorkan kebaikan dan kemashlahatan untuk semua.

Di era sejarah bangsa Indonesia yang mungkin masih bertahan hingga saat ini, yakni berlangsung policy politik nasional atau strategi kebudayaan di mana para ‘masing-masing’ itu dilarang menunjukan kemasing-masingannya. Maksudnya baik, orang jangan menonjolkan siapa dirinya, bagaimanna wajahnya dan apa warnanya. Semua disatukan, diseragamkan, identitas masing-masing disembunyikan semaksimal mungkin. Bila demikian maka masih berprinsip Tunggal Ika.

Maiyah berusaha merealisasikan Bhineka Tunggal Ika. Yang Batak omonglah dengan logat Batak. Yang Bugis ya dialek Bugis. Yang Madura ya cengkok Madura. Tak ada perlunya ditutup-tutupi, sepanjang ada kesepakatan untuk saling melindungi, saling menyayangi dan memproses tujuan kebahagiaan bersama. Yang Budha , berpakaianlah Budha . yang Katholik , Katholiklah. Yang Islam Islamlah. Om swastiastu tak usah diganti Padamu Negeri. Heleluya tak usah diganti Tanah Tumpah Darahku. Shalatullah salamullah tak usah diganti Ibu Kita Kartini. Heterogenitas itu cukup dijaga oleh satu prinsip : saling memperuntukkan dirinya bagi kebersamaan. Itulah Maiyah.


Lingkaran Maiyah

Dulu Kiai Kanjeng pentas dan diletakkan di panggung. Mereka ditonton oleh penonton. Kiai Kanjeng yang bermaiyah tidak berada dipanggung dan tidak ditonton siapa-siapa. Mereka duduk melingkar, sehingga terserah orang lain akan bergabung menciptakan lapisan-lapisan lingkaran berikutnya atau tidak. Kiai Kanjeng tidak mempertunjukan musik dan suaranya kepada penonton. Mereka hanya bernyanyi, bershalawat, berwirid, membaca puisi, atau apapun, tetapi yang ada di hadapan mata kesadaran mereka adalah Allah swt. Maka pada kebanyakan momentum selama ber-maiyah, hampir tak seorangpun di antara mereka yang tidak memejamkan mata. Karena mata wadag hanya sanggup melaporkan penglihatan tentang hal-hal yang sepele: materi, benda-benda, gedung-gedung, lembaran-lembaran uang, kecantikan wanita dan kegantengan lelaki, menara pencakar langit. Dan itu semua bersifat sementara dan sangat gampang hancur.

Jemaah Maiyah serak-serak suaranya untuk Allah. Habis bunyinya untuk mencintaiNya. Bernyanyi, membunyikan alat musik, berkeringat, untuk memelihara hubungan baik dengan Allah. Karena Allah sebagai pengasuh, penyantun, tempat bergantung – tidak bisa diperbandingkan dengan polisi, tentara, menteri ekuin, presiden, pemerintahan, konglomerat, distribusi modal atau apapun saja yang dituhankan oleh sangat banyak orang. Allah berjanji kepada para kekasihnya untuk menjalankan empat fungsi, asalkan oleh para kekasihnya dibeli dengan taqwa dan tawakkal.

* Peran pertama, Allah sebagai pemberi jalan keluar, solusi atas apa saja : coba sebut satu masalah yang Allah tidak sanggup menyelesaikannya!

* Peran kedua, Allah sebagai penabur rizqi melalui jalan, cara, metoda dan modus yang semau-mau Dia, sehingga para kekasih Nya tidak bisa menduga atau memperhitungkannya. Para kekasih Allah tinggal terima jadi, terima matang – anugrah rejeki yang mereka beli dengan ‘mata uang’ taqwa dan tawakkal. Ah, apa sih taqwa? Rindukan Allah kapan saja. menjadikan Allah sebagai tuan rumah batin kita. Tawakkal adalah taqwa yang diperdalam ditancapkan dihujamkan terus menerus.

* Peran ketiga, Allah sebagai manager dan akuntan. Kalau berasmu menipis, jangan memfitnah dan menganggap Allah bersikap acuh tak acuh atas keadaan dapurmu itu. Ia managermu, ia atur nafkahmu, ia jamin penghidupan keluargamu. Engkau cukup menyetor taqwa dan tawakkal.

* Peran keempat, Allah adalah menjadi humasmu, public relation-mu. Keperluanmu atas seseorang atau suatu pihak, kebutuhanmu terhadap akses ini atau itu, disampaikan oleh Allah kepada yang bersangkutan. Engkau cukup memberi ‘honor’ taqwa dan tawakkal.


Padhang Mbulan dan Induk Jamaah Maiyah

Bermula dari keinginan untuk “memaksa” agar Emha dapat selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung, minimal satu bulan sekali, juga untuk mengantisipasi banyaknya undangan pengajian di Jawa Timur, ketika itu tahun 1992, berlangsung pertemuan keluarga di Jogjakarta, yang akhirnya memutuskan bentuk dari keinginan itu adalah dengan rutin menggelar pengajian, yang oleh Emha diberi nama pengajian Padhang mBulan.
PadhangMbulan

Hingga akhirnya Padhang mBulan berkembang sebagai wahana komunikasi sosial dan workshop sejarah yang merangkum hampir seluruh dimensi nilai aktual yang dialami oleh komunitas yang digelutinya.

Muatan Padhang Mbulan bermacam-macam dan terbuka untuk segala upaya kebaikan dan kebenaran manusia, ia bermuatan spiritual, dialektika ilmu sosial, ilmu hidup, informasi dan pendidikan politik. Karena di Padhanag Mbulan itu berlangsung dialog tentang berbagai persoalan masyarakat mulai dari harga pupuk, tukang blandong dan elit politik, sehingga Padhang Mbulan dengan jamaah maiyahnya bukan saja sekedar peristiwa pengajian tetapi sudah menjadi nilai di dalam masyarakat.

Di setiap Padhang Mbulan, Emha selalu menyatakan bahwa jamaah maiyah ingin membantu Indonesia, minimal tidak merepotkan, tidak mengharap apa-apa, tidak meminta atau memimpikan serta tidak kaget oleh apapun yang dialaminya. Ketika Emha dan Kiai kanjeng lebih banyak menggunakan metode maiyah, Padhang Mbulan-pun menjadi pusat silaturahmi dan komunikasi bagi semua jaringan jamaah Maiyah, terutama dari Jawa Timur dan sekitarnya.


Macapat Syafaat, Hatinya Jamaah Maiyah

Macapat syafaat adalah kegelisahan Emha dan cara Emha untuk menyapa Jogja, sekaligus merespon kondisi masyarakat Jogjakarta, yang juga merupakan “Padhang Mbulan-nya” Jogja. Sehingga yang ditawarkan acara ini adalah spiritualitas, estetika dan kemesraan kemanusiaan. Dialektika intelektual hanya berposisi subordinatif terhadap langit spiritualitas, karena rasionalitas memang hanya kulit ari dari arasy spiritualitas, atau karena akal yang diwacanakan oleh Al-Qur’an tidaklah identik dengan otak, rasio atau intelektualitas. Sholat, dzikir dan sholawat.
Macapat Syafaat

Acara yang diselenggarakan tiap tanggal 17 masehi ini lebih banyak dipakai oleh Emha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari jamaah atau merundingkan masalah apa saja dengan keadilan berpikir dan kejernihan hati, sehingga ia tidak perlu berceramah sebagaimana di acara yang lain. Emha memuncaki acara ini dengan mengajak bersama-sama untuk sholat, wiridan, sholawatan dan do’a.

Selain Padhang mBulan dan Macapat Syafaat, acara serupa juga dikenal sebagai Gambang Syafaat di Semarang, Kenduri Cinta di (Jakarta), Bangbang Wetan di Surabaya, dan beberapa kali secara tentatif di berbagai kota di Indonesia, misal: Papparandang Ate di (Tinambung, Mandar, SulSel), Tali Ka Asih di (Bandung), Obor Ilahi di (Malang).

*) Diposting kembali dalam rangka menyambut Haflah Maiyah Se-Nusantara 2009

Pengkajian Bulanan Komunitas Kandank Jurank Doank


"Kembali Membumi"





Hari/Tanggal: Sabtu, 02 Januari 2010
Pukul : Ba'da Isya

Tempat : Komp. Pondok Sawah Indah (Alvita). Blok Q No. 14. Ciputat, Jakarta
Hiburan: Seluruh anak-anak Komunitas Kreativitas KJD Kolaborasi teater, paduan suara, multimedia, perkusi, gitar, tari, musik. (Sabrang dan dikDOANK)


contact person: Arista: 0898 9948876, KJD Office, Telp : (021) 74631934





Panduan Arah:
Pondok indah lurus 'arah' Ciputat, putar balik di UIN, masuk Kampung Utan, lurus terus lewati Mesjid, lalu balik kiri namanya jalan Kompas. Terus sampai ada Prapatan lurus arah Kampung Sawah. Lewati Pom Bensin, nanti ada bacaan Kandank Jurank Doank.

“Anak-anak perlu bermain di bawah sinar rembulan, sebelum mereka tumbuh besar dan mampu menagkap alam semesta”.



Ditulis Oleh: Sabrank Suparno

I. Pangkal Tombak Maiyah

Nama lengkap saya Sabrank Suparno. Dari Dowong Ds Plosokerep, Sumobito, Jombang (±4 km) arah selatan pendhopo padhang mbulan. Idiom masyarakat nJombang sering menyebut dengan istilah “arek kidule kali”. Sedangkan rumpun Desa Menturo ke Barat dan Utara, acap kali di sebut “arek lore kali”.

Alhamdulillah sebagaimana anda, saya sudah tertarik seluruh ion-ion atom dalam diri saya (hembusan niat, energi untuk berangkat, dan diselamatkan dalam perjalanan) oleh Alloh ke gravitasi pengajian padhang mbulan sejak tafsir alfatihah tekstual (oleh Cak Fuad) dan tafsir kontekstual (oleh Cak Nun). Saya adalah salah satu peserta workshop penulisan yang dilaksanakan tanggal 2-4 Oktober 2009 di pendhopo padhang mbulan Menturo Sumobito Jombang. Workshop ini berkaitan erat dengan kemenangan buku memaknai maiyah yang saya tulis dengan judul 1. Rembulan Cincin Kawin Dunia, dan 2. Negeri Rosul Seluas Sajadah.

Jika ditinjau dari teori universal kosmopolit, dimana satu manusia saja di muka bumi ini merupakan bagian dari komponen alam semesta, maka saya menawarkan diri untuk anda tegur sapa, jabat tangan, dan atau jalin kerja sama, saling membantu satu sama lain, baik moral ataupun intelektual. Tentu saja dalam batas-batas kesanggupan masing-masing, dalam koridor saling menyelamatkan dan saling mengamankan baik dalam skala individu ataupun kolektif berumat, berbangsa, bernegara, dan bahkan dunia.


II. Busur Tombak Maiyah

Secara keseluruhan yang disebut maiyah adalah orang-orang yang terlibat secara langsung ataupun tak langsung bertemu ruas kutub keilmuannya dalam satu ide, prinsip dan gerakan yang sama. Yakni mengedepankan energi kebaikan dengan cara kebersamaan. Kebaikan yang dimaksud adalah kebaikan dengan takaran hukum yang dapat dipertanggung jawabkan di hadapan ummat manusia, alam semesta dan Tuhan YME. Adapun awal gerakan maiyah ini diprakarsai Emha Ainun Najib sekeluarga. Barulah setelah itu berkembang merebak ke delapan penjuru mata angin skala Nasional dan dunia. I’tikad untuk melangsungkan gerakan inilah yang kemudian lehir istilah “jam’iyah maiyah (berkumpul dengan rasa kebersamaan). Bersama dengan siapa? Pertama bersama dengan antar manusia, kedua bersama dengan para Nabi dan Rosul, ketiga bersama dengan alam semesta, dan yang terakhir bersama dengan sang pemilik tunggal saham kehidupan yakni Allah SWT.

Dalam peperangan abadi hidup ini untuk mengalahkan kebodohan, menguak kebuntuan, menyibak ketidak cermatan dalam menyikapi ketimpangan hiruk-pikuk keadaan yang acap kali menyeret kita ke jurang kenistaan terbukti Jam’iyah maiyah mampu tampil eksis menjawab kebutuhan sejarah peradaban ummat. Seluruh jama’anya tidak hanya beku di puncak obsesi fiktif. Akan tetapi cair energik dalam gerakan aktif yang akhirnya berpuncak pada target-target sektoral finansial. Sebagai contoh kasus Lapindo misalnya. Jamaah ini mampu menyelesaikan dengan tepat dan damai. Padahal sejarah mengetahui kalau kasus Lapindo jelas tidak mampu diselesaikan secara birokratif. Justru malah berbelit melilit lingkar jika diselesaikan oleh para birokrat. Lantas apa sebabnya jamaah maiyah mampu merampungkannya?? Jawabannya sederhana! Karena teori yang diterapkan dalam jamaah maiyah adalah mainset keikhlasan tanpa pamrih. Dengan konsesi jargon : “jangan menjadi pengemis di pintu alam, tapi bergeraklah memperbarui alam”. Jargon inilah yang menjadi sumber “engine power” jamaah maiyah untuk optimis melangkah membuka pintu diantara beberapa jendela. Keberhasilan semacam ini harus dilebarkan lebih intensif dan profesional.


III. Ujung Tombak Maiyah

a. Maiyah sebagai gerakan menulis

Gerakan maiyah ini sudah berjalan cukup lama. Di bawah naungan Padhang Mbulan saja sudah berjalan ± 15 tahun. Dalam kurun dekade ini banyak hal yang terjadi berkaitan dengan kejadian nyata, perilaku mejik, serta ketajaman intelektual yang tiba-tiba mencuat. Bahkan kejadian tersebut kadar kwalitasnya layak untuk dijadikan rumus-rumus baru dalam kehidupan. Ada juga segmen pola pikir yang dapat dijadikan dasar hukum, baik sar’i dan haqikoti. Alangkah mubadzirnya jika semua ini tidak terdokumentasikan dengan detail! Memang ada beberapa anggota yang merekam kegiatan jama’ah ini. Tetapi acapkali jadi pertanyaan baru yang tumpang tindih berganti. Seberapa efektifkah kegiatan pendokumentasian dari beberapa anggota baik CD, shooting atau yang lainnya bagi jama’ah? Apalagi untuk disebarkan ke masyarakat luas yang belum mengetahui kegiatan ini.

Kita perlu berfikir ulang dari semua pihak yang terlibat, khususnya para jama’ahnya. Seri berikutnya yang terpenting setelah menejemen pelaksanaan adalah terbentuknya menejemen pendokumentasian. Agar kesan yang ditimbulkan oleh gerakan besar maiyah bukanlah hanya sekedar aktifitas yang “nguyahi segoro”. Yakni sebuah acara berproses pada datang, mendengarkan, dan akhirnya bubar. Padahal di sisi lain, kadar pemikiran Cak Nun terkadang tidak termuat dalam ruang otak pendengarnya. Nahhh…..alangkah tepatnya jika setiap moment acara ini berlangsung, ada beberapa orang yang merangkum, mengedit, dan kemudian mencetak dalam bentuk tulisan. Yang pada saat senggang dapat dijadikan bahan kajian ulang oleh anggota jama’ah!!

b. Membentuk literasi maiyah

Hasil pendokumentasian tulisan tersebut kemudian dicarikan formula alternatif yang sewaktu-waktu dapat dijadikan acuan jama’ah yang lain untuk bahan telaah. Minimal dibentuk mini meding. Supaya terjangkau bagi jama’ah maiyah yang belum mampu bergerak di dunia internet. Dalam skala besar dibentuk sampai ke tingkat Bloger atau Google.

Litarasi maiyah ini bisa bersifat “out Kontribution” (kontribusi keluar) dan in Kontribution. Kontribusi keluar adalah literatur yang diserap dan di lahirkan maiyah di taruh sejajar dalam literatur luar semisal, toko buku, perpustakaan dan lain-lain untuk menambah kehasanah perbukuan dunia pendidikan. Sedangkan yang dimaskud literasi dalam adalah pemasokan buku-buku karya tulis dari luar maiyah ditaruh sejajar dengan buku khusus maiyah. Buku yang dipasok dari luar berfungsi menambah wawasan yang berhubungan dengan maiyah, dan atau juga bisa sekedar menghantarkan pemahaman ke literatur buku yang dirumuskan maiyah. Dalam hal ini minimal semua anggota jama’ah maiyah berkomitmen membikin semacam laboratorium pustaka. Lantas bagaimanakah target pembentukan laboraturium ini bisa tercapai ? Solusi yang paling mudah adalah bila setiap jama’ah yang mempunyai buku, merelakan menanam saham bukunya untuk meletakkan di perpustakaan maiyah.

c. Mewujudkan jama’ah yang progresif

Dari seluruh uraian di atas dapat kita tarik sebuah pemetaan yang meliputi identifikasi setiap jama’ah yang di tarik berdasarkan garis lajur kadar pendidikan dan kreatifitas personalnya. Maka kita temukan minimal 2 hal. Pertama : ada jama’ah maiyah yang hanya mampu datang dan mendengarkan, kedua: ada juga jama’ah yang mampu berkreatifitas membukukannya dalam tulisan. Pembauran kedua corak jama’ah ini berlangsung terus menerus dalam setiap pertemuan. Peristiwa adhesiv inilah yang akan mewujudkan kekuatan corak dan warna baru dalam literatur maiyah. Dimana jama’ah yang tidak mampu menulis bersedia menceritakan pengalaman hidupnya kepada jama’ah yang mampu menulis. Sebab dimungkinkan pengalaman jama’ah yang tidak bisa menulis mempunyai wawasan ilmu dahsyat dibanding yang mampu menulis. Proses inilah yang akan melahirkan bentuk hegemoni baru dalam sejarah penulisan. Dimana sebuah karya diangkat dengan bahan dasar riset yang detail dari pori-pori file otak masyarakat. Libih obyektif empiris dari pada buku yang dilahirkan atas penulis individu.

Jama’ah maiyah ini adalah gerakan besar, tentu idealnya para penulis jama’ahnya harus menghasilkan karya yang berbobot, dan tidak sekedar buku pinggiran jalan. Untuk mewujudkan jama’ah maiyah yang progresif bukanlah hal yang sulit. Asalkan antar anggota jama’ahnya bersama-sama bergandengan tangan untuk satu tekat, yakni meninggalkan suatu tanda bahwa pernah adanya tampilan sejarah pada anak cucu negara ini kelak.

Para penulis jama’ah inilah yang kita ibaratkan ujung mata tombak. Mereka adalah personal yang bersifat lancip dan mengerucut yang kemudian berakhir di ujung. Mengapa demikian? Karena kreatifitas dan kecermatan merekalah yang mempunyai nilai lebih dalam sebuah gerakan. Tentu para penulis inilah yang akan mampu menjelaskan duduk persoalan secara jelas tentang apa dan bagaimana maiyah bergerak kedelapan penjuru mata angin di berbagai lini sektor kehidupan.

Tulisan ini merupakan makalah hasil Workshop Penulisan
Dipresentasikan di serambi pengajian Padhang Mbulan tanggal 2 Nopember 2009

Diposting kembali dalam rangka menyambut Haflah Maiyah Se-Nusantara 2009
See more notes