
Museum DGI (Desain Grafis Indonesia) Panen Grafis 2009 – IGDA* Telah Dimulai!
desaingrafisindonesia.wordpress.com
Ajang penghargaan ini terbuka bagi profesional, akademisi maupun mahasiswa di seluruh penjuru tanah air dan meliputi karya yang diciptakan sejak 2005 sampai 2009.

Museum DGI (Desain Grafis Indonesia)
Telah lahir — Situs Panen Grafis IGDA 2009 > http://desaingrafisindonesia.wordpress.c om/2009/09/15/situs-panen-grafis-igda-20 09-—-www-igda-web-id-—-telah-lahir-bagi- kebangkitan-desain-grafis-indonesia/
desaingrafisindonesia.wordpress.com
………………………………………………………………….Nama: www.igda.web.idKewarganegaraan: ...

Museum DGI (Desain Grafis Indonesia) Welcome Speech – Press Conference IGDA: Galeri Antara 04.07.09
desaingrafisindonesia.wordpress.com
Atas nama komite IGDA saya mengucapkan selamat datang. Dalam beberapa jam ke depan, ijinkan kami menyampaikan pemaparan singkat mengenai ajang penghargaan Indonesian Graphic Design Award (IGDA) yang untuk pertama kalinya akan diselenggarakan pada tahun 2009 ini.

Museum DGI (Desain Grafis Indonesia) Press Conference IGDA 2009: “Menanam Ide, Ciptakan Karya, Tuai Prestasi”
desaingrafisindonesia.wordpress.com
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Museum DGI (Desain Grafis Indonesia)
7 April 2009
Diskusi terbatas “Artefak Grafis dan Museology” digagas oleh DKV Untar berlangsung di ruang pertemuan Kampus FSRD Universitas Tarumanegara, menampilkan pembicara tunggal Santy Saptari (lulusan bidang museology Belanda). Para peserta diskusi adalah Hauw Ming (Kartini Collection, ASPI/Asosiasi Pencinta Seni),... Tri Hadi Wahyudi (Kaprodi DKV Untar), Toto M. Mukmin (Sekprodi DKV Untar), Noeratri (Dosen Desain Interior Untar), Ismiaji Cahyono (Dosen DKV Binus dan UPH, dan UI yang membantu di pusat database DKV Binus, aktivis FDGI, dan chief editor Versus), Caroline F Sunarko (Dosen DKV Untar dan UPH, aktivis FDGI, Business Director Versus), Berti Alia (Dosen DKV Untar dan UPH, aktivis FDGI, senior writer Versus) dan Hanny Kardinata (DGI & Museum DGI Founder, Versus Chairman).
8 new photos

Museum DGI (Desain Grafis Indonesia)
20 Desember 2008
Arifien Neif (pemilik Chandari), Hastjarjo B Wibowo dan Hanny Kardinata bertemu untuk pertama kalinya dengan Gunawan Tjahjono (arsitek senior) di rumah Gunawan Tjahjono di Depok, untuk menyerahkan tugas perancangan desain arsitektur Museum DGI di Chandari kepada Gunawan Tjahjono.
•••
9 Maret 2009
Setelah t...iga kali pertemuan, pada hari ini di Chandari, Jalan Manggis 60, Ciganjur, Jakarta, berlangsung pertemuan ke-4 dengan arsitek Gunawan Tjahjono. Pertemuan dihadiri oleh Arifien Neif, Hastjarjo B Wibowo, Arief Adityawan S dan Hanny Kardinata. Pada pertemuan ini Gunawan Tjahjono mempresentasikan konsep awalnya mengenai Chandari sebagai ruang publik secara keseluruhan (termasuk konsep perancangan Chandari sebagai eco village) dan Museum DGI.
•••
4 new photos

A place to exchange information and experience, share ideas and learnings, and to build a directory of resources in the field of graphic design in Indonesia.
Website:15,898 fans

Apakah Indonesian Graphic Design Award (IGDA)? Wujud penghargaan dengan komitmen dan integritas bagi Desainer Grafis Indonesia. IGDA adalah organisasi non profit didirikan sejak Januari 2009 dan bagian dari organisasi induk Desain Grafis Indonesia (DGI). Apakah yang m...embedakan / unik dari konsep merek IGDA di antara merek ajang penghargaan lainnya di dunia internasional? Cara memandang Desainer Indonesia yang berbeda akan sebuah arti penghargaan. Cara pandang atau VISI itulah yang menentukan sikap, prinsip, passion dan potensi Desainer Grafis Indonesia di mata dunia internasional. Umumnya, perspektif arti juara di banyak belahan dunia terutama dunia barat berfokus pada kompetisi dan supremasi. Ironisnya, sejalan dengan globalisasi, dunia terasa kecil karena kemudahan akses informasi. Semangat arogan supremasi dan kompetisi tiada henti perlahan menjadi old-fashioned seiring dengan menara tertinggi Dubai, mengekor metode barat, kayuhan Michael Phelps, perlombaan nuklir, manusia tercepat, Blackberry termutakhir atau segera Menara Jakarta di masa depan… Sepak terjang kompetisi dunia sejujurnya terasa sangat melelahkan dan overdosis akan performance demi performance. Kerinduan kembali akan transformasi warisan lokal yang Indonesia miliki menjadi momentum IGDA. Semangat untuk memberi kehidupan kembali kepada desain lokal, mencari adaptasi, sinergi yang organik antara pendekatan barat dan warisan lokal; meneruskan tongkat estafet desain lokal pada generasi selanjutnya terasa lekat pada simbolisasi ilmu padi. Apakah yang unik dan berharga dari konsep Ilmu Padi? Ilmu Padi sering disalahartikan dan digeneralisasikan dengan sekedar sikap kerendahan hati (atau rendah diri? merasa nyaman di belakang layar?). Kita telah melupakan bahwa padi juga berproses: ditanam, bertumbuh makin merunduk untuk satu tujuan menghasilkan padi unggul yang siap dipanen dan dinikmati menjadi santapan yang tak tergantikan! Padi memiliki sejarah panjang, sakral, begitu esensial di bumi Nusantara. Penampakan Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, dewi pangan, dewi kesejahteraan, sebagai dewi molek yang tak pernah usai memberikan kebahagiaan bagi komunitas petani adalah kepercayaan turun temurun yang diwujudkan dalam perayaan tahunan; begitu pentingnya bagi masyarakat agraris Indonesia. Tidaklah heran jika inti kalimat “bagai ilmu padi, kian berisi semakin merunduk” bagi para petani bukan hanya di bibir saja, tapi mutlak adanya. Karena sesungguhnyalah, dalam budaya padi ini terkandung sistem pengetahuan yang bukan hanya berhubungan dengan teknologi pertanian, melainkan juga berhubungan dengan kearifan lingkungan dan organisasi kemasyarakatan. Dengan kata lain, siklus padi ini, semenjak ditanam sampai dipanen, hadir sebagai suatu ritus yang menghidupi jiwa masyarakat penanamnya. Pada umumnya ajang penghargaan desain di dunia internasional sekedar fokus melayani kebutuhan, output trend industri dan komoditi. Metafor jelas tergambarkan pada kehidupan petani masa kini, eksploitasi tanah hingga teknologi mutasi padi tanpa dialog lokal dan naturalisasi mengejar target komoditi, dimana padi yang ditemukan adalah cangkokan, paksaan; jauh dari adaptasi transformasi nan organik. IGDA, lebih dari sekedar ajang penghargaan, sesungguhnya bisa menjadi cermin para petani desain untuk berintrospeksi kembali membumi bersama Dewi Sri. Karena terbukti, yang mampu bertahan dalam serbuan pasar global adalah petani desain yang mampu menghidupkan kembali inti-inti kebudayaan lama sebagai basis desain lokal seperti halnya bangsa-bangsa besar Jepang, Cina, hingga Thailand. Inilah semangat dan jiwa IGDA: Responsibility: better to give than receive! Menghidupi kembali transformasi desain lokal Focusing to the output rather than appearance Catatan: Rancangan logo dan sistem grafis merek IGDA oleh Henricus Kusbiantoro
Non-Profit:1,840 fans
RECENT ACTIVITY
Museum DGI (Desain Grafis Indonesia) changed their Founded.


























