Kenapa lebih tertarik menjadi Pencari kerja dari pada Pencipta lapangan kerja?

Displaying posts 10 - 32 out of 32.
Post #10
Jakarespati wroteon June 12, 2009 at 1:28am
Tentang KENAPA? Poin yang dapat saya sampaikan sebagian besar telah dituliskan oleh teman2 di atas.

Saya akan mencoba mengarahkan jawaban saya ke BAGAIMANA supaya lebih termotivasi menjadi Pencipta Lapangan Kerja.

Terkait dengan statement pak Sandi di atas:
"Lingkungan adalah tantangan terberat bagi seseorang yang mengalami kegagalan namun jika kita mau berpikir bahwa setiap kendala merupakan peluang usaha maka segala hambatan pasti memberikan jalan"

Berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri, berada pada lingkungan yang sesuai tepat sangatlah penting dalam usaha mencapai suatu tujuan. Dalam konteks ini, berada dalam lingkungan yang berorientasi wirausaha akan mendorong kita ‘beraksi’ untuk memulai usaha baik secara langsung maupun tidak langsung. Contoh dorongan langsung dari lingkungan ini tentu saja berupa dukungan modal, relasi, ataupun kiat-kiat dalam memulai usaha. Beberapa contoh dorongan tidak langsung yang mungkin tidak disadari oleh banyak orang adalah SEMANGAT dan PEMIKIRAN POSITIF yang dimiliki oleh orang-orang yang memang berjiwa entrepreneur/pengusaha.

Ada peribahasa yang mengatakan, “90% of success is just by being ‘there’” atau “If you want to change, change your mind.”

Apabila memang kita memiliki suatu tujuan menjadi pengusaha sedangkan lingkungan kita jauh dari lingkungan tersebut, pastikan kita membenamkan diri kita ke lingkungan tersebut dan mencurahkan segala pemikiran kita ke arah tujuan yang ingin kita capai, yaitu membangun usaha sendiri. Hal-hal tersebut akan mampu mengubah pola-pola pikir kita menjadi suatu pola pikir yang mematahkan mitos yang mengatakan bahwa pengusaha hanya akan besar dari lingkungan keluarga pengusaha; mendekatkan pemikiran “Pencipta Lapangan Kerja” dan menjauhkan “Pencari Kerja”.

Mohon masukan dari rekan2 sekalian.
Post #11
Ahmad wroteon June 12, 2009 at 2:08am
Kalau menurut saya sebelum memulai usaha seorang fresh graduate harus kerja dahulu. Hal ini dikarenakan supaya orang tersebut dapat melihat konsep bisnis yang sudah matang sehingga pada waktunya dia siap menjalankan usaha dengan baik.
Bedanya di Indonesia sama di negara maju (sy kuliah di eropa) adalah usaha kecil pun sudah memberi mereka kehidupan yg cukup sedangkan di indonesia susah sekali jadi entrepreneur pada fase2 awal. Faktor inilah yang mendiscourage orang2 untuk memulai usaha. Terutama dari segi modal dan risiko karena biasanya orang2 membayangkan risiko yg besar dan akhirnya kalah oleh ketakutannya itu sendiri
Post #12
Fadhil replied to Sandiaga Salahuddin Uno's poston June 12, 2009 at 2:35am
sebenarnya anak2 muda sekarang tidak takut mas untuk membuka usaha sendiri, kalau boleh saya bilang mungkin sekitar 50:50 lah mas antara yang ingin menjadi orang kantoran dengan yg ingin mempunyai usayanya sendiri. tp kenyataannya dilapangan untuk membuka usaha sendiri susah mas. apalagi kalau sudah berbicara tentang modal, dimana kita harus mencari modal untuk bisa memulai usaha mas krn kita gk punya jaminan, itulah yang menyebabkan banyak anak muda sekarang berusaha menjadi org kantoran. tetapi kalau kita buat pilihan antara menjadi org kantoran dengan mempunyai usaha, mereka pasti akan memilih usaha mas, ini bisa saya bilang karena saya sering berdialog dengan kawan2 saya yang menjadi org kantoran
Post #13
Rono wroteon June 12, 2009 at 4:12am
Pak Sandi, aku ikutan nulis ya.

Sepengamatan saya, kondisi sekarang terus ada kemajuan. Entrepreneurship sudah mulai berkembang dan digalakkan. Memang merubah mindset yang mengakar sejak bertahun2 pada 220juta rakyat Indonesia tidaklah mudah. Tapi kita terus mengarah kesana.

Sebenarnya kita bisa pinjam sistem MLM sedikit. Pengusaha yang sudah sukses diharap mengangkat beberapa murid yang lalu dibimbing sehingga menjadi seorang pengusaha sukses pula. Lalu murid-murid yang sukses ini melakukan hal yang serupa. Saya yakin dalam beberapa dekade ke depan, Entrepreneurship dalam bangsa ini akan maju.

Karena bagi saya (dan saya yakin semua pengusaha yang sudah sukses, termasuk Anda Pak Sandi) pasti tau betapa essential sekali peran mentor dalam membangun usaha. Mentor inilah yang akan menjadi guru, partner, pembimbing, dan bahkan investor dari pengusaha2 pemula.

Saya punya cita2, kalau saya sudah mengerti betul bagaimana menjadi seorang entrepreneur, maka saya akan mengajarkannya kepada pertama anak2 saya kelak. Kemudian rakyat kecil yang masih menggantungkan hidupnya dengan meminta-minta. Dan rakyat kecil yang tinggal serba kekurangan di desa2.

Hidup Entrepreneur Indonesia!!
Post #14
Andiek wroteon June 12, 2009 at 6:26am
mungkin untuk membuka usaha dan mengembangkan usaha, kita harus punya network yg luas yg mn kadangkala mungkin kita kalah dengan orang2 yg punya koneksi lebih, mungkin krn kerabat dari pejabat RT ato RW sbg contoh kecilnya kdg kita yg ingin maju lalu di kesampingkan krn kita hanya "orang biasa saja" misalkan kita bs menang kt hrs mengeluarkan bonus khusus kpd oknum2 istilahnya sih melobi jd intinya kpn kita orang biasa ini bs maju..?apa utk maju hrs kayak begini..?
Post #15
Lucky wroteon June 13, 2009 at 7:18am
insentif pak. terus, akses. yang baliknya juga ke insentif tadi.
mencari kerja yang cocok dan baik itu susah, apalagi menciptakan lapangan pekerjaan. modal untuk mencari kerja: lulus, persiapan CV, melamar, dan jalani prosesnya. Ada waktu tunggu, tapi jika masuk, dgn asumsi rata-rata gaji freshgrad adalah 2,5 juta, bisa langsung BEP semua modal tadi...dalam beberapa bulan, malah, modal kuliah 4 taun kebayar semua.

Kalau jadi pengusaha...akses ke modal sulit, apalagi tanpa relasi dan pengalaman. akses pembimbingan untuk usaha juga sulit. belum lagi ketidakpastian yang menyelimutinya. Belum lagi proses administrasi berbelit (berapa hari untuk start up business di indonesia rata-rata pak? saya pikir masih lebih dari 60 hari). Terus, kalau sudah mulai, belum tentu berhasil juga. Tidak se'pasti' kalau bekerja.

jadi, insentif untuk mencari kerja sangat besar, sementara kalau berwirausaha disinsentif-nya yang sangat besar.

Saya tidak sedang berkeluh-kesah disini, cuma mengutarakan pengamatan. Tentu saja dengan segala hormat saya untuk yg berwirausaha sejak lulus. Luar biasa, mereka bersedia menjalani itu semua. Namun kalau mau banyak wirausaha ya...perbesar insentif untuk jadi wirausaha. permudah akses modal, perbaiki lingkungan ekonomi kita (regulasi yang tak berbelit, misalnya). Nah, kalau berwiausaha sudah sama menariknya dengan mencari kerja, dengan sendirinya freshgrad akan memilih berwirausaha.
Post #16
Dimas wroteon June 13, 2009 at 8:35am
Tidak perlu diragukan lagi bahwa faktor LINGKUNGAN memegang peranan penting dalam menciptakan pola pikir seseorang untuk berani dan mau menjadi pencipta lapangan kerja.

Menurut saya, masih ada faktor penting lainnya, yaitu KESEMPATAN. Kesempatan memiliki makna yang luas dan tidak melulu positif. Lowongan pekerjaan dan karir adalah bentuk kesempatan yang benar-benar jelas karena bersifat nyata baik lisan ataupun tulisan. Mungkin karena itulah orang cenderung lebih memilih untuk menjadi para pencari kerja karena yang dibutuhkan adalah kesempatan untuk mendapatkan upah yang pasti dan berkesinambungan.

Disisi lain hanya segelintir orang yang mampu melihat suatu kondisi ataupun problema sebagai suatu kesempatan (seolah2 seperti menciptakan kesempatan). Seperti tulisan Pak Sandi, beliau mendapat kesempatan diberhentikan dari pekerjaannya sehingga muncul kesempatan2 lainnya yang menjadikannya seorang pencipta lapangan kerja yang besar.

Apakah jika modal+resiko dapat kita pandang sebagai kesempatan seperti layaknya lowongan pekerjaan, maka mencari pekerjaan tidak akan jauh berbeda dengan menciptakan lapangan pekerjaan? Perlu kajian lebih lanjut.

*Sangat terbuka untuk kritik dan masukan


Post #17
Gregorius wroteon June 13, 2009 at 7:56pm
Akses yang terbatas

Menurut pemikiran saya, saat ini sudah banyak orang-orang yang berkeinginan untuk menjadi seorang pengusaha. Namun karena paradigma sebagai "Pencari kerja" sudah berlangsung puluhan tahun di negeri ini, sehingga pengetahuan untuk mencapai "Pencipta lapangan kerja" menjadi terbatas. Pengetahuan itu masih didominasi oleh orang-orang yg kebetulan orang tuanya entrepeneur, atw sodaranya yg jadi pengusaha, atw kebetulan ada teman2 yg ngajakin. Atau justru malah akibat The Power of Kepepet, ga ada pilihan lain. Apalagi klo sudah terkait dengan masalah birokrasi, semakin bingung lagi para calon "Pencipta lapangan kerja" ini. Mungkin diperlukan inisiatif2 dari para sukarelawan entrepeneur yg sudah mapan untuk terus membagikan ilmunya agar ekonomi kerakyatan bangsa ini semakin kokoh. Selain itu juga harus ada paradigma pantang menyerah bagi generasi muda bangsa ini, sebab selalu ada jalan bagi yg mencari.

Orang takut, karena tidak tahu.

Bagai berjalan dalam kegelapan karena mati lampu. Kita akan takut, karena kita tidak tahu apa yang ada di depan kita. Makanya dalam hal menciptakan "Pencipta lapangan kerja" butuh banyak sharing2 bisnis seperti ini yg juga dipandu oleh para entrepeneur yg sudah terjun dalam dunia bisnis.

Saya sangat setuju dengan pendapat kita terbentuk seperti ini sebagai akibat dari lingkungan (baik itu di rumah dalam keluarga, maupun di sekolah oleh para guru dan teman, serta di dalam lingkungan pergaulan). Apalagi efek dari berita di TV yang dari hari ke hari masih belum menunjukkan perubahan dalam isi beritanya. Masih seputar kecurangan, kecelakaan, korupsi, kematian, perceraian, dan hal2 negatif lainnya. Yang mana semua itu menambah sikap skeptis dalam diri bangsa ini. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan itulah yang nantinya akan menciptakan paradigma manusia. Harus terus dilakukan diskusi terbuka, buku-buku ttg sharing bisnis, seminar dan workshop entrepeneur, dsb. Hal yang penting adalah semakin positif segala sesuatu yg masuk ke pikiran kita, maka kita akan berpikir semakin positif juga. Seperti kata Dedy Cobuzier, pikiran kita adalah suatu hal yang sangat rentan terhadap ilusi.

Satu lagi adalah kenyataan bahwa kemapanan itu melenakan.

Mapan itu berarti punya gaji yang pasti, tempat tinggal yang tetap, dan masa depan yg bisa direncanakan dengan jelas dan mudah. Sedangkan jadi entrepeneur itu artinya meninggalkan zona nyaman untuk terus berimprovisasi. Manusia bakal terus bertumbuh dewasa jika sudah mampu mengatasi masalah2, semakin berat suatu masalah akan semakin membuat kita dewasa. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Hidup cuma sekali.
Post #18
Ary wroteon June 13, 2009 at 9:36pm
ikutan yah...
mmm....how bout...there's a "time" for everyone..I plan to...
but, I'm in preparing my time...
match our "resources" to the "objectives" at the right time...
halah...bingung yah?
*mudah2an gak perlu lama2 untuk preparing the time..
Post #19
Herman wroteon June 15, 2009 at 7:28am

Kalau menurut saya, major problem kita adalah lack in aptitude dan wrong attitude when it comes to entrepeneurship.

Di satu sisi, mungkin beberapa dari kita sudah memiliki the dogged determenation untuk memulai sebuah usaha tetapi resources supaya kita bisa maju di usaha tersebut masih sangat minim di negara kita. Kalau kita lihat di jakarta saja, sebuah kota metropolitan (mungkin akan terdengar sangat klise) jumlah perpustakaan kita sangatlah minim dibandingkan dengan entertainement or shopping center. Memang kita sudah tinggal di jaman yang modern, internet and other platforms ada untuk membantu kita belajar tetapi toh tidak semua orang bisa mendapat akses tersebut.

Di sisi lain, mungkin kita sudah memiliki ide2 dan kepiwaian untuk memulai sebuah bisnis tetapi ya stuck begitu aja karna mindset yang sudah sulit untuk diubahkan. Kita diajar supaya sekolah tinggi2 supaya jadi professional sajalah (dokter, pengacara, etc.) karna katanya itu pekerjaan2 yang 'mencetak duit' (opung saya bilang gitu sih hahaha). Maka jadilah kita society yang amat sangat risk averse, tidak berani mengambil resiko hanya mau main safe saja.

Dan tentunya juga masih banyak faktor2 lain seperti masalah birokrasi dalam memulai bisnis (pinjaman, approval dari pemerintah, dsb). Tapi saya yakin kalau kita bisa memulai dari kita sendiri yaitu men-tackel information dan attitude/mindset barrier, kita bisa prevail di market.

Horas!
Post #20
Fadilla wroteon June 16, 2009 at 3:28am
Salam kenal Pak Sand,
Saya adalah seorang fresh graduate, seperti Arlo Erdaka.
Jadi masih hitungan anak muda dong ya.
Maka saya akan beruara atas nama anak muda.
:)

Saya sepakat mengenai faktor lingkungan.
Tipe keluarga yang 'menakut-nakuti' untuk jadi pengusaha dan lebih mendorong anaknya untuk jadi pekerja, masih banyak di Indonesia. Jadi pekerja kan cepat menghasilkan. Sedangkan kalau jadi pengusaha, untung tak selalu dapat diraih. Keluarga saya salah satunya.

Itu juga yang berkaitan erat dengan kecenderungan generasi instan Indonesia. Cepat kerja, cepat dapat uang. Cepat mulai usaha, belum tentu cepat menghasilkan.
Saya sungguh salut dengan keluarga yang mampu menghargai proses dalam setiap aktivitas, bukan hasil.

Untuk masalah modal, seperti yang teman-teman bicarakan, saya kurang sepakat bahwa itu adalah hambatan. Saya sudah mencoba. Bukan modal yang paling susah.

Ada pengelolaan SDM, gaya memimpin, dan mengelola kepercayaan, serta hal yang lebih bersifat softskill yang lebiiih sulit untuk dikuasai ketimbang menguasai modal. Oleh karena itu, sharing pengalaman yang bersifat kemampuan-lunak untuk menciptakan mental baja pengusaha lah yang dibutuhkan. Saya percaya, jika kita tidak tutup telinga atas cerita dan jejaring, ingin belajar apapun pasti bisa. Termasuk belajar usaha. Itulah modalnya.

Saya anak muda. Saya pengusaha. Saya sudah pernah rugi. Ditipu. Dan harus bangun lagi. Saya suka punya pekerja. Dan saya suka mengajak teman-teman lainnya untuk ikut jadi pengusaha.

Semoga ya.
:)

Salam kenal untuk semua.
Seneng deh, nemu forum ini.
Post #21
Didik wroteon June 16, 2009 at 4:34am
mantab!!
pak sandi memang selalu menjadi inspiring buat para fansnya hehehe..

pencari kerja itu seru pak:
1. jika ditanyain sudah kerja dimana kamu?
masih bisa menjawab di exxon, total, sclumberger, NPI resurces,

2. kalo ikutan jobfair bisa muncul dikoran pak :P

3. bukannya lulusan kampus di indonesia wajib jadi karyawan yah.hehe

4. kalo entrpreneur banyak nanti indonesia maju dong pak...

memang banyak hambatan menjadi pengusaha. saya tidak usah sebutkan. teman teman di atas sudah menyebutkan semuanya..hehe

yang membuat saya posting disini adalah ternyata menjadi karyawan itu ada hambatannya juga. saya dibesarkan dilingkungan kampus yang lulusannya mencetak karyawan semua..hiks menyedihkan. setiap weekend jalan yang ada hanya keluh kesah tentang kerjaan mereka. pingin keluar buka usaha tapi belum punya modal lah, gak ada networking lah. akhirnya mereka masih jadi karyawan seperti orang jawa kebanyakan "alon alon waton kelakon" sedikit sedikit nanti pasti ada hasilnya juga kok.

banyak takut berwirausaha karena tidak mempunyai modal, dll. mengapa kita tidak mencoba alternatif lain untuk mengajak teman2 kita mempunyai usaha dengan menakut nakutinya bahwa menjadi karyawan itu tidak enak. hidup seperti robot. gaji hanya mampir di bank sekedar untuk biaya bulanan.
menjadi karyawan itu berarti siap untuk hidup aman, sehingga tidak ada cita cita untuk tumbuh.. seperti kata shirley ""If you play it safe in life, you've decided that you don't want to grow anymore.".

siapa tau semakin banyak yang takut semakin banyak muncul pengusaha pengusaha baru. tapi kalo semua pengusaha siapa karyaawannya yah????
Post #22
Andre wroteon June 17, 2009 at 6:51pm
Ikutan nimbrung ah, menarik sekali ini diskusi-nya =p

Saya mencoba berpendapat saja ya meskipun sebenarnya belum pernah membuka bisnis sendiri hihihihi....(nyoba nyimpulin dari pendapat-pendapat yang udah ada di atas juga)

Kalau menurut saya sih, tergantung dari orangnya masing-masing yah...memang ada yang pengen jadi pengusaha, tp memang ada juga yang cukup hanya dengan menjadi pegawai di suatu perusahaan yang di mana tidak ada benar dan salah dalam keputusan masing-masing orang tersebut.

Yang menjadi masalah adalah mungkin ketika sebenarnya orang tersebut ingin menjadi seorang pengusaha, tetapi karena alasan yang satu dan yang lainnya dia saat ini mau tidak mau harus melewati "jalan" bekerja menjadi pegawai terlebih dahulu.

Saya setuju dengan pendapat Dimas Napit tentang faktor "kesempatan". Ada orang-orang yang pada satu momen dalam hidup mereka mendapat suatu kesempatan untuk membuka usaha, entah pada saat mereka baru lulus, ketika mereka bekerja ataupun ketika mereka diberhentikan dari pekerjaannya....

Tetapi faktor kesempatan itu menurut saya harus didukung dengan pendapat yang dikemukakan oleh bung Arlo Erdaka, dimana sebelumnya si individu tersebut harus sudah mempunyai "kesiapan" sebagai seorang entrepreneur di saat "kesempatan" itu datang yang akhirnya akan membuka "jalan" untuk membuka bisnis tersebut....

Faktor terakhir yang menurut saya sangat penting dalam membuka bisnis itu adalah networking dan softskill, karena itu akan membuka "akses" lebih banyak terhadap variasi peluang-peluang bisnis.

Saya melihat banyak anak-anak muda sekarang sudah banyak yang mempunyai mental dan kemauan untuk menjadi entrepreneur, which is very good.

Mungkin yang harus ditambahkan adalah dukungan dari pemerintah Indonesia sendiri untuk merangsang pertumbuhan entrepreneur2 muda ini (atau mungkin sudah ada, saya kurang tahu juga). Dari salah satu buku yang saya baca, saya ambil kesimpulan bahwa di US, banyak sekali entrepreneur2 yang tumbuh karena adanya sistem yang dinamis di mana pemerintah menyediakan fasilitas untuk sang pengusaha men-declare "bankruptcy" dan safety nets, yang mana akan dapat membuat pengusaha yang notabene gagal dan bangkrut dalam bisnis pertamanya dia tersebut untuk bounce back membuat bisnis kedua, ketiga dan seterusnya....

Yah tapi pada intinya si, baik sebagai entrepreneur ataupun pegawai kantoran menurut saya as long as u r happy to do that, it doesn't matter because that is the important part...be happy! =p
Post #23
Praha replied to Sandiaga Salahuddin Uno's poston June 19, 2009 at 7:47pm
selain takut memulai usaha, karena mereka juga terhambat dengan keterbatasan dana pak,selain itu tanpa jaminan atau lainnya tidak ada pinjaman dana...untuk umkm di jakarta semua sudah ada,gak bisa melakukan pemasaran kalah pesaing pak...
Post #24
Suzanna wroteon June 20, 2009 at 7:21am
iya selama belum ada Genuine Political Will dari pemerintah untuk mendukung small to medium business ya susah lah ; selama ini hubungan pemerintah sudah 'terlalu mesra' dengan big business, itu sudah menjadi legacy orde baru. Saya juga usul agar 'enterpreneurship' dijadikan mata pelajaran ekskul SMA ; lets face it! perusahaan besar2 akan merger with each other, more PHK, less jobs available in the future; more graduates; less jobs; more pengangguran.....menjadi entrepreneur bisa mewariskan sesuatu kepada anak cucu jadi mrk gak terlalu stress kalau gak dapat pekerjaan dikemudian hari, berat di title tapi 'no vacany' kan kasian yahhhh.....
Post #25
Adhen wroteon June 22, 2009 at 4:21am
bekerja ikut orang itu belajar.... bekerja itu ibadah..... bekerja itu menambah pengalaman....
sama sperti mas Sandi yg sebelumnya ikut perusahaan orang dan mempunyai byk relasi dr itu.....
Post #26
Efendi replied to Sandiaga Salahuddin Uno's poston June 22, 2009 at 7:26am
Kalau pendapat saya sih masalahnya soal urgensi. Banyak kalangan muda dari masyarakat umum yang sudah dituntut agar segera mendapatkan penghasilan begitu lulus kuliah oleh para ortu-nya. "Bapak sudah tua dan pengen hidup santai. jadi kamu segera cari kerja begitu udah lulus," demikian harapan umum para orang tua.

Nah, kalau udah begitu, yah kalangan muda gak punya opsi, selain melamar kerja daripada jadi pengusaha. Apalagi tuk jadi pengusaha dibutuhkan modal dan butuh waktu lama tuk berkembang. itu pilihan pragmatis soal hidup ini.

Lain halnya kalau orang tua dari anak muda yang udah mapan. Mungkin si ortu dari anak muda itu tidak permasalahkan dan tidak melimpahkan tuntutan tuk segera mencari penghasilan atau cari kerja.

Kalau soal gengsi sih kayanya bukan alasan utama deh. Dari hasil ngobrol2 dengan teman2 saya di Kampus UI ketika udah masa skripsi, pada bicarakan abis kuliah mau ngapain.

Pilihannya:
1. Cari kerja
2. Mau usaha bingung usaha apa..modalnya kagak ada.

Jadi pilihannya yah tinggal pilihan pragmatis. Cari kerja lebih mudah tuk penuhi tuntutan orang tua dan bekal sementara mengarungi kehidupan. Kalau sudah dapat penghasilan dan berkeluarga, pada umumnya, baru mikirin tuk menyisihkan penghasilan sebagai modal awal berusaha...

tuk sementara gitu dulu deh pendapat saya..




Post #27
R. Eko wroteon June 27, 2009 at 12:57am
Aslm...
Setuju...!, lingkungan memang mempengaruhi keputusan orang untuk terjun menjadi wisausahawan. mulai dari keluarga,sekolah,kampus, dll.
menurut saya, tak mutlak seorang harus jadi wirausahan setelah lulus kuliah, ato menjadi pekerja stelah lulus. keduanya harus imbang. yang terpenting bekerja sebaik mungkin.
memang negara ini membutuhkan lebih banyak pengusaha, namun negara ini lebih membutuhkan inovator. adanya inovator otomatis melahirkan pengusaha dan pasar baru. contohnya adalah pengusaha "tela-tela", dimana ia membuat ruang bermain baru dalam dunia bisnis. saya yakin inovator bukan saja membuka lapangan kerja baru, melainkan memperluas lapangan tersebut.
Post #28
Arif wroteon July 2, 2009 at 11:24pm
Simplenya sih..kita terlalu lama di jajah dan mental kita selalu beranggapan akan aman kalau bekerja pada suatu badan usaha.
Wirausahawan jauh memiliki mental untuk tetap survive dan tidak terpaku pada tanggal 25 atau 30 untuk menerima gaji.
Lebih enak menjadi wirausahawan kok..mau buktikan coba aja..nga usah pikirin gagalnya...karena rejeki sudah ada yg atur..
Post #29
Andika wroteon August 3, 2009 at 7:20am
gimana kalau dibalik...
nggak usah pikir gagalnya jadi pegawai,
tp mikir suksesnya... karena rejeki sudah ada yg atur!
buktikan aja seperti DE Setijoso, Vikram Pandit, Larry Elisson, dsb
Post #30
Imron replied to Sandiaga Salahuddin Uno's poston August 15, 2009 at 9:56pm
Mungkin saya baru aja melangkah menjadi Usaha..dah hampir satu tahun.. namun arus kas masih negatif.. beberapa hari ini baca bukunya kiyosaki tentang panduan untuk usaha... nah kalau kiyosaki ada guru pembimbing yaitu ayah kayanya..dan mungkin Bang sandi Juga ada guru bisnisnya.. mungkin Pak Edwin.. Nah kalau saya emang belum ada.. apa karena ini jadi kebentur2 ya?? oh iya saya alumni IPB 2007"scara minder dengan Alumni USA he.. tapi tak apalah...
Post #31
Hanif wroteon October 23, 2009 at 7:29pm
Saya sangat tertarik dengan diskusi ini...
Memang saya akui, sebagai mahasiswa, banyak temen saya (bahkan hampir rata-rata) yang terobsesi untuk mencari kerja setelah lulus kuliah, tapi memang benar kalo dipikir-pikir apapun pekerjaannya, sekeren apapun perusahaan atau lembaganya ya.. tetap saja menjadi kuli, kuli berdasi, kuli bertitel, kuli resmi.
Dalam kondisi sekarang ini (masih kuliah) saya sedang bingung, dan mencoba melawan arus dengan prinsip bahwa tamat kuliah itu bukan zamannya lagi membawa ijazah kesana kemari untuk mencari kerja, tetapi tamat kuliah buka lapangan pekerjaan.
Memang kasta tertinggi di indonesia adalah menjadi karyawan dan mengejar karir hingga jabatannya tinggi, tapi kalo sebagian besar masyarakat berpikir demikian tambah banyak saja para pencari kerja, sedangkan kondisi sekarang saja enterpreuneur di Indonesia dibawah 0,2 % dan itupun di dominasi usaha kecil. Sedangkan lulusan S1 adalah penyumbang terbesar pengangguran, dan 80% tamatan S1 adalah pegawai. Padahal Kesuksesan suatu negara adalah bila persentase pekerja minimal 2 % dari total jumlah penduduk.
Coba saja cari tahu berapa % enterpreuneur di Singapura, Malaysia dan China...yang pasti untuk mengejar 1 % saja indonesia sudah harus bekerja keras. Bagi negara-negara maju menjadi pengusaha adalah kasta yang tinggi, merupakan suatu yang mulia, karena bukan diri pribadi saja yang dibiayai, dengan menjadi pengusaha, kita bisa membiayai kehidupan orang lain.
Terimakasih atas perhatiannya,
Salam
:-)
Post #32
SUkma wroteon October 30, 2009 at 10:31am
kbanyakan anak muda jaman sekarang mungkin telah mngidap sindrom "Bangkruters" :) ,jadi mereka lebih memilih mencari kerja dari pada menjadi seorang pencipta lapangan kerja,karena mereka takut menanggung kerugian yang besar,apalagi dalam masa2 seperti sekarang ini yang katanya sedang "Krisis Global".Mungkin juga dorongan mental dari para Orang Tua mereka,yang mendidik mereka menjadi seorang karyawan atau PNS.
Tapi karena saya dilahirkan di dalam keluarga yang berada di dua "alam" yaitu antara wiraswasta dan PNS,jadi saya sedikit tahu bagaimana pahit dan manisnya ke2 alam tersebut,dan saya sedang mencoba mulai belajar membuka usaha kecil2an (berdagang) sambi kuliah.
mohon dukungan dan motivasinya Pak..Terima kasih. :)