Photos
Reviews
8 Reviews
Tell people what you think
Zia
· August 29, 2016
oh yeah !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Arief Munandar
· August 29, 2016
Fanspage terbaik sepanjang masa :D karena saya yang punya :D :D
Riny Ananta
· August 26, 2016
Sepertinya Indonesia semakin penuh dengan Penulis Puisi :D
Posts
Arief Munandar added a new photo.
September 17

Mendengar dari bibir angin
Amanah burung kenari
Nadanya samar-samar
Aku masih menyimak

...

Katanya raja sudah berganti
DEMOKRASI DEMOKRASI
Syukurlah!
Bangsaku punya harap lagi.

See More
Image may contain: one or more people and closeup

Menunggu diri di reruntuhan
Di jemari menyendiri.
Mengibah iri pada diri
Pada janji yang mencari.

...

Aku rapuh,
Ragaku terbang mengangkat sunyi.

Memaksa diri berbicara
Dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Menerbangkan inti
Pada peluk penata lelah.

Aku hilang,
Langkahku jera memeluk tepi.

Melihat manusia meneriaki cermin.
Cerminnya retak sebab suara.
Wajahnya runtuh disapa beling.

Merah.
Merah membimbing jalan.

Aku pikir hanya aku
Yang lelah dengan diri.
Dari semenjak hari kemarin itu.
Hari kemarau itu.

Hujan.
Hujan bukan hari ini.

Menarik diri
Dari duka yang menari,
Menjual hati
Pada kaki yang berlari.

Aku lelah.
Aku lelah.

#Puisi #Poem
#Elegi #Elegy

See More
Posts

Semuanya baik. Tidak ada yang bisa disebut masalah. Hubungan kami baik. Hingga waktu telah tiba untuk dia pergi. Dan aku hanya harus merelakan. Tidak. Hubungan kami tidak putus. Kami hanya akan tanpa komunikasi selama 3 bulan. Itu adalah hal wajar untuk dia. Dan karena itu wajar untuk dia, maka itu juga harus wajar untuk aku. Dan aku maklum keadaan itu.

3 bulan. Aku terus berpikir tentang hari pertemuan kami. Terkadang, aku seperti anak kecil, berharap hari itu akan datang se...cepat mungkin, tanpa harus dihalangi hari lainnya. Dan selama itu pula, aku sering berpikir dia akan kembali dengan mengatakan "aku sangat merindukanmu". Dan sampai sebelum dia pulang, aku akan mempersiapkan sebuah kado untuk menyambut hari indah itu.

Kehidupanku biasa saja sebelum dia datang, dan akan sama biasa saja setelah dia pergi. Maka begitulah aku menghabiskan hari demi hariku tanpanya. Bedanya, sekarang aku memiliki sesuatu yang benar-benar aku harapkan kehadirannya.

Dan lalu dia kembali, tapi itu tidak terlihat seperti hari yang aku tunggu-tunggu itu. Aku tidak terlalu berharap akan menjadi orang pertama yang selalu dia hubungi untuk kabar gembiranya, namun itu, aku sedikit benci jika harus mengetahui kabar dia dari orang lain. Dan itulah yang terjadi. Sahabatku, dialah orang yang membawa kabar itu.

Aku bukan tipe pemarah yang suka menghina disaat aku marah. Aku bukan tipe pemarah yang berteriak disaat aku marah. Aku adalah tipe lainnya, aku akan diam dan mengatakan pada diriku sendiri, itu tidak layak untuk dipermasalahkan.

Kemudian dia menghubungi. Itu membuat aku berharap dia akan menjelaskan beberapa hal. Tapi ternyata tidak, semuanya semakin tidak jelas saat dia mulai bicara. Semuanya menjadi kacau, semuanya semakin menjauh dari apa yang aku pikirkan selama ini. Dia sama sekali tidak terlihat seperti ingin mengatakan "aku merindukan". Tidak sama sekali.

Aku memandang kado yang aku bungkus dua minggu sebelum dia pulang. Aku bangkit mendekati. Lalu melemparnya ke dinding. Tapi Kado itu tidak hancur, hingga aku membakar hangus... dan berharap, semua kenangan ikut lenyap bersama api itu.

Wanita? Makhluk yang mencintai dengan seharusnya. Diam dengan seharusnya. Namun disaat dia diam, jangan pernah mendekati apalagi mengganggu. Jadi aku pergi dari hidupnya, membawa semua yang mungkin telah dia lupakan.

Tidak, aku tidak pergi sembari membawa benci. Aku pergi karena aku sangat mencintainya. Dan aku tidak ingin mencintainya dengan cara menyiksa diri. Karena itu bukan cara mencintai. Jadi di sana aku tidak mengatakan sepatah kata pun, aku hanya sedikit berharap, semoga dia benar-benar hilang ingatan dan tidak pernah menghubungiku.

Oleh: Arief Munandar

See More
Cerita Sedih, Cerita Kehidupan, Cerita Romantis, Cerita Fiksi, Cerita Cinta, Cerita Mengharukan, Cerita Menyedihkan,
sepenuhnya.com

Saat mentari mencari sinar, aku lelap di sini. Karena lelah mencari, karena lelah menunggu. Mereka mengatakan, aku mencari sesuatu yang tidak pernah menunggu. Aku menunggu sesuatu yang tidak akan pernah kembali.

Aku mengerti, mereka tidak akan pernah mengerti; ini bukan tentang sia-sia, ini tentang hati yang tak pernah terbiasa tanpamu... sinarku...

Saat bulan mencari bintang, aku terbangun sendiri. Di tempat kita merajut mimpi, di tempat kita tertawa dulu. Mereka mengatakan,... mimpi itu sudah tidak lagi bertempat. Tawa itu sudah tiba saatnya terganti.

Aku mengerti, mereka mengharap bahagiaku. Tapi ini bukan tentang kenangan yang tidak meminta diri, ini tentang hati yang tak pernah sanggup berdetak tanpamu... bintangku...

Saat pelangi mencari warna, aku menangis di sini. Terpaku dengan foto, dan segudang cerita cinta. Mereka tidak di sini, mereka di sana. Bersama ribuan foto, dan cerita yang mungkin tidak akan pernah mereka ceritakan.

Aku mengerti, mereka membuat iri dunia...

Mereka tidak harus mencintai, karena senyummu tidak pernah menyentuh hati mereka. Mereka tidak harus merindukan, karena bahkan mereka tidak pernah bertemu denganmu... warnaku...

Sekali lagi hatiku. Ini bukan mereka, bukan foto-foto mereka, bukan cerita mereka, bukan mimpi-mimpi mereka. Ini hatiku, sinarku, bintangku, warnaku...

Oleh: Arief Munandar

See More
Puisi: Sinarku, Bintangku, Warnaku ||
sepenuhnya.com

Terikat dengan mimpi yang tidak ingin kita perjuangkan, bersujud, dalam nurani insani. Setiap hari kita menyalahkan takdir, seakan kita telah berjuang mati-matian. Entah untuk apapun itu. Sampai aku menikah dengan seorang, dan engkau menikah dengan seorang, atau mungkin, sampai itu seterusnya.

Dan di sinilah bagian terbaik dari cinta, dimana selamanya, kita akan saling mencintai dalam diam. Karena mungkin, jika kita yang menikah, kita akan menghabiskan hari dengan saling meny...alahkan, lalu cinta terbunuh pelan-pelan. Dan satu-satunya yang akhirnya membuat kita tetap bertahan, adalah anak-anak kita.

Dan sekarang, di sinilah kita berdiri, di tempat orang-orang yang merasa dikecewakan. Iya, seorang lelaki yang tidak pernah peka, dan seorang wanita yang selalu memelihara gengsi. Terdiam, dalam sirat yang harusnya tersurat, terhenti, dalam kutukan seorang penakut. Setiap harinya kita berpura, seakan kita tidak pernah lebih buruk. Sampai aku menjadi diriku dengan yang lain, dan engkau menjadi dirimu dengan yang lain, atau mungkin, sampai kita mati menyendiri.

Dan beginilah sudut pandang cinta, dimana selamanya, kita akan saling mengharapkan. Karena mungkin, jika kita yang bicara, kita akan mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak seharusnya terdengar, lalu semuanya semakin lebih buruk. Hingga satu-satunya tempat yang tersisa untuk kita bersembunyi, adalah sekitar orang-orang yang merasa kita lebih baik jika kita tidak pernah bicara. Begitu menyedihkan, hingga kita menjalani hidup dengan air mata yang sama, setiap harinya.

Iya, lalu kita mati, menyesali hal-hal indah yang tidak pernah kita lakukan. Dan iya, kita mati, dalam keadaan tidak pernah memilih!

Oleh: Arief Munandar

See More
Terikat dengan mimpi yang tidak ingin kita perjuangkan, bersujud dalam nurani insani. Setiap hari kita menyalahkan takdir, seakan kita telah berjuang mati-matian, entah untuk apapun itu. Sampai aku menikah dengan seseorang, dan engkau menikah dengan
sepenuhnya.com

Kenangan-kenangan yang menghina kekuatan yang dia miliki, membuat dia lupa siapa dirinya. Nyanyian malam yang membius indah masa lalunya, dia bahkan tidak bisa berbuat banyak. Cahaya yang memeluk kekosongan malam itu, menyisakan ia bersama semua rasa sakit. Hatinya yang retak, karena pintu pernah terbuka. Kesombongan yang membuat dia lebih buruk. Hingga dia membuang diri.

Kalimat yang bergerak melingkar di pikiran, memaknai sambungan kata yang berujung pada tanda-tanda tanya ...biru. Dirinya yang lebih baik menunggu dia di sana, tapi dia hanya ingin memulai sesuatu yang pernah berakhir. Yang dia tau, dia hanya harus menyelamatkan dirinya sendiri, atau dia akan berdosa pada dirinya yang lain. Namun tujuannya tersembunyi di balik matahari pagi, dan dia harus menunggu suara ayam menyerupainya.

Aku tidak berani menghampiri, aku takut suaraku merusak mimpi-mimpinya. Jadi aku melihat dari jauh, air mata yang sudah lama kering karena dia telah lupa siapa yang harus dia tangisi. Dia menarik secarik kertas yang menunggu di dompetnya, berniat membeli kesenangan, tapi kertas itu bertanya, siapa lagi yang akan terluka hari ini?

Sekarang giliranku yang menangis, karena aku tau dia tak punya sesiapa di atas tanah. Semua yang pernah dia miliki, sudah berada di bawahnya, dan dia menanggung hidup sendirian. Dia hanya punya pikiran yang cantik, tapi tidak bisa dia pergunakan pada tempatnya. Dia hanya bicara, saat bajingan mendekatinya, karena begitulah cara dia menyambung nyawanya.

Oleh: Arief Munandar

See More
Kenangan-kenangan yang menghina kekuatannya, membuat dia lupa siapa dirinya. Nyanyian malam membius indah masa lalunya, dia bahkan tidak bisa berbuat banyak. Cahaya yang memeluk kekosongan malam itu, menyisakan ia bersama semua rasa sakitnya. Hatinya
sepenuhnya.com
Arief Munandar added a new photo.
July 20

Aku sudah terlalu banyak memberi, berharap terlalu jauh, dan itu hanya membuatku tidak punya apa-apa selain jalan pulang. Jadi aku mengambilnya sebelum aku mati di tempat orang-orang meludahi mayatku.

Aku sudah terlalu banyak bicara, menatap terlalu jauh, dan itu menyakitkan saat tidak ada siapapun yang mengerti. Jadi aku pergi dengan suara maaf dan semua terima kasih karena mencuri kisah hidupmu. Dan sekarang aku diam? Iya, aku diam kepada orang-orang tertentu.

=============...==========
Oleh: #AriefSigli di #Sepenuhnya
Link: https://goo.gl/VyHVnJ

See More
Image may contain: one or more people and text

-- Kelas 1 SMA --
Saat pelajaran kimia berlangsung, aku duduk di sana... menatap seorang gadis yang aku panggil "sahabat". Aku menatap senyumannya yang sehalus sutra, berharap dia adalah milikku. Tapi dia tidak melihatku dengan cara itu, dan aku tahu itu.

Pelajaran usai, dia berjalan ke arahku dan menyerahkan catatan yang telah dia catat saat pelajaran itu. Dia mengatakan "belajarlah untuk membawa buku ke sekolah" dan dia meletakkan tangannya di pipi kiriku. Aku ingin mengata...

Continue Reading

Ditantang bahasa asing oleh Ahmad Raj

Wahai kecemburuan hatiku, saat pandangan pertama; saat matamu bertemu dengan mataku, aku sangat gembira... Baca Selengkapnya di Sepenuhnya.com
lirik.sepenuhnya.com

Tersesat di sudut labirin hati ini,
Tiada yang bisa menuntunku kembali ke pemikiran.
Dunia begitu luas untukku,
Dan aku hanya bisa melihat satu...

...

Dan itu adalah kamu.

Mengambang tanpa bisa mencari langkah,
Tiada yang bisa aku lakukan selain menunggu.
Langit begitu tinggi untukku,
Dan semua hanya gelap kecuali satu...

Dan itu adalah kamu.

Maka sekali ini,
Biarkan aku meleleh di bibirmu,
Relakan aku bersembunyi di perasaanmu.

Biarkan aku satu kalimat,
Relakan aku berlutut di matamu,
Biarkan aku melamarmu.

Nah maukah kau...
Maukah kau menjadi istriku?

========================
#Puisi Itu Adalah Kamu...
Oleh #AriefSigli Di #Sepenuhnya

See More
Image may contain: one or more people, people standing, twilight, sky, cloud, outdoor and nature

Satu hal yang tidak bisa aku jelaskan,
Rindu ini bagaikan gulungan ombak;
Terkadang tenang, terkadang begitu menggebu,
Namun tetap tidak rela berhenti.

...

Satu hal yang tidak bisa aku mengerti,
Kota ini selalu mengingatkan aku akan kisah singkat bersamamu.

Di dalam jerih yang tidak bisa aku tebus,
Hanya doa yang mampu aku hibah.
Mungkin sejarah tidak akan sudi kembali,
Tapi kita punya pilihan untuk merajut kisah lain.

Kita hanya harus memulai,
Atau melanjutkan kisah-kisah yang sedikit terhenti;
Terhenti karena kita harus memilih,
Atau mengakhiri cita yang terlanjur kita pilih.

Wahai engkau gulungan fiksi, pulanglah...
Pulanglah...

Bagai kias bungkusan ombak;
Setiap saat mengikis pantai.
Menyita tanda sebuah tanya,
"Pernahkah pantai meninggalkan laut?"

Begitulah hatiku;
Remuk menyimpan ikhlas,
Dan masih tak sudi mengeluh.

Menunggu, hanya menunggu...
Berharap, hanya berharap...

Wahai engkau gulungan fiksi, pulanglah...
Pulanglah...
Bawakan aku senyuman penebus dosa...

===================
#Puisi Pulanglah...
Oleh #AriefSigli di #Sepenuhnya

See More
Image may contain: one or more people and text
Arief Munandar added a new photo.
March 22

Apa kau pernah jatuh cinta
pada seorang yang tidak seharusnya,
melawan perasaan
tapi kau tidak pernah bisa?

...

Jatuh lebih dalam,
berharap itu tidak pernah terjadi,
berusaha sembunyi
tapi hatimu terus tersakiti?

...Apa kau pernah?

Apa kau pernah melihat cahaya
saat matanya terbuka mengarah padamu,
lalu mengingatkan dirimu
bahwa itu tidak pernah terjadi?

Hal yang juga sering
berubah menjadi tatapan,
tapi kau berkilah dengan dirimu
bahwa kau tidak pernah peduli?

...Apa kau pernah?

Apa kau pernah merasakan isyarat
bahwa kau sedang jatuh cinta,
tapi terus mengatakan
dia hanyalah seorang teman?

Memupuk harap
bahwa itu tidak akan menjadi lebih,
menyimpan kebohongan
dari terjaga karena selalu memimpikannya?

...Apa kau pernah?

Apa kau pernah menangisi persahabatanmu
yang tidak siap menanggung risiko?
Apa kau pernah?
Apa kau pernah?

=================
#Puisi Ada apa dengan Cinta?
Oleh #AriefSigli di #Sepenuhnya

See More
Image may contain: one or more people, people standing, twilight, sky, cloud, outdoor and nature
Arief Munandar added a new photo.
March 21

Aku bisa merasakan tanganmu,
Jemari berdarah menjelajah kenangan.
Dan hanya satu yang ingin aku lakukan,
Menghilangkan semua kenangan-kenangan itu.

...

Aku bisa merasakan gerakanmu,
Langkah lelah sebab air mata cinta.
Dan hanya satu yang selalu kau ulang-ulang,
Jangan tambah derita hidupku.

Aku bisa merasakan nafasmu,
Bergerak cepat di atas laut kegelisahan,
Lapar dan bersenandung,
Berat dan ingin berbisik... tapi kau diam.

Aku bisa merasakan...
Kau adalah gadis yang berbahaya.

Bumiku bergetar di bawah senyummu yang sederhana.
Gunungku runtuh di bawah tatapmu yang berantakan.
Lautku hancur di bawah sentuhmu yang tidak berdosa.

Kau adalah gadis yang berbahaya.

Dan aku masih merasakan,
Rasa takut...
Pada semua yang kau lakukan.

=================
#Puisi Aku Bisa Merasakan
Oleh #Ariefsigli di #Sepenuhnya

See More
Image may contain: cloud, sky, text and outdoor
Arief Munandar added a new photo.
March 20

Hari itu,
Gelombang bergerak seperti para pecinta.
Tergesa mencari bibir pantai,
Menjadi yang tercepat.

...

Gejolak itu,
Berputar dan mengguling.
Dengan irama yang sempurna,
Dalam keramaian yang meriah.

Bersatu dalam tarian yang kusut,
Menangkap satu sama lain.
Menari maju dan mundur,
Entah apa yang mereka lakukan.

Bangkit dan jatuh,
Mereka bersatu untuk hancur.
Entahlah...

Atau jatuh dan bangkit,
Mereka bersatu untuk bahagia.
Entahlah...

=======================
#Puisi Gelombang Hari Itu
Oleh: #AriefSigli di #Sepenuhnya

See More
Image may contain: one or more people and text

Dunia sangat tinggi dari sini,
Dan semua hanya gelap kecuali satu...

Maka sekali ini,
Relakan aku meleleh di bibirmu,
Biarkan aku bersembunyi di matamu...
fiksi.sepenuhnya.com