Photos
Videos
Perjamuan Terakhir
1.4K
57
Mengenal Lonceng Kayu (Crotalus)
820
19
Mengapa Yesus Naik ke Surga Pada Hari ke-40?
409
5
Posts

TERLIBAT SAAT IBADAT

Bermedsos begitu asik. Di tempat umum, contohnya, orang di sebelah senyum-senyum, kegelian, sewot mandiri; larut ke dalam gawainya. Tapi, mengapa kita yang di sebelahnya tidak? Jawab: keterlibatan. Senyatanya, orang itu terlibat dengan “yang lain” di seberang sana, sementara kita tidak.

Itu gambaran orang beribadat, khususnya Misa. Dua umat duduk sebelahan: yang satu tersentuh hatinya, yang lain datar saja; yang satu digerakkan oleh Sabda, yang lain melan...tur bahkan tertidur. Orang yang bermedsos tadi mendapat sesuatu karena ia terlibat dengan “yang lain” di seberang sana. Demikian juga orang beribadat dengan terlibat, ia akan mendapat sesuatu. Karena itu, berusahalah terlibat dalam setiap ibadat (Misa). Makin engkau terlibat, makin mendapat sesuatu. Makin dirimu abai, tak terlibat, makin kering hatimu.

Terlibat dalam Misa artinya mengikuti “yang sedang terjadi” dengan sepenuh hati dan raga. Saat nyanyian, ikutlah menyanyi, bukan bungkam. Saat doa, ikutlah berdoa, bukan membisu. Saat hening, ikutlah hening, bukan jelalatan. Saat berdiri, ikutlah berdiri mantap, bukan bersandar bagai kain basah. Saat berlutut, ikutlah berlutut, bukan ogah-ogahan. Saat menyembah, sungguhlah menyembah, bukan asal gerak. Itu semua keterlibatan. Beribadat (Misa) itu terlibat. Yang tak terlibat? Gawat!

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie

See More
Engaged in worship Bermedsos is so cool. In a public place, for example, the person next to smile, is tickled, self-sustaining; late into gawainya. But, why are we on the other side? Answer: Engagement. Senyatanya, the man was involved with the other " on the other side, while we weren't. It's a depiction of people, especially misa. Two people sat down, one touched his heart, the other flat, the one moved by the word, the other rambling even fell asleep. The guy who bermedsos got something ' cause he was involved with the other one on the other side. He is the one who has been engaged. Therefore, try to get involved in every religion. The more you get involved, the more you get. The more you ignore, don't get involved, the more you dry. Involved in mass means to follow "What's happening" with all heart and soul. When singing, to sing, not silence. In Prayer, come to prayer, not mute. When you're quiet, don't be lazy. When you get up, you stay steady, not lean like wet rags. On your knees, get down on your knees, not the no. When worshipping, worshipping, not in motion. It's all involvement. (Misa) is involved. Who is not involved? Shit! Rev. D. Y. Istimoer bayu ajie
Translated
Image may contain: 1 person, sitting and indoor

EMBUN ROHANI PAGI dari Kota Ambon Manise :
MINGGU PRAPASKAH I,
18 Februari 2018:
Bac. I: Kej. 9 : 8 - 15
Bac. II : 1Ptr.3 : 8 - 22...
Injil : Mrk. 1 : 12 - 15

"ALLAH HADIR DALAM SETIAP SEPI DAN DERITAMU"

"Sesaat ketika sepi, sedih dan derita menyerangmu maka ketahuilah bahwa itulah saat Tuhan hadir menemanimu secara lebih dekat."

Ujian dan cobaan hidup bukan semata sebuah tantangan hidup melainkan sebuah peluang bagi kita untuk melihat sejauh manakah kita bergantung pada Allah.

Nabi Nuh, yang selamat dari air bah dijanjikan oleh Allah bahwa air bah tidak akan memusnahkan baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Janji itu terberi setelah Nuh mengalami penderitaan yang dasyat. Nuh tidak pernah berpaling dari Allahnya karena ia percaya bahwa air bah pasti berlalu dan kehidupan normal dapat ia jalani kembali.

Yesus pun mengalami kesendirian dan keterasingan di padang gurun di mana Ia harus mengalami cobaan dan penderitaan, tapi Ia tetap merasakan penyertaan Bapa-Nya lewat kehadiran Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menghibur dan menguatkan Yesus ketika mengalami cobaan dan godaan dari iblis di padang gurun.

Saudara dan saya, kita semua pun pernah mengalami pengalaman tersakiti, penderitaan, kesepian dan kesedihan. Kita bertanya diri; "Sejauh manakah saya mengandalkan dan merasakan kehadiran Tuhan di saat-saat seperti itu?"

Ingatlah kawan bahwa Tuhan tidak pernah jauh darimu. Ia ada di dalam hari-harimu teristimewa di saat badai menyerang, gelombang menghempas dan hidup diombang ambingkan oleh arus masalah2mu. Tetap berpegang pada janji Tuhan bahwa Ia pasti akan membebaskan dan menyelamatkanmu seperti yang pernah Ia lakukan terhada Nuh dan seisi bahteranya. Ia pun akan menguatkan dan menghiburmu seperti yang pernah Ia lakukan kepada Yesus, Putra-Nya dalam pencobaan di padang gurun.

Intinya, dalam moment-moment sepi dan deritamu, janganlah fokus pada besar dan beratnya masalahmu tapi rasakanlah kehadiran Tuhan, yang menghibur dan menguatkanmu.

Dan untuk merasakan kehadiran dan penyertaan Tuhan saat ini, datangilah gereja-gereja di hari suci nan kudus ini, karena sesungguhnya Ia sedang menantimu. Cepatlah ke sana karena Tuhan merindukanmu.

Selamat berhari Minggu untuk para sahabat sekalian.

Salam, doa dan berkat dari seorang sahabat untuk para sahabatnya (Rinnong - Duc in Altum)

See More
Morning Dew from Ambon City: Lent week, February 18, 2018 Blood. I: Gen. 9: 8-15 Blood. 1 PTR. 3: 8-22 Gospels: them. 1: 12-15 "Allah is present in every silence and yours" " a moment when it's lonely, sad and the pain comes to you, then know that it is when God comes with you Trials and trials are not merely a life challenge but a chance for us to see how far we depend on God. Nuh (Noah) said: " O Nuh (Noah)! A promise that terberi after Noah suffers a terrible affliction. Noah never turned away from Gods because he believed that the flood was bound to pass and a normal life could have gone back. Jesus endured solitude and alienation in the wilderness where he had to experience trials and suffering, but he still felt the entry of his father by the presence of the Holy Spirit. The Spirit of the fittest and strengthened Jesus when he suffered temptation and temptation from Satan in the wilderness. Brothers and I, we've all experienced a painful experience, suffering, loneliness and sadness. We ask ourselves; " as far as I'm concerned and feel the presence of God at times like that?" Remember that God is never far away from you. He was in the special days of the storm attacking, the waves slam and live diombang Kane by the flow of masalah2mu. Stick to the promise of God that he will surely release you and save you as he did Noah and the ark. It will strengthen and amuse you as he has done to Jesus, his son in temptation in the wilderness. The point is, in the moment of silence and your pain, do not focus on the great and the weight of your troubles, but feel the presence of God And to feel the presence and entry of the Lord at this time, go to the churches on this holy holy day, for surely he is waiting for you. Hurry up there because God misses you. Have a good week for friends. Greetings, prayer and blessings from a friend for his best friends (RINNONG - DUC IN ALTUM)
Translated
Posts

Pesan Santa Perawan Maria kepada Sr. Agnes Sasagawa di Akita Jepang pada 13 Oktober 1973:

“Karya setan akan merembes bahkan ke dalam Gereja begitu rupa hingga orang akan melihat kardinal melawan kardinal, uskup melawan uskup. Para imam yang menghormatiku akan dicemooh dan ditentang oleh rekan-rekan mereka … gereja-gereja dan altar-altar dihancurkan; Gereja akan dipenuhi dengan mereka yang menerima kompromi dan iblis akan menekan banyak imam dan jiwa-jiwa yang dipersembahkan b...agi Tuhan agar mereka meninggalkan pelayanan bagi Tuhan.”

Joseph Kardinal Ratzinger (yang kelak menjadi Paus Benediktus XVI), Kepala Kongregasi Ajaran Iman, mengeluarkan keputusan bahwa penampakan Santa Perawan Maria di Akita dan pesan-pesannya resmi diakui Gereja sebagai mukjizat dan dapat dipercaya. Jika Anda ingin mengetahuinya lebih lanjut mengenai penampakan Santa Perawan Maria dari Akita silakan membacanya pada tautan berikut:

http://yesaya.indocell.net/id1123.htm

See More

TIARA KEPAUSAN

oleh: Romo William P. Saunders

Mahkota kepausan, atau tiara, seturut tradisi dikenakan oleh para paus dari abad-abad lampau hingga masa pontifikat Paus Yohanes Paulus I. Seperti banyak benda upacara lainnya, tiara kepausan mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Oleh karena paus adalah Uskup Roma, penerus St. Petrus, ia mengenakan sebuah mitra untuk upacara-upacara liturgi; beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa kebiasaan ini berasal dari masa aposto...

Continue Reading
No automatic alt text available.
Gereja Katolik shared their photo.
20 hrs

5 KESALAHPAHAMAN UMUM MENGENAI KONSILI VATKAN II

Konsili Vatikan II yang diselenggarakan dari tanggal 11 Oktober 1962 hingga 8 Desember 1965 masih sering disalahpahami dari berbagai sisi oleh banyak umat Katolik. Penyebaran kekeliruan melalui media yang sangat cepat dan begitu intens mengenai Konsili Vatikan II semakin membuat kesalahpahaman tersebut mengakar dan tentu saja semakin sulit untuk dikoreksi. Tetapi, bagaimanapun juga, kita tidak dapat berada dalam kondisi seperti ini terus. Oleh karena itu, saya akan memaparkan sejumlah kesalahpahaman umum mengenai Konsili Vatikan II dan koreksinya.

Image may contain: 1 person, indoor
Gereja Katolik

5 KESALAHPAHAMAN UMUM MENGENAI KONSILI VATKAN II

Konsili Vatikan II yang diselenggarakan dari tanggal 11 Oktober 1962 hingga 8 Desember 1965 masih sering disala...hpahami dari berbagai sisi oleh banyak umat Katolik. Penyebaran kekeliruan melalui media yang sangat cepat dan begitu intens mengenai Konsili Vatikan II semakin membuat kesalahpahaman tersebut mengakar dan tentu saja semakin sulit untuk dikoreksi. Tetapi, bagaimanapun juga, kita tidak dapat berada dalam kondisi seperti ini terus. Oleh karena itu, saya akan memaparkan sejumlah kesalahpahaman umum mengenai Konsili Vatikan II dan koreksinya.

1. Konsili Vatikan II adalah konsili dogmatis.

Apa yang dimaksudkan dari pernyataan ini adalah Konsili Vatikan II merupakan konsili yang membuat dan mendeklarasikan ajaran (dogma dan doktrin) baru yang berbeda dari ajaran Gereja Katolik sebelum Konsili Vatikan II. Ajaran-ajaran Konsili Vatikan II dipandang sebagai satu-satunya ajaran Gereja yang berlaku untuk masa sekarang, sementara ajaran-ajaran konsili-konsili ekumenis sebelumnya tidak berlaku lagi.

Pernyataan di atas adalah keliru dan tidak pernah sesuai dengan apa yang diintensikan oleh Konsili Vatikan II sendiri. Konsili Vatikan II sungguh adalah magnum opus (karya besar) Gereja Katolik pada abad ke-20 tetapi sifat atau natur dari Konsili Vatikan II bukanlah konsili dogmatis melainkan konsili pastoral. Konsili Vatikan II secara umum berbicara bagaimana ajaran-ajaran Gereja yang sudah dipegang sejak Gereja berdiri tahun 33 AD disajikan dan diteruskan kepada dunia dalam bentuk yang lebih segar sesuai dengan perkembangan zaman serta bagaimana Gereja berinteraksi dengan dunia modern tanpa mengkompromikan ajaran-ajarannya. Berikut ini saya kutipkan pernyataan-pernyataan Para Bapa Konsili Vatikan II dan Joseph Cardinal Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI):

“Tujuan [Vatikan II] sejak pertama adalah pembaharuan pastoral dalam Gereja dan sebuah pendekatan baru kepada [dunia] luar.” (John Kardinal Heenan, Kardinal dan Uskup Agung Westminster, Bapa Konsili Vatikan II)

“Ada mereka yang bertanya atas otoritas apa, atas kualifikasi teologis apa Konsili [Vatikan II] berkehendak untuk memberikan kepada ajaran-ajarannya, dengan mengetahui bahwa konsili [Vatikan II] menghindari mengeluarkan definisi-definisi dogmatis yang meriah [yang] didukung oleh otoritas mengajar Gereja yang tidak bisa salah. Jawabannya [dapat] diketahui oleh mereka yang mengingat deklarasi konsili pada 6 Maret 1964 yang diulangi lagi pada 16 November 1964. Mengingat sifat pastoral dari Konsili [Vatikan II], [konsili ini] menghindari pernyataan secara luar biasa atas dogma apapun yang membawa tanda ke-tak-bisa-salah-an.” (Paus Paulus VI)

“ ... Memang ada mentalitas pandangan sempit yang mengisolasi Vatikan II dan yang telah memprovokasi pertentangan ini. Ada banyak hal darinya yang memberikan kesan bahwa, sejak Vatikan II dan sesudahnya, semuanya telah berubah, dan apa yang mendahuluinya (Vatikan II) tidak mempunyai nilai atau, paling tidak, hanya mempunyai nilai dalam terang Vatikan II. ... Konsili Vatikan II tidak diperlakukan sebagai bagian dari seluruh Tradisi yang hidup dari Gereja., tapi sebagai akhir dari tradisi, sebuah awal dari nol. Padahal sebenarnya adalah konsili ini tidak mendefinisikan dogma apapun, dan secara sengaja memilih untuk tetap berada pada level yang sederhana, hanya sebagai konsili pastoral; namun banyak yang memperlakukannya (Vatikan II) seakan-akan [Vatikan II] sendiri membuat dirinya (Vatikan II) menjadi suatu superdogma yang menghilangkan pentingnya semua [Tradisi hidup Gereja] yang lain. ... Satu-satunya cara yang mana untuk membuat Vatikan II masuk akal adalah untuk menyajikannya (Vatikan II) sebagai apa adanya; [yaitu sebagai] satu bagian dari ketidakterputusan, keunikan Tradisi dari Gereja dan dari imannya (Gereja).” (Joseph Kardinal Ratzinger, sekarang Paus Benediktus XVI, di hadapan para Uskup Cile.)

Ket: Terimakasih kepada Deusvult, moderator situs ekaristi.org, atas terjemahannya.

2. Konsili Vatikan II membatalkan dogma Extra Ecclesiam Nulla Salus (Di Luar Gereja Tidak Ada Keselamatan). Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “di luar Gereja ada keselamatan.”

Kesalahpahaman ini adalah konsekuensi dari kesalahpahaman pertama yang saya tulis di atas. Banyak umat Katolik menganggap bahwa dogma Extra Ecclesiam Nulla Salus adalah ajaran Gereja masa lalu yang sudah dibatalkan oleh Konsili Vatikan II dan digantikan dengan ajaran “Di Luar Gereja Ada Keselamatan” bahkan ada pula yang semakin memperluasnya menjadi “Di Luar Kristus Ada Keselamatan”. Malah banyak pula yang menyatakan Extra Ecclesiam Nulla Salus tidak pernah menjadi dogma Gereja Katolik, dulu dan sekarang. Konsili Vatikan II dipandang, oleh banyak umat Katolik sendiri, mengajarkan bahwa agama-agama lain dan gereja-gereja lain juga dapat menghantar setiap orang kepada keselamatan sama seperti Gereja Katolik menjadi tanda dan sarana keselamatan bagi semua bangsa. Dengan kata lain, agama-agama dan gereja-gereja tersebut menjadi jalan keselamatan yang komplementer terhadap Gereja Katolik.

Tentu saja hal di atas kesalahpahaman yang sama sekali tidak pernah diajarkan Konsili Vatikan II. Mengenai hal ini saya telah membahasnya secara lebih detail pada artikel: Apakah Konsili Vatikan II Menganulir Dogma EENS?. Apa yang diajarkan Gereja sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II adalah sama termasuk Dogma Extra Ecclesiam Nulla Salus. Saya pertegas kembali; DOGMA Extra Ecclesiam Nulla Salus. Karena EENS adalah DOGMA Gereja, maka setiap umat beriman Katolik terikat kewajiban untuk mengimani dogma ini sama seperti mengimani Dogma Tritunggal, Dogma Maria Bunda Allah dan dogma-dogma lainnya. Untuk membantu memahami Dogma EENS, saya telah menuliskan artikel berjudul: Di Luar Yesus Kristus dan Gereja Katolik Tidak Ada Keselamatan http://www.indonesianpapist.com/…/di-luar-yesus-kristus-dan…

Berikut ini saya tampilkan bukti-bukti dari dokumen Gereja Katolik yang menegaskan bahwa Konsili Vatikan II tidak menganulir dogma EENS:

Maka perlulah semua orang bertobat kepada Kristus, yang dikenal melalui pewartaan Gereja, dan melalui Babtis disaturagakan ke dalam Dia dan Gereja, yakni Tubuh-Nya. Sebab Kristus sendiri “dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan babtis (lih. Mrk 16:16; Yoh 3:5), sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui Babtis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang yang mengetahui bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.” (Konsili Vatikan II, Dekrit Ad Gentes 7)
Maka dari itu andaikata ada orang yang mengetahui bahwa Gereja katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan. (Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium 14)

Pernyataan dan Pengajaran Gereja Katolik setelah Konsili Vatikan II:

“Tidak ada keselamatan di luar Gereja. Hanya dari dialah (Gereja) kuasa hidup menuju Kristus dan RohNya mengalir secara pasti dan secara penuh, untuk memperbaharui seluruh kemanusiaan, dan karenanya mengarahkan setiap manusia untuk menjadi bagian dari Tubuh Mistik Kristus.” (Pope John Paul II, Radio Message for Franciscan Vigil in St. Peter's and Assisi, October 3, 1981, L'Osservatore Romano, October 12, 1981.)
Harus diimani dengan teguh bahwa Gereja adalah tanda dan sarana keselamatan bagi semua bangsa. Adalah bertentangan dengan iman Katolik untuk memandang berbagai agama dunia sebagai jalan-jalan keselamatan komplementer terhadap Gereja. (Kongregasi Doktrin Iman, Notifikasi Mengenai Tulisan Romo Jacques Dupuis, SJ., tanggal 24 Januari 2001)

“...adalah jelas bahwa menjadi bertentangan dengan iman, untuk menganggap Gereja sebagai satu jalan keselamatan yang ada berdampingan dengan jalan-jalan agama- agama lain, yang dilihat sebagai yang melengkapi Gereja atau yang secara hakiki sama dengannya, meskipun jika ini dikatakan sebagai pertemuan dengan Gereja menuju kerajaan Tuhan di akhir jaman.” (Deklarasi Dominus Iesus, dikeluarkan oleh Kongregasi Doktrin Iman tanggal 6 Agustus 2000)

3. Konsili Vatikan II mengamanatkan penerimaan Komuni Kudus di tangan sambil berdiri.

Konsili Vatikan II sama sekali tidak pernah mengamanatkan penerimaan Komuni Kudus di tangan sambil berdiri dalam dokumen-dokumennya. Selama berabad-abad bahkan hingga detik ini, norma resmi dan universal Gereja Katolik Latin mengenai penerimaan Komuni Kudus adalah penerimaan di lidah sambil berlutut.

Praktik menerima Komuni Kudus di tangan adalah indult atau pengecualian terhadap norma universal Gereja Katolik yang diberikan oleh Para Paus kepada konferensi-konferensi para uskup yang meminta indult tersebut di wilayahnya. Tanggal 29 Mei 1969 (4 tahun sesudah Vatikan II), dalam Instruksi Memoriale Domini, Paus Paulus VI mengamanatkan agar setiap konferensi para uskup mempertahankan norma tradisional penerimaan Komuni Kudus di lidah sambil berlutut. Namun, di samping itu juga, Paus Paulus VI menyatakan dapat memberi indult (pengecualian dari norma Gereja Universal) kepada konferensi-konferensi para uskup yang memintanya terkait penerimaan Komuni Kudus di tangan. Sejak 1970, banyak konferensi para uskup menerima indult tersebut. Romo Greg J. Markey membandingkan permintaan indult ini dengan kasus perceraian yang diizinkan Musa (bdk Mat 19:8). Karena ketegaran para uskup meminta indult Komuni di tangan, Paus Paulus VI mengizinkannya. Akan tetapi, sejak semula tidaklah demikian.

Silakan baca berbagai artikel mengenai penerimaan Komuni di lidah yang mau tidak mau juga membahas mengenai penerimaan Komuni di tangan.

Penjelasan Status Page Gereja Katolik Mengenai Komuni Di Lidah:
http://www.indonesianpapist.com/…/penjelasan-status-page-ge…

Kardinal Canizares, Uskup Schneider, Monsinyur Marini, Kardinal Ranjith tentang Komuni Kudus di Lidah: http://www.indonesianpapist.com/…/kardinal-canizares-uskup-…

4. Konsili Vatikan II membatalkan Misa Latin Tradisional (Forma Ekstraordinaria atau Tridentin) dan menggantikannya dengan Misa Paulus VI (Forma Ordinaria atau Novus Ordo).

Banyak umat Katolik (dan juga para imam) ketika mendengar mengenai Misa Latin Tradisional menganggap Misa ini sebagai Misa pra-Vatikan II yang jadul, kuno dan sudah tidak dirayakan lagi setelah Konsili Vatikan. Konsili Vatikan II dipandang menggantikan Misa ini dengan Misa yang umum kita rayakan sekarang yang dikenal dengan nama Misa Paulus VI (Novus Ordo). Anggapan salah yang terjadi kemudian adalah bahwa Misa Tridentin tidak berlaku lagi setelah Konsili Vatikan II.

Tentu saja Konsili Vatikan II tidak pernah menggantikan Misa Tridentin dengan Misa Novus Ordo ini. Vatikan II tidak pernah mengamanatkan hal ini. Misa Paulus VI sendiri diperkenalkan dan dipromulgasikan oleh Paus Paulus VI pada 3 April 1969 melalui Konstitusi Apostolik Missale Romanum. Setelah promulgasi ini, Paus Paulus VI tetap mengizinkan Misa Latin Tradisional dirayakan di berbagai tempat termasuk Inggris dan Wales. Dua imam kudus yang terkenal, St. Padre Pio dan St. Josemaria Escriva juga masih tetap merayakan Misa Latin Tradisional sampai Allah memanggil mereka.

Paus Benediktus XVI, dalam Motu Proprio Summorum Pontificum yang dikeluarkan tanggal 7 Juli 2007, menegaskan bahwa: “Karena itu, adalah diijinkan untuk merayakan Kurban Misa mengikuti edisi tipikal dari Misa Roma, yang dipromulgasikan oleh Beato Yohanes XXIII pada 1962 dan tidak pernah dibatalkan (abrogated), sebagai suatu bentuk luarbiasa dari liturgi Gereja.”

5. Konsili Vatikan II mengamanatkan bahwa kaum awam dapat membagikan Komuni Kudus.

Yang dapat dan berhak membagikan Komuni Kudus adalah kaum tertahbis, sementara kaum awam tidak dapat dan tidak berhak membagikan Komuni Kudus. Ini adalah norma universal-nya. Beato Yohanes Paulus II menegaskan norma universal ini dalam Dokumen Dominicae Cenae (1980). “To touch the sacred species and to distribute them with their own hands is a privilege of the ordained,”

Konsili Vatikan II sama sekali tidak mengamanatkan bahwa kaum awam dapat membagikan Komuni Kudus. Sama seperti penerimaan Komuni Kudus di tangan, praktik “kaum awam membagikan Komuni Kudus” merupakan indult (pengecualian dari norma Universal) yang diberikan atas persetujuan Tahta Suci. Immensae Caritatis, sebuah dokumen Gereja yang dikeluarkan oleh Kongregasi Penyembahan Ilahi dan Disiplin Sakramen pada tahun 1973, menjelaskan kondisi-kondisi di mana seorang awam, dikecualikan dari norma universal, dapat membagikan Komuni Kudus. Kondisi-kondisi itu adalah seperti tidak adanya kaum tertahbis yang dapat membagikan Komuni Kudus; kaum tertahbis berada dalam kondisi yang tidak sehat sehingga tidak dapat membagikan Komuni Kudus; dan kondisi di mana terdapat umat dalam jumlah yang sangat besar sehingga pembagian Komuni Kudus akan memakan waktu yang sangat lama bila hanya dibagikan oleh kaum tertahbis.

Demikianlah 5 kesalahpahaman umum mengenai Konsili Vatikan. Koreksi terhadap kesalahpahaman-kesalahpahaman tersebut dibuat atas dasar kasih dalam kebenaran. Sekarang saatnya kita memandang Konsili Vatikan II dengan benar, dengan memandangnya dalam keselarasan dengan konsili-konsili sebelumnya. Mari membiasakan yang benar ketimbang membenarkan kebiasaan.

Sumber: http://www.indonesianpapist.com/…/5-kesalahpahaman-umum-men…

✥ Instaurare Omnia in Christo ✥

See More
Gereja Katolik shared their post.
20 hrs

KELESUAN PARA PENJAGA IMAN

Image may contain: jewelry
Gereja Katolik

KELESUAN PARA PENJAGA IMAN

Indonesian Papist kali ini membagikan terjemahan tulisan Dietrich von Hildebrand dari bukunya berjudul “The Devastated Vineyard” bab ...1 yang ia beri judul “Kelesuan Para Penjaga”. Bab ini berisi keprihatinan besar Hildebrand mengenai kondisi Gereja setelah Konsili Vatikan II dan kekurangan yang nyata dari kepemimpinan gerejawi para uskup yang memiliki kewajiban untuk mendukung dan membela iman yang benar. Indonesian Papist turut mengambil keprihatinan yang sama dengan menerjemahkan tulisan Hildebrand. Dietrich von Hildebrand adalah seorang awam, baru menjadi Katolik pada usia 25 tahun, penulis banyak buku mengenai filosofi dan kekristenan. Ia dijuluki “Doktor Gereja era modern” oleh Paus Ven. Pius XII dan disebut sebagai seorang filsuf utama abad ke-20 oleh Paus Benediktus XVI. Pemikiran Hildebrand memberikan pengaruh dari beberapa karya terbaik Konsili Vatikan II termasuk mengenai apresiasi yang mendalam akan misteri perkawinan dan seksualitas. Paus Beato Yohanes Paulus II juga adalah salah seorang yang dipengaruhi oleh pemikiran Hildebrand mengenai perkawinan dan seksualitas. Dietrich von Hildebrand memiliki seorang istri bernama Alice von Hildebrand yang juga adalah teolog, professor dan filsuf terkemuka. Dietrich von Hildebrand meninggal pada 26 Januari 1977. Berikut ini terjemahannya:

Salah satu dari penyakit yang paling mengerikan dan menyebar luas dalam Gereja saat ini adalah kelesuan para penjaga Iman Gereja (lethargy of the guardians of the Faith of the Church). Di sini saya sedang tidak berpikir tentang para uskup yang adalah anggota “kolom kelima” yang ingin menghancurkan Gereja dari dalam, atau mengubah Gereja menjadi sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Saya sedang berpikir mengenai lebih banyak para uskup yang tidak punya niat seperti itu (niat seperti itu = menghancurkan Gereja atau mengubah Gereja menjadi sesuatu yang sepenuhnya berbeda), tapi tidak menggunakan apapun dari otoritas mereka ketika datang untuk melakukan intervensi melawan para imam atau teolog sesat (heretical theologians or priests) atau melawan penampilan-penampilan menghujat dalam ibadah publik (liturgi). Mereka juga menutup mata dan mencoba ostrich-style (gaya burung unta) untuk mengabaikan pelanggaran-pelanggaran pedih yang meminta kewajiban mereka untuk campur tangan; dan mereka takut diserang oleh pers atau media massa dan [takut] difitnah sebagai reaksioner, berpikiran sempit atau orang abad pertengahan. Mereka lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah. Kata-kata St. Yohanes Bosco diterapkan kepada mereka: “Kekuatan yang jahat dari manusia berada pada kepengecutan (cowardice) akan yang baik.”

Memang benar bahwa kelesuan mereka yang berada pada posisi berwenang (position of authority) adalah penyakit zaman kita yang menyebar luas di luar Gereja. Penyakit itu ditemukan di antara para orang tua, rektor-rektor perguruan tinggi dan universitas, kepala-kepala berbagai organisasi lainnya, para hakim, para kepala negara, dan lain-lain. Tetapi fakta bahwa penyakit ini bahkan telah masuk ke dalam Gereja adalah sebuah indikasi jelas bahwa perjuangan melawan semangat duniawi telah digantikan dengan berenang bersama semangat zaman dalam nama “aggiornamento”. Seseorang akan terpaksa untuk berpikir mengenai orang-orang upahan yang meninggalkan domba-dombanya kepada serigala-serigala ketika berefleksi mengenai kelesuan dari begitu banyak uskup dan superior yang, meskipun mereka sendiri masih ortodoks [1], [tetapi] tidak memiliki keberanian untuk campur tangan melawan ajaran-ajaran sesat yang paling mencolok dan segala macam pelanggaran-pelanggaran dalam keuskupan mereka atau tarekat (ordo) mereka.

Tetapi hal yang terutama paling menyebalkan adalah ketika uskup-uskup tertentu, yang diri mereka sendiri menunjukkan kelesuan terhadap kaum sesat (bidat), [tetapi] mengambil sikap otoriter yang keras kepada kaum beriman yang berjuang untuk ortodoksi (kelurusan ajaran) dan mereka yang sedang melakukan apa yang seharusnya uskup-uskup itu sendiri lakukan. Saya pernah diizinkan membaca sebuah surat yang ditulis oleh seorang pria di posisi yang tinggi dalam Gereja, [surat itu] ditujukan kepada sebuah kelompok yang telah secara heroik berjuang untuk iman yang benar, iman yang murni, ajaran Gereja yang sejati dan Paus. Kelompok ini telah mengatasi “kepengecutan dari orang baik” (cowardice of good men) yang St. Yohanes Bosko katakan, dan dengan demikan seharusnya menjadi sukacita terbesar para uskup. [Tetapi] surat itu berkata: “Sebagai Katolik yang baik, kalian hanya perlu melakukan satu hal; cukuplah menjadi taat kepada semua ketetapan uskup kalian.”

Konsepsi mengenai Katolik “yang baik” secara khusus mengejutkan pada masa di mana kedatangan era orang-orang awam modern secara terus-menerus ditekankan. Tetapi [konsepsi Katolik “yang baik”] adalah sepenuhnya salah untuk alasan ini: apa yang sesuai dengan masa di mana tidak ada ajaran-ajaran sesat terjadi dalam Gereja yang tidak secara langsung dikutuk oleh Roma, menjadi tidak sesuai dan tidak terjadi pada masa ketika ajaran-ajaran sesat yang belum dikutuk menjadi malapetaka dalam Gereja, bahkan menginfeksi beberapa uskup tertentu yang tetap berada pada jabatannya [sebagai uskup]. Sebagai contoh, haruskah kaum beriman pada masa ajaran sesat Arianisme - di mana mayoritas uskup adalah penganut Arianisme – membatasi diri mereka untuk menjadi baik dan taat kepada ketetapan-ketetapan para uskup [arian] ini ketimbang melawan ajaran sesat tersebut? Bukankah kesetiaan kepada ajaran Gereja yang benar diberikan prioritas di atas ketaatan kepada uskup? Bukankah justru berdasarkan kebajikan ketaatan mereka kepada kebenaran-kebenaran yang diwahyukan yang mereka terima dari Magisterium Gereja sehingga kaum beriman memberikan perlawanan? Apakah kaum beriman tidak seharusnya khawatir ketika hal-hal yang diwartakan dari mimbar adalah sepenuhnya tidak sesuai dengan ajaran Gereja? Atau ketika teolog-teolog tetap sebagai guru yang mengklaim bahwa Gereja harus menerima pluralisme dalam filosofi dan teologi [2], atau bahwa tidak ada kehidupan seseorang setelah kematian, atau mereka yang menolak percabulan sebagai sebuah dosa, atau bahkan menoleransi tampilan-tampilan immoralitas di publik, sehingga menyingkapkan kekurangpahaman yang menyedihkan akan dalamnya kebajikan Kristiani mengenai kemurnian.

Omong kosong dari para kaum sesat, baik para imam maupun awam, ditoleransi; [dengan demikian] para uskup dengan diam-diam menyetujui pemberian racun kepada kaum beriman. Tetapi para uskup ingin membungkam kaum beriman yang berjuang demi ortodoksi, orang-orang yang seharusnya dengan segala hak menjadi sukacita hati para uskup, penghiburan mereka, sumber kekuatan untuk mengatasi kelesuan mereka sendiri. Sebaliknya, orang-orang ini dianggap sebagai pengganggu perdamaian. Dan kemudian terjadi bahwa kaum beriman yang terbawa dalam semangat mereka dan mengekspresikan diri mereka sendiri bahkan ditangguhkan [oleh para uskupnya] dengan cara yang kurang bijaksana atau dibesar-besarkan. Hal ini dengan jelas menunjukkan kepengecutan yang tersembunyi di balik kegagalan para uskup untuk menggunakan otoritas mereka. Oleh karena mereka (para uskup) tidak memiliki apapun untuk ditakutkan dari orang-orang yang ortodoks; oleh karena orang-orang ortodoks tidak mengontrol media massa atau pers; maka orang-orang ortodoks ini bukan representasi opini publik. Dan karena ketaatan mereka kepada otoritas gerejawi, para pejuang untuk ortodoksi ini tidak akan pernah seagresif orang-orang yang disebut progresif. Oleh karena itulah, bila mereka (para pejuang ortodoksi ini) yang diperingatkan atau didisiplinkan, maka para uskup mereka tidak diserang oleh pers liberal dan difitnah sebagai reaksioner.

Kegagalan para uskup untuk menggunakan otoritas mereka yang diberikan Allah mungkin adalah, dalam konsekuensi praktis, kekacauan terburuk dalam Gereja saat ini. Karena kegagalan ini tidak hanya tidak menghentikan penyakit-penyakit spiritual, ajaran-ajaran sesat dan kehancuran kebun anggur Tuhan yang nyata dan berbahaya; kegagalan ini bahkan memberikan kendali kebebasan bagi kejahatan-kejahatan ini. Kegagalan menggunakan otoritas suci untuk melindungi iman yang kudus secara jelas membawa kepada disintegrasi Gereja.

Di sini, sebagaimana dengan kemunculan seluruh bahaya, kita harus berkata. “principiis obsta” (“hentikan kejahatan pada sumbernya”). Semakin lama seseorang membiarkan sebuah kejahatan berkembang, akan semakin sulit kejahatan itu dicabut lagi. Hal ini berlaku untuk membesarkan anak-anak, untuk kehidupan bernegara dan dalam sebuah cara yang spesial untuk kehidupan moral individu. Tapi adalah sungguh benar dalam cara yang sama sekali baru untuk intervensi dari otoritas gerejawi demi kebaikan umat beriman. Sebagaimana Plato katakan, “ketika kejahatan telah maju jauh, ... tidak pernah menyenangkan untuk menghilangkannya.”[3]

Tidak ada yang lebih salah daripada membayangkan bahwa banyak hal harus dibiarkan membabi buta dan melakukan yang paling buruk, dan bahwa seseorang harus menunggu dengan sabar sampai hal-hal itu mereda dengan sendirinya. Teori ini terkadang mungkin benar berkaitan dengan pemuda yang sedang melalui masa pubertas, tetapi teori ini sepenuhnya salah dalam pertanyaan-pertanyaan mengenai bonum commune (kebaikan bersama). Teori palsu ini terutama berbahaya ketika diterapkan kepada bonum commune Gereja yang kudus, melibatkan hujatan-hujatan dalam ibadah umum (liturgi) dan ajaran-ajaran sesat yang bila tidak dikutuk akan meracuni jiwa-jiwa yang tak terhitung jumlahnya. Di sini, adalah keliru untuk menerapkan perumpamaan tentang gandum dan ilalang.

Catatan:

1. Istilah “ortodoks” berarti keyakinan pada ajaran resmi Gereja Katolik yang kudus yang menyatakan kebenaran yang otentik dan diwahyukan serta dijamin dan dibimbing oleh Roh Kudus. Ekspresi “ortodoks” tidak merujuk kepada keanggotaan dalam Gereja Ortodoks yang belum bersatu dengan Katolik.

2. Istilah “pluralisme” adalah paham bahwa seseorang dapat memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda terkait dengan kebenaran iman yang sudah didefinisikan dan dideklarasikan secara tak dapat salah atau bahwa setiap filosofi memiliki tempat dalam Gereja yang kudus – menjadi sebuah relativisme yang absolut. Tentu saja selama tidak ada pendefinisian dan pendeklarasian ajaran yang diberikan mengenai pertanyaan akan iman, pendapat berbeda boleh diajukan oleh umat yang ortodoks. Sebagai contoh, mengenai Dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, Santo Thomas Aquinas dan Beato Duns Scotus memiliki pandangan yang berbeda. Ini terjadi pada abad pertengahan. Tetapi setelah pendeklarasian dogma ini secara definitif pada tahun 1854, umat Katolik tidak lagi dapat memegang pandangan yang berbeda atau kontra dogma ini.

3. Plato, Laws, no. 660.

Sumber:
http://www.indonesianpapist.com/…/kelesuan-para-penjaga-ima…

✥ Instaurare Omnia in Christo ✥

See More

Syukur kepada Allah.

Thank God.
Translated
Image may contain: 4 people, people smiling, people standing and shoes
Sinta Tiara Rini

Pematung dari Ganjuran Bantul menyerahkan patung Bunda Maria dan Tuhan Yesus untuk Gereja Santa Lidwina Bedog Sleman yang sebelumnya telah rusak oleh manusia yang tidak bertanggung jawab.

Berkat berlimpah untuk Pak Bagong dari Ganjuran.

UNDANGAN MISA LATIN TRADISIONAL

Tanggal: Minggu, 18 Februari 2018

Waktu: Pukul 11.00 WIB

...

Tempat: Kapel Biara FMM (Kompleks Sekolah Regina Pacis)
Jl. Palmerah Utara No. 1, Slipi, Jakarta Barat.

Panduan Google Maps menuju lokasi silakan klik:
https://goo.gl/maps/ufBXeMAz7VG2

*

• Hadirlah sekurangnya 20 menit sebelum Misa dimulai karena akan ada katekese tentang Misa Latin Tradisional ini.

• Seturut tradisi kuno Gereja Katolik, umat beriman dianjurkan untuk berbusana sopan dan kepada para perempuan walau bukan lagi merupakan kewajiban, disarankan untuk mengenakan kerudung Misa (mantilla), syal, skarf, atau kain berenda. Disediakan mantilla di depan pintu masuk gereja.

• Disediakan buku Tata Perayaan Ekaristi dalam dua bahasa, yaitu bahasa Latin dan bahasa Indonesia.

• Sebelum Misa Kudus umat dianjurkan untuk berusaha melayakkan diri dengan terlebih dahulu menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Kepada umat yang ingin menerima Sakramen Pengakuan Dosa dapat hadir lebih awal, misalnya sekitar 1 jam sebelum Misa Kudus dimulai.

“Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.” (1 Kor 11:27-28)

See More
Traditional Latin mass invitation Date: Sunday, February 18, 2018 Time: 11.00 pm (JKT) Venue: Fmm Monastery Fmm (Regina Pacis School Complex) JL. Palmerah no. 1, slipi, West Jakarta. Google Maps Guide to location please click: https://goo.gl/maps/ufBXeMAz7VG2 * • Be there at least 20 minutes before the mass begins because there will be katekese about this traditional Latin mass. • According to the ancient traditions of the Catholic Church, Muslims are encouraged to dress politely and to women although it is no longer an obligation, it is advisable to wear the veil of mass (Mantilla), scarves, skarf, Provides Mantilla at the entrance of the church. • Provides The Eucharist of the Eucharist book in two languages, which is Latin and Indonesian. • Before the holy mass of mankind is advisable to be eligible to be eligible to receive the sacrament of confession. To the people who wish to receive the sacrament of confession may be present early, for example about 1 hours before the holy mass begins. " so whoever does not deserve to eat bread or drink the cup of God, he has sinned against the body and the blood of God. Then let every man test himself and then he eat bread and drink from the chalice.
Translated
Image may contain: one or more people and people standing

EMBUN ROHANI PAGI dari Kota Ambon Manise :
Sabtu, 17 Februari 2018:
Bac. I: Yes. 58 : 9b - 14
Injil : Luk. 5 : 27 - 32

...

"SI PENDOSA MENJADI BERKAT BAGI PARA PENDOSA"

"Semua orang di sekelilingmu menjadi terberkati ketika engkau mau bertobat dan kembali kepada Allah."

Apa yang kita dapatkan dari Allah setelah kita bertobat dan berbalik kepada Allah?

Lukisan indah diberikan oleh nabi Yesaya sebagai jawaban atas pertanyaan di atas, yakni; "Apabila engkau bertobat dan berbalik kepada Allah maka terangmu akan bersinar dalam gelap; Tuhan akan membaharui kekuatanmu; Engkau seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan; dan Tuhan akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan." Demikian pun yang terjadi setelah pertobatan Lewi, si pemungut cukai yakni Tuhan sendiri datang, bertamu dan makan di rumahnya."

Hikmat dan pelajaran penting yang bisa kita petik dari Injil hari ini, yakni:

1) Pertobatan membuka pintu-pintu rahmat Allah untukmu. Rahmat Tuhan tercurah dan mengalir deras kepadamu setelah pertobatanmu;

2) Bukan hanya engkau yang terberkati melainkan seluruh isi rumahmu bahkan orang-orang di sekitarmu pun akan terberkati sama seperti Lewi yang bertobat sehingga menjadi jembatan bagi banyak orang berdosa lain untuk bertobat dan bertemu dengan Yesus, Sang Juruselamat;

3) Harta terindah yang Anda akan dapatkan setelah pertobatanmu adalah jaminan berkat Tuhan kepadamu selama hidup di dunia ini berupa kesejahteraan dan kebahagiaan, serta keselamatan jiwa setelah kematianmu.

Karena itu, kuajak para sahabat sekalian di akhir pekan ini; Ayo! Mari berlomba-lomba untuk bertobat, sebab apa yang kita dapatkan setelah pertobatan adalah bukan hanya pengampunan Allah, melainkan juga rahmat dan berkat kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

Sungguh, engkau akan menjadi contoh dan teladan teristimewa menjadi berkat bagi sesama setelah pertobatanmu.

Selamat berakhir pekan untuk para sahabat sekalian.

Salam, doa dan berkat dari seorang sahabat untuk para sahabatnya (Rinnong - Duc in Altum)

See More
Morning Dew from Ambon City: Saturday, February 17, 2018: Bac. I: Yes. 58 : 9b - 14 The Bible, luk. 5: 27-32 "the sinners be blessed for the sinners" " everyone around you is blessed when you want to repent and return to God." What do we get from God after we repent and turn to God? The beautiful painting was given by Isaiah as an answer to the question above, " if you repent and turn to God, then will shine in the dark. God will update you. You are like a garden which is good. And Your Lord will make you go through the hills, and the people of the house. Wisdom and vital lesson that we can pluck from the bible today, namely: 1) for the mercy of God's mercy for you. The Mercy of your Lord will pour forth from you, and flow towards you 2, not only you are blessed but the rest of your houses, even those of you who have been blessed, are blessed as those who have repented. 3) the most beautiful treasure you will get after pertobatanmu is a guarantee God's blessing to you during life in this world is well-being and happiness, and the salvation of the Because of that, I'm going to take my best friends this weekend; come on! Let go of the race, for what we earn after the repentance is not only the forgiveness of Allah, but a mercy and a blessing of prosperity and happiness. Indeed, you will be an example and a special example to be blessed for each other after pertobatanmu. Have a good weekend for friends. Greetings, prayer and blessings from a friend for his best friends (RINNONG - DUC IN ALTUM)
Translated

“Bunda Kudus, kami tidak meminta padamu sebuah mukjizat. Kami tidak memohon padamu agar menghentikan penganiayaan ini. Namun, kami memohon agar engkau menghibur kami yang sangat lemah ini.” — Ignatius Kardinal Kung Pin-Mei

" Holy Mother, we did not ask you a miracle. We're not begging you to stop this persecution. However, we implore you to entertain us the very weak."-Ignatius Cardinal Kung-Mei
Translated
Image may contain: 1 person, standing
Kutipan Katolik

“Bunda Kudus, kami tidak meminta padamu sebuah mukjizat. Kami tidak memohon padamu agar menghentikan penganiayaan ini. Namun, kami memohon agar engkau menghibur... kami yang sangat lemah ini.” — Ignatius Kardinal Kung Pin-Mei

*

“Holy Mother, we do not ask you for a miracle. We do not beg you to stop the persecutions. But we beg you to support us who are very weak.” — Ignatius Cardinal Kung Pin-Mei

See More

KARDINAL IGNATIUS KUNG PIN-MEI (BAGIAN II)

Kunjungan Kardinal Sin

Upaya bagi pembebasan Uskup Kung terus-menerus dilakukan, baik oleh keluarganya di bawah pimpinan Joseph Kung - kemenakannya, organisasi-organisasi hak asazi manusia, termasuk Amnesti Internasional, Palang Merah, pemerintah Amerika Serikat, dsbnya. Akhirnya, pada tanggal 3 Juli 1985, Uskup Kung dibebaskan dari penjara untuk menjalani tahanan rumah selama 10 tahun di bawah pengawasan ketat para uskup Asosiasi Pa...

Continue Reading
Image may contain: 1 person, standing

KARDINAL IGNATIUS KUNG PIN-MEI (BAGIAN I)

Masa Kecil Hingga Ditahbiskan sebagai Uskup

Ignatius Kung (Gong) Pin-Mei dilahirkan pada tanggal 2 Agustus 1901 di Pudong, daerah pinggiran timur kota Shanghai, dalam sebuah keluarga yang telah turun-temurun memeluk agama Katolik. Ignatius adalah yang sulung dari empat bersaudara. “Hingga usia 12 tahun, kami - kedua saudara, seorang saudari dan saya - mendapatkan pendidikan di rumah dari bibi kami, Bibi Martha - seorang biarawati `yan...

Continue Reading
Image may contain: 1 person, smiling, standing
Image may contain: food
Missa Latina

Ikan dan tempe goreng, labu rebus sambal terasi, mie goreng, es kelapa muda, dan kolak pisang labu.

Sebagai pengingat saja bahwa pada hari Jumat, setiap umat be...riman [Katolik] yang telah berumur genap empat belas tahun; sampai awal tahun ke enampuluh (Kan. 1252), diwajibkan untuk berlaku pantang makan daging atau makanan lain yang dapat dipilih sendiri jenisnya.

Berikut ini kami tawarkan pilihan menu sebagai inspirasi.

Mie goreng

Bahan-bahan:
1 bungkus mie telor
3 sdm kecap manis
1 sdt lada bubuk
1/2 sdt garam
1 sdm minyak

Bumbu halus:
4 siung bawang putih
5 siung bawang merah
2 buah kemiri
1 sdm ebi kering, cuci dan rendam
3 buah cabe rawit (opsional)

Pelengkap:
Udang secukupnya, kupas kulit
bakso ikan secukupnya
1 ikat pokcoy
1/2 buah wortel, potong korek
1 buah telur, kocok
1 sdt garam
1 sdt kecap ikan
1 sdt kaldu jamur
Sedikit air

Langkah pembuatan sbb.

Rebus mie hingga matang. Tiriskan, aduk merata dengan kecap manis, lada bubuk, garam dan minyak
Tumis bumbu halus, masukkan bahan pelengkap, bumbui, oseng hingga matang. Tambahkan sedikit air jika terasa kering. Masukkan mie. Aduk rata

Sajikan

----
Es kelapa muda

Bahan-bahan:
- 1 bungkus nutrijel plain (15 gr)
- 1 sachets susu kental manis warna putih
- 1 bungkus santan kara kecil
- 3 sdm gula pasir/ sesuai selera
- sedikit garam
- 500 ml Air/air kelapa jadi lebih enak
- pelengkap syrup sesuai selera.

Cara membuat:
- Campur semua bahan lalu masak hingga mendidih sambil terus di aduk.
- Tuangkan kedalam wadah, biarkan uapnya mneghilang baru dimasukkan kedalam kulkas.
- Setelah dingin, kita keruk menggunakan alat pengeruk kelapa muda.
- Kelapa Muda KW siap untuk dihidangkan dengan aneka minuman dingin sesuai selera. Seger

----
Kolak Pisang labu

Bahan-bahan
6 buah pisang kepok matang
1/3 potong labu kuning
1500 ml santan
2 batang kayu manis
secukupnya gula merah dan garam

Urutan langkahnya:

Tuang semua bahan ke dalam panci, aduk2 sesekali biar santannya gak pecah, kalo dah mendidih angkat.

---
Non ut edam vivo, sed ut vivam edo.
Bukan aku hidup untuk makan Tapi aku makan untuk hidup.

Sumber resep: Group Langsung enak dan Cookpad

PS.
Hukum Kanonik Gereja Katolik (KHK) 1250-1252:
Kan. 1250 Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa Pra-paskah.

Kan. 1251 Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.

Kan. 1252 Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.

PSS.
Daging yang dimaksud dan tidak dimakan adalah daging dari binatang mamalia dan dari hasil peternakan, dan daging yang plg dihindari adalah daging sapi, babi, ayam, dan kalkun. Sementara dagingnya dilarang, produk non-daging dari binatang2 itu tidak dilarang (susu, keju, mentega, dan telur). Untuk ikan/seafood tidak termasuk kategori daging, karena bahasa Latin untuk daging “caro” darimana asal kata bahasa Inggris “Carnivore” dan “carnivorous” berasal, dan tidak pernah dimaksudkan untuk ikan (seafood).

credit foto: Yuni Rahmadani

See More

Inilah yang sebenarnya terjadi dalam setiap Misa.

This is what actually happens in every mass.
Translated
What happens during a Catholic Mass.
youtube.com

EMBUN ROHANI PAGI dari Kota Ambon Manise :
Jumat, 16 Februari 2018:
Bac. I: Yes. 58 : 1 - 9a
Injil : Luk. 9 : 14 - 15

...

YESUSLAH KEKUATAN JIWA RAGA DALAM PUASAMU

"Puasa dan pantang tanpa membantu dan berbagi kepada sesama adalah tindakan yang sia-sia belaka."

Tuhan mengingatkan kita sekalian lewat nabi Yesaya: "Berpuasa yang kukehendaki adalah : engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk; membagi-bagi rotimu bagi orang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin dan tak punya rumah; dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian, dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri."

Jadi, ada beberapa hal penting dalam puasa dan pantang kita adalah:

1) Memberikan waktu khusus untuk Tuhan dalam doa-doa kita. Selama masa prapaskah, Tuhan harus diutamakan. Kita mengurangi waktu untuk menikmati kesenangan tubuh, duniawi dan berbalik, lalu bermesraan dengan Tuhan lewat dan dalam doa-doa kita;

2) Mengurangi makanan dan keperluan untuk diri kita agar kita mempunyai sesuatu untuk dapat berbagi kepada sesama kita;

3) Kekuatan sekaligus kegembiraan hati dan jiwa selama berpuasa dan berpantang adalah Yesus. Ketika engkau bermesraan dengan Dia dalam doa-doamu maka lapar dan haus tidak akan menyiksamu

Karena itu, dalam segalanya, ingatlah bahwa doa-doamu selama masa puasamu kiranya mendorong hati dan tanganmu untuk dapat berbagi kepada sesama yang sangat memerlukan uluran tanganmu.

Selamat beraktivitas untuk para sahabat sekalian.

Salam, doa dan berkat dari seorang sahabat untuk para sahabatnya (Rinnong - Duc in Altum)

See More
Morning Dew from Ambon City: Friday, February 16, 2018: Bac. I: Yes. 58 : 1 - 9a The Bible, luk. 9: 14-15 Jesus body strength in puasamu " fasting and abstinence without helping and sharing to each other is a hopeless act." God reminds us of the Lord of Isaiah, you must open the shackles of tyranny and release the yoke of the yoke of the people of the yoke of the yoke of the poor. Naked, so that you may give her clothes, and do not hide yourself against your own brother." So, there are some important things in fasting and our abstinence are: 1) gives a special time for God in our prayers. During Lent, God must come first. We reduce time to enjoy the pleasure of the body, earthly and turn around, then make out with God through and in our prayers; 2) reduce food and needs for ourselves so we have something to share with each other; 3) strength and joy of heart and soul during fasting and abstinence is Jesus. When thou any with him in your prayers then hunger and thirst will not torture you Therefore, in everything, remember that your prayers during the time of puasamu would push your hearts and hands to be able to share to one who desperately needed your hand. Good-bye to the ladies. Greetings, prayer and blessings from a friend for his best friends (RINNONG - DUC IN ALTUM)
Translated

“Yesusku! Betapa mengagumkan Sakramen Kudus ini! Engkau mau bersembunyi dalam rupa roti untuk membuat diri-Mu dicintai dan dikunjungi oleh siapa saja yang merindukan-Mu!” — St. Alfonsus Maria de Liguori

"! How wonderful this holy sacrament is! You want to hide in the form of bread to make yourself loved and visited by anyone who misses you!" st. Alphonsus Maria de liguori
Translated
Image may contain: one or more people, people standing and indoor
Kutipan Katolik added a new photo to the album: Ekaristi Kudus.

“Yesusku! Betapa mengagumkan Sakramen Kudus ini! Engkau mau bersembunyi dalam rupa roti untuk membuat diri-Mu dicintai dan dikunjungi oleh siapa saja yang merin...dukan-Mu!” — St. Alfonsus Maria de Liguori

*

“My Jesus! What a lovable contrivance this Holy Sacrament was — that You would hide under the appearance of bread to make Yourself loved and to be available for a visit by anyone who desires You!” — St. Alphonsus Maria de Liguori

Photo: Eucharistic Adoration on the Feast of Corpus Christi 2017 at the Church of St. Anne of Cordoba, in Spain.

Photos credit: Antonio Varo Pineda

See More