Photos
Videos
#Makna_sholawat_fatih إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا " Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ والخاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الحَقِّ بَالحَقَّ والهَادِي إلى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ وعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ “Ya Allah berikanlah Rahmat yang disertakan ta’zhim kepada penghulu kami Nabi Muhammad sebagai pembuka apa yang tertutup dan yang menutup sesuatu yang terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran yang memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus. Dan kepada keluarganya, sebenar-benar pengagungan padanya dan kedudukan yang agung.” ========================================= الفاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ Sebagai pembuka apa yang tertutup أى الذي فتح ما كان مغلقاً من الوجود. إذ لو لاه صلى الله عليه وسلم ما وجد موجود ولا أخرج من العدم إلى الوجود. فهو السبب الأوحد في وجود جميع الخلق كما أنه صلى الله عليه وسلم السبب في إفاضة الرحمة على كل موجود. فلو لا وجوده صلى الله عليه وسلم ما رحم موجود. فهو صلى الله عليه وسلم الذي فتح الأغلاق. وجوده إيجادا وإمدادا Maksudnya yang membuka apa-apa yang terkunci dari segala yang ada di dalam wujud. Sebab jika bukan karena beliau, niscaya tidak akan ada apa-apa di alam semesta, dan tidak akan dikeluarkan dari ketiadaan kepada alam wujud. Jadi, beliaulah yang menjadi penyebab satu-satunya bagi keberadaan segala makhluk sebagaimana beliau saw merupakan penyebab berlimpahnya rahmat kepada seluruh makhluk. Jadi, kalau bukan karena keberadaan beliau saw, niscaya alam semesta tidak memperoleh rahmat. Jadi, beliau saw adalah yang membuka kunci-kunci. Keberadaan beliau merupakan sarana bagi keberadaan dan pertolongan. والخاتِمِ لِمَا سَبَقَ Dan yang menutup (mengakhiri) sesuatu yang terdahulu أى الذي ختم ما سبق من النبوة والرسالة. فلا نبي ولا رسول بعده صلى الله عليه وسلم Artinya yang menutup (mengakhiri) apa-apa yang sebelumnya, Seperti kenabian dan kerasulan. Jadi, tidak akan ada Nabi maupun rasul sesudah beliau saw. نَاصِرِ الحَقِّ بَالحَقَّ Penolong kebenaran (agama) dengan kebenaran أى ناصر دين الله تعالي بالحق والجد غير ناصر له بالباطل والهزل. فلفظ الحق الأولى المراد بها الدين. والثانيه المراد بها ضد الباطل والهزل. Artinya yang membela agama Allah Ta'ala dengan kebenaran dan bersungguh-sungguh, bukan membelanya dengan cara yang bathil dan bermain-main. Jadi kata "haqq" yang pertama yang dimaksud adalah agama, dan kata "haqq" yang kedua yang dimaksud adalah lawan dari kata "bathil dan olok-olok". والهَادِي إلى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ Yang memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus. أى الدال إلى طريقك القويم الذي لا إعوجاج فيه. وهو دين الإسلام Artinya yang menunjuki ke jalan-Mu yang lurus yang tiada mengandung kebengkokan, yaitu agama islam. وعَلَى آلِهِ Dan kepada keluarganya الآل في مقام الدعاء جميع الأمة. لكن لابد من ملاحظة قرابته صلى الله عليه وسلم بمزيد تعظيم Kata "al-aalu" di dalam tatanan doa, adalah berarti seluruh umat beliau. Tetapi haruslah dengan mempertimbangkan kerabat beliau saw dengan lebih menghormati mereka. حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ Sebenar-benar pengagungan padanya dan kedudukan yang agung أى قدر قدره ومقداره الذي لا حد له. والقدر والمقدار بمعنى واحد فعطفه عليه عطف مرادف. Artinya kadar dari kebesaran beliau dan kedudukan beliau yang agung yang tiada batasnya. Kata Qadar dan kata Miqdar mempunyai makna yang sama. Dengan meng"athof"kannya berarti "athof" kata yang senada. والمعنى Pengertiannya اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ والخاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الحَقِّ بَالحَقَّ والهَادِي إلى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ وعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ. صلاة يكون مبلغاً قدر مبلغ رسولك صلى الله عليه وسلم “Ya Allah berikanlah Rahmat yang disertakan ta’zhim kepada penghulu kami Nabi Muhammad sebagai pembuka apa yang tertutup dan yang menutup sesuatu yang terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran yang memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus. Dan kepada keluarganya, sebenar-benar pengagungan padanya dan kedudukan yang agung.” Yaitu sholawat yang sepadan dengan kebesaran Rasul-Mu saw. فانظر إلى ما بلغه الرسول صلى الله عليه وسلم، وإلى طلب المصلي من الله أن يصلي على حبيبه صلى الله عليه وسلم قدر ما بلغه تعرف فضل هذه الياقوتة الفريدة الذي لا حد له. Perhatikanlah puncak ketinggian Rasul Saw, dan betapa Allah Ta'ala memerintahkan agar orang bersholawat kepada kekasih-Nya saw, yaitu kadar yang tidak dapat diketahui batas keutamaan al-Yaqutati al-Faridati ini yang tidak ada batasnya. الفتح الرباني ٥٤
13
 #PENTINGNYA_ILMU_TAUHID Sesungguhnya ilmu yang membahas tentang keimanan kepada Allah dengan mengetahui sifat-sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia, paling tinggi kedudukannya, paling wajib diketahui dan hal pertama yang harus diketahui. Ilmu ini dinamakan ilmu ushul, ilmu tauhid, ilmu kalam dan ilmu aqidah. Rasulullah menyatakan secara tegas bahwa beliau sangat memperhatikan ilmu ini seraya bersabda: أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللّهِ وَأَخْشَاكُمْ لَهُ “Aku adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah dari pada kalian dan aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dari pada kalian.” (HR. al-Bukhari) Maka ilmu ini merupakan ilmu yang paling penting untuk dicapai dan ilmu yang harus diutamakan dan diagungkan. Allah berfirman: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19) Di dalam ayat ini disebutkan bahwa perintah mengetahui tauhid lebih didahulukan dari pada perintah istighfar, karena tauhid berkaitan dengan ilmu ushul, sedangkan istighfar berkaitan dengan ilmu furu’ (ilmu tasawwuf). Maka mempelajari ilmu tauhid harus didahulukan dari pada ilmu fiqih, tasawwuf, hadits dan ilmu-ilmu lain. Rasulullah menyatakan bahwa ibadah yang paling utama secara mutlak adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah bersabda: أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ إِيْمَانٌ بِاللّهِ وَرَسُوْلِهِ “Perbuatan yang paling utama adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari) Ilmu tauhid juga merupakan di antara syarat sah diterimanya suatu ibadah apapun, baik itu ibadah shalat, puasa, zakat, haji, shadaqah, berdzikir dan lain-lain. Orang yang tidak mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya, maka ibadahnya tidak diterima. Begitu juga orang yang mengenal / meyakini Allah dengan keyakinan yang salah, seperti meyakini Allah berada di langit, maka ibadahnya tidak diterima. Al-Imam al-Ghazali menyatakan: لَا تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ “Tidak sah ibadah seseorang kecuali setelah dia mengetahui Tuhan yang disembah.” Di antara point pertama ilmu tauhid adalah Allah ada (wujud). Keberadaan Allah tidak sama dengan keberadaan makhluk. Bukti bahwa Allah ada adalah alam ini dengan segala isinya. Pergantian siang dan malam yang teratur, perjalanan matahari dan bulan yang silih berganti, penciptaan manusia yang sempurna, berfungsinya anggota tubuh dengan baik, butuhnya manusia akan udara serta air dan sebagainya. Peristiwa semua ini tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Hal ini pasti ada yang menciptakan dan yang mengaturnya, yaitu Allah ta’ala. Allah berfirman: أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللّٰهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُوْنَ “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar dengan melihat kepada Tuhannya (di akhirat).” (QS. Ar-Rum: 8) Allah ada sebelum terciptanya alam, Allah ada sebelum manusia, malaikat, dan jin diciptakan, Allah ada sebelum bumi diciptakan, Allah ada sebelum langit dan arsy diciptakan. Allah-lah yang menciptakan semua makhluk ini. Allah menciptakan makhluk ini untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, bukannya Allah butuh kepada makhluk. Jadi Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Allah tidak di langit, Allah tidak di arsy dan Allah tidak di mana-mana. Allah ada tanpa tempat, karena tempat adalah makhluk. Allah berfirman: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11) Ayat di atas adalah ayat yang paling jelas di dalam al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya. Al-Imam Abu Hanifah menyatakan: أَنَّى يُشْبِهُ الْخَالِقُ مَخْلُوْقَهُ “Mustahil Allah menyerupai makhluk-Nya.” Mustahil Allah menyerupai sifat-sifat makhluk. Di antara sifat-sifat makhluk adalah bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, naik, turun dan sebagainya. Rasulullah bersabda: كَانَ اللّٰهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُه “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya.” (HR al-Bukhari, al-Baihaqi dan Ibn al-Jarud). Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk). Sayyidina Ali berkata: إِنَّ الَّذِيْ أَيَّنَ الْأَيْنَ لَا يُقَالُ لَه أَيْنَ وَإِنَّ الَّذِيْ كَيَّفَ الْكَيْفَ لَا يُقَالُ لَه كَيْفَ “Sesungguhnya yang menciptakan tempat tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat) dan yang menciptakan sifat-sifat makhluk tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana.” (diriwayatkan oleh Abu al-Muzhaffar al-Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hlm 98). Imam ath-Thahawi menyatakan: وَمَنْ وَصَفَ اللّهَٰ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِى الْبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَ “Dan barangsiapa yang mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia, maka ia telah kafir.” Di antara sifat manusia adalah duduk, bertempat, bergerak, diam, berada pada satu arah atau tempat, berbicara dengan huruf, suara dan bahasa. Imam Ahmad ar-Rifa’i menyatakan di dalam kitabnya “al-Burhan al-Muayyad”: صُوْنُوْا عَقَائِدَكُمْ مِنَ التَّمَسُّكِ بِظَاهِرِ مَا تَشَابَهَ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَإِنَّ ذٰلِكَ مِنْ أُصُوْلِ الْكُفْرِ “Jagalah aqidah kalian dari berpegangan kepada zhahir ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran.” Contoh ayat mutasyabihat adalah firman Allah surat Thaha: 5: اَلرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَي Ayat ini tidak boleh dipahami makna zhahir. Karena kata istawa mempunyai banyak arti, di antaranya duduk, menetap, lurus, matang, menguasai, dan lain-lain. Makna yang sesuai bagi Allah adalah menguasai (al-Qahhar) dan Allah menamakan Dzat-Nya dengan al-Qahhar, sebagaimana dinyatakan di dalam surat Yusuf: 39: اَللّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ. Oleh karena itu, kaum muslimin menamakan anak-anak mereka dengan Abdul Qahir dan Abdul Qahhar. Tidak ada seorang pun yang menamakan anak-anak mereka dengan Abdul Jalis atau Abdul Qa’id (yaitu hamba dari dzat yang duduk). Sayyidina Ali berkata: إِنَّ اللّهَ خَلَقَ الْعَرْشَ إِظْهَارًا لِقُدْرَتِهِ وَلَمْ يَتَّخِذْهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ “Sesungguhnya Allah menciptakan arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya dan Dia tidak menjadikannya sebagai tempat bagi Dzat-Nya.” (Diriwayatkan oleh Abu Manshur al-Baghdadi di dalam kitab al-Farq bayna al-Firaq) Begitu juga al-Imam Malik menyatakan: اَلرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَلَا يُقَالُ كَيْفَ، وَكَيْفَ عَنْهُ مَرْفُوْعٌ “Allah yang maha Rahman istawa terhadap arsy sebagaimana Dia telah mensifati Dzat-Nya, tidak boleh dikatakan bagi-Nya sifat-sifat makhluk dan sifat-sifat makhluk bagi-Nya mustahil.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab al-Asma’ wa ash-Shifat) Imam Ahmad ar-Rifa’i berkata: غَايَةُ الْمَعْرِفَةِ بِاللّٰهِ اْلإِيْقَانُ بِوُجُوْدِه تَعَالٰى بِلَا كَيْفٍ وَلَا مَكَانٍ “Batas akhir pengetahuan seorang hamba tentang Allah adalah meyakini bahwa Allah ta’ala ada tanpa bagaimana (sifat-sifat makhluk) dan ada tanpa tempat.” Inilah keyakinan Rasulullah, para sahabat, para imam mujtahid dan mayoritas kaum muslimin. Ulama’ tasawwuf yang telah mencapai derajat tinggi keyakinannya adalah Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Tidak lantas karena sudah mencapai derajat tinggi, mereka bisa membayangkan Allah, atau mereka mengetahui hakekat Allah. Imam Ahmad ibn Hanbal dan Imam Tsauban ibn Ibrahim Dzun Nun al-Mishri berkata: مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فَاللّٰهُ بِخِلَافِ ذٰلِكَ “Apapun yang terlintas dalam pikiranmu tentang Allah, maka Allah tidak seperti itu.” Allah adalah Tuhan, Allah tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Allah bukan benda dan bukan sifat benda. Oleh karena itu, Allah tidak bisa dibayangkan. Imam Abu Bakar ash-Shiddiq berkata: اَلْعَجْزُ عَنْ دَرَكِ اْلإِدْرَاكِ إِدْرَاكُ وَالْبَحْثُ عَنْ ذَاتِه كُفْرٌ وَإِشْرَاكُ “Pengetahuan bahwa pemahaman seseorang tidak mampu untuk sampai mengetahui hakekat Allah adalah keimanan, sedangkan mencari tahu tentang hakekat Allah, yakni membayangkan-Nya adalah kekufuran dan syirik.” Seseorang yang meyakini bahwa Allah ada, yang ada-Nya tidak sama dengan adanya makhluk, maka hal ini adalah keimanan yang benar. Sedangkan mencari tahu hakekat Allah sehingga membayangkan-Nya seperti makhluk, maka hal ini yang menyebabkan dia menjadi keluar dari agama Islam. Inilah aqidah Islam yang diajarkan oleh semua para nabi, dari Nabi pertama yaitu Nabi Adam sampai nabi terakhir, Nabi Muhammad. Semua nabi keimanannya sama, Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Semoga Allah senantiasa mengaruniakan hidayah, taufiq dan inayah-Nya kepada kita semua sehingga kita dikuatkan dalam memegang teguh ajaran Ahlussunnah Waljama’ah dan semoga kita dimudahkan dalam melaksanakan ajaran Islam dengan mudah, aamiin.
6
ﻗﺮﺁﻧﻲ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻲ ﺩﻭﻣﺎ ﻳﻐﻤﺮﻧﻲ ﻣﻦ ﻓﻴﺾ ﺿﻴﺎﻩ ﺁﻳﺎﺕ ﺍﻟﻤﻮﻟﻲ ﺗﺪﻓﻌﻨﻲ ﺗﺪﻓﻌﻨﻲ ﻧﺤﻮ ﺍﻟﻌﻠﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﻜﻮﻥ ﺍﻟﻮﺍﺳﻊ ﻓﻲ ﺻﺪﺭﻱ ﻳﺤﻀﻨﻨﻲ ﺃﺭﺿﺎ ﻭﺳﻤﺎﺀ ﻳﺎ ﺭﺑﻲ ﻗﺪ ﻧﻠﺖ ﻣﻨﺎﻱ ﻭﺑﺨﺘﻢ ﻛﺘﺎﺑﻚ ﺃﺭﻗﻲ ﺑﺸﺮﺍﻛﻲ ﻳﺎ ﺣﺎﻓﻈﺔ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺣﻴﻦ ﺗﻨﺎﻟﻲ ﻣﻦ ﺭﺑﻲ ﺍﻟﺮﺿﻮﺍﻥ ﻳﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻳﻘﺎﻝ ﻟﻜﻲ ﺍﺭﻗﻲ ﺃﻋﻠﻲ ﺟﻨﺎﻥ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﺗﺸﺨﺺ ﻓﻴﺔ ﺍﻟﻌﻴﻨﺎﻥ ﻳﺎ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﺍﻃﻠﻮﺍ ﻟﺘﺤﻴﻮﺍ ﺧﻴﺮ ﺍﻷﺑﻨﺎﺀ ﻣﻦ ﺣﻔﻈﻮﺍ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺻﺎﺭﻭﺍ ﻟﻼﻣﺔ ﻧﻮﺭﺍ ﻭﻫﺪﺍﻩ ﺑﻘﻠﻮﺏ ﺗﺸﺨﺺ ﻓﻲ ﻓﺮﺡ ﺣﻤﺪﺍ ﺗﻜﺒﻴﺮﺍ ﻭﺩﻋﺎﺀ ﻳﺎ ﺭﺏ ﻟﻚ ﺍﻟﻜﻮﻥ ﻳﻨﺎﺩﻱ ﻭﻓﻖ ﻣﻦ ﺟﺎﺀﻙ ﻳﺴﻌﻲ
18
Posts

#Berkata_ulama_Ahli_hikmah

إِذَا تَمَّ كَسْرُ بَيْضَةٍ بِوَاسِطَةِ قُوَّةٍ (خَارِجِيَّةٍ)، فَإِنَّ حَيَاتَهَا قَدْ انْتَهَتْ

Ketika telur pecah lantaran kekuatan dari luar maka kehidupanya benar benar berakhir.

...

وَإِذَا تَمَّ كَسْرُ بَيْضَةٍ بِوَاسِطَةِ قُوَّةٍ (دَاخِلِيَّةٍ)، فَإِنَّ هُنَاكَ حَيَاةً قَدْ بَدَأَتْ

Dan ketika telur itu pecah lantaran kekuatan dari dalam maka disitulah kehidupannya baru dimulai.

الْأَشْيَاءُ الْعَظِيمَةُ دَائِمًا تَبْدَأُ مِنَ الدَّاخِلِ

Maka sesuatu yang agung hendaknya kamu mulai dari drimu sendiri.

Semoga kita memiliki kekuatan untuk memulai sesuatu dari kita sendiri untuk berikhtiar diiringi dengan Doa dan diakhiri dengan tawakkal..... Aaminn

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ والخاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الحَقِّ بَالحَقَّ والهَادِي إلى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ وعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ

See More
Image may contain: one or more people
Image may contain: bird

#MANUSIA_SEPERSEPULUH_NYA_JIN

من كتاب الاشارات العلوية لسيدي احمد التجاني رضي الله عنه
منشورات دار الحسام بالقاهرة خلف الجامع الازهر
ـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ...

Continue Reading
Posts