Jump to
Press alt + / to open this menu
Join or Log Into Facebook  
Do you want to join Facebook?
Sign Up

NYI AGENG SERANG

Nyi Ageng Serang

Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi atau lebih di kenal dengan Nyi Ageng Serang. Lahir di Serang Purwodadi, tahun 1752. Ia merupakan anak dari Pangeran Natapraja, (penguasa daerah Serang) sebuah wilayah terpencil didalam Kerajaan Mataram, Jawa Tengah. Pangeran Natapraja adalah panglima perang Sultan Hamengkeubuwono 1 yang bergelar Panembahan Serang. Kustiyah (sapaan akrabnya) sejak kecil sudah ikut ayahnya berperang melawan Belanda.

Setelah ayahandanya wafat karena sakit, Kustiyah menggantikan kedudukan sang ayah sebagai junjungan di Serang dan bergelar Nyi Ageng Serang. Selama menjadi pemimpin, Nyi Ageng Serang dikenal dekat dengan rakyatnya. Ia selalu membantu kesengsaraan rakyatnya dengan membagi–bagikan pangan/makanan. Nyi Ageng Serang sering secara diam-diam melakukan serangan kecil terhadap Belanda dengan menggunakan taktik perang gerilnya.

Saat Perang Diponegoro meletus, Nyi Ageng Serang bersama menantunya Raden Mas (R.M.) Pak–Pak dan pasukan Natapraja ikut bertempur melawan Belanda. Diusianya yang ke 73 tahun, Nyi Ageng Serang tetap bertempur sekaligus menjadi pemimpin pasukannya meski harus dari atas tandu. Setelah 3 tahun ikut bertempur membantu Pangeran Diponegoro, Nyi Ageng Serang memutuskan untuk mengundurkan diri dan perjuangannya diteruskan oleh menantunya, Raden Mas Pak-Pak.

Pada tahun 1833, pemerintah Belanda memberikan penghargaan kepadanya dan memberikan tunjangan hari tua sebanyak 100 Golden tiap bulan. Nyi Ageng Serang merupakan salah satu keturunan Sunan Kalijaga. Selain itu, Nyi Ageng Serang juga mempunyai seorang cucu yang juga seorang pahlawan yaitu R.M. Soewardi Surjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara. Nyi Ageng Serang wafat di Yogyakarta pada tahun 1838 diusia 86 tahun. Nyi Ageng Serang dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No.084/TK/1974. Kemudian untuk mengenang bagaimana perjuangan Nyi Ageng Serang, warga Kulon Progo mengabadikan jasa-jasa Nyi Ageng Serang dengan sebuah monument di tengah kota Wates. Monumen tersebut berupa patung Nyi Ageng Serang sedang menaiki kuda sambil membawa tombak.