Join or Log Into Facebook  
Do you want to join Facebook?
Sign Up

Contoh Kasus Rumah Tangga

Marilah kita menganalisa salah satu contoh kasus di atas, kasus yang terahir disebutkan, sebuah konflik rumah tangga, untuk dapat lebih memahami bagaimana fenomena kehidupan sebenarnya memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk belajar dan melalui proses untuk Menjadi (seperti) Kupu-kupu atau tidak sama sekali.

‘It takes two to tango’

Konflik sepasang suami istri yang sedang bertikai, menjadi semakin memuncak ketika masing-masing - suami dan istri, mengabaikan fakta tentang perbedaan individu , terlalu memaksakan kehendak pribadi, dan saling memberikan penilaian negatif kepada pasangannya. Kebiasaan melabel pasangan bisa saja diawali oleh salah satu dari pasangan suami istri - mungkin suami, mungkin istri - namun belakangan kebiasaan melabel tumbuh menjadi bagian dari pola ’defensif’ keduanya, membuat semacam bola salju yang semakin besar, membuat mereka beralih dari fokus utama, terpaku pada hal-hal sekunder dan justru semakin saling menyakiti.

Para suami mungkin menilai istrinya secara negatif, sebagai istri yang tidak layak, tidak mampu mengurus diri dan rumah tangga, tidak mampu melayani suami dan seterusnya dan seterusnya. Sang istri tenggelam dalam berbagai cap dari suami, bahkan juga dari anggota keluarga suami atau teman-temannya yang sebenarnya tidak tahu apa-apa, semakin terpuruk dalam duka, merasa tercekik karena tekanan yang ’fatamorgana’, justru menyerap dan mengadopsi label-label negatif menjadi kenyataan, kemudian ikut menciptakan label untuk suami, merasa suami begitu kejam dan tidak perduli.

Tidak jarang ”keluarga besar”, seperti orang tua, kakak, adik, mertua, bahkan teman, sahabat dan lain-lain, turut berperan dalam konflik suami istri dengan tujuan awal untuk membantu meredakan ketegangan. Namun dengan segala keterbatasan dan (bahkan) sebagian karena adanya konflik kepentingan, masalah yang dihadapi malah menjadi semakin sulit untuk diselesaikan. Umumnya masalah justru menjadi semakin rumit karena melibatkan kepentingan banyak orang, melibatkan perbedaan kualitas emosional orang lain, yang sebenarnya tidak dibutuhkan dalam konflik ini.

Situasi menjadi semakin parah, karena suami dan istri (tetap) tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Saling melabel tak terkendali, dan pada akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa perceraian adalah jalan keluar yang terbaik. Perceraian menjadi satu pilihan yang dirasakan paling tepat karena masing-masing sudah merasa tidak cocok lagi.
Setidaknya salah satu menilai bahwa dengan perceraian, kehidupan mereka akan lebih baik. Dengan perceraian, konflik akan segera berakhir. Dengan perceraian, anak-anak akan berhasil diselamatkan. Dengan perceraian, masing-masing akan lebih sehat jiwa dan raganya. Kesimpulan-kesimpulan sepihak yang belum tentu benar, namun diyakini kebenarannya.

Padahal sesungguhnya yang terjadi hanyalah adanya struktur pribadi yang berbeda, menimbulkan konflik yang tidak disadari, membentuk jurang yang semakin dalam antara suami istri, sementara para penonton (tanpa sadar) seolah ”menyoraki”, karena mungkin sebenarnya masalah tersebut juga merupakan masalah ”terpendam” mereka yang selama ini belum terselesaikan.