Jump to
Press alt + / to open this menu
Join or Log Into Facebook  
Do you want to join Facebook?
Sign Up

Rachmat, Tarikh (Sejarah), Hidayah dan Rekomendasi

Rachmat, Tarikh (Sejarah), Hidayah dan Rekomendasi (1)

Danial Indrakusuma

 

 

Rachmat

 

Banyak sekali rachmat yang telah kita dapat sampai sekarang ini: antara lain semakin berkembangnya solidaritas kelas di antara kaum buruh; semakin berkembangnya kesadaran politik di kalangan kaum buruh; meningkatnya jumlah dan tempat kaum buruh yang hadir dalam rapat akbar (terakhir hampir 60 ribuan buruh hadir dalam rapat akbar di Gelora Bung Karno dalam rangka Mayday 2012); suksesnya kaum buruh membebaskan kawan-kawannya dari sistem kerja outsourcing maupun kontrak, sebanyak sekitar 30 ribuan buruh Bekasi, dan lain sebagainya; namun yang terpenting dari rahmat-rahmat tersebut adalah, sebagai akibatnya, adalah dierolehnya rachmat utama, yakni: FSPMI yang menaungi pusat konsolidasi Rumah Buruh dan Saung Buruh mengalami pertambahan jumlah anggota, setiap hari ada konsolidasi dengan jumlah rata-rata 500 – 1.000 buruh dari berbagai macam pabrik. Rachmat utama tersebut sangat penting, dalam arti: sebagai penggerak utama (driving force), harta karun senjata perjuangan untuk mendapatkan rachmat-rachmat berikutnya; selain itu, untuk meneliti petunjuk (hidayah) yang ada dalam rachmat. Sesungguhnya di dalam rachmat itu ada hidayah.

 

“Jangan lah kau berputus asa terhadap rachmat (Allah). Karena, bila kau demikian, maka kau termasuk golongan orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr: 56)

 

 

Tarikh (Sejarah)

 

Untuk meneliti hidayah (petunjuk) kita harus mengurutkan, mengkronologiskan, data/fakta agar terbuka sebab-akibat dari satu kejadian (penyebab) ke kejadian lainnya atau kejadian berikutnya (akibat) dan seterusnya. Kronologis tersebut benar-benar harus berurut, tak boleh tertukar waktu (masa) kejadiannya agar sebab-akibat nya realis (sesuai dengan fakta) sehingga logis (atau BENAR karena memang terjadi dalam realitas/kenyataan).

Bagaimana aksi-aksi dan keanggotaan di Bekasi (dan di beberapa kota) itu membesar menurut kroniknya. Pertama, ada kasus Kymco (berjuang selama 4 tahun sejak 2008) dan ada kasus Kanefusa (selama 20 bulan sejak tahun 2010) serta kasus-kasus kecil di pabrik lainnya, seperti PT Jagad Karimbanusa, Mitsuki, dan lainsebagainya. Sebagian pabrik itu dinyatakan ditutup, dan buruh merespon dengan mendudukinya. Pendudukan itu diisi dengan pendidikan (baik tentang perburuhan maupun tentang ekonomi-politik), solidaritas (solidaritas antar-pabrik), menuntut dan berbagai bentuk perlawanan lainnya. Di sisi lain, secara nasional, FSPMI menjadi bagian dari KAJS untuk menuntut pengesahan RUU BPJS, hingga menang. Pengesahan BPJS membuat FSPMI dan anggota semakin percaya diri dan politis, bersamaan dengan itu, kasus Kymco, Kanefusa, dan Jagad, selesai walau dengan beberapa kompromi, tapi semuanya telah memberikan pelajaran besar bagi buruh dan pelopor-pelopornya.

 

Bersamaan dengan itu pula, FSPMI Bekasi sudah mempersiapkan perjuangan kenaikan tuntutan kenaikan upah 2012, yang terjadi sebelum kasus Freeport. Bahkan sudah dilakukan dalam berbagai penelitian yang diseminarkan dalam seminar-seminar KHL dengan membuat seminar sendiri maupun menghadiri seminar organisasi lain (TURC, AKATIGA, dan lain sebagainya). Dalam seminar-seminar itu, persoalan upah selalu dikaitkan dengan persoalan outsourcing (yang didiskriminasi upah, tunjangan, kondisi kerja, organisasi dan lainsebagainya). Karena jalan untuk menaikkan upah adalah dengan membongkar KHL versi pemerintah dan menaikkan KHL, maka buruh terlibat dalam penelitian-penelitian tersebut, dan hasilnya adalah survey terhadap 86 komponen upah. Tuntutan UMK awalnya adalah Rp 2,2 – 2,7. Maka, FSPMI melakukan aksi ke Pemerintah Kabupaten. Lalu, melakukan aksi lagi ke Dewan Pengupahan hingga mengepung Dewan Pengupahan. Perundingan di Dewan Pengupahan menyepakati nominal upah Rp1,4 juta-an untuk Upah Minimum, Rp 1,7 juta-an untuk Sektor 2 dan Rp1,8 juta-an untuk sektor 1. Setelah itu, aksi ke Pemerintah Kota Bekasi, dan menang lagi. Dan penolakan APINDO terhadap kemenangan kami justru menguntungkan kami, memicu perlawanan buruh yang semakin luas, kuat dan solid.

 

Sedangkan tuntutan upah buruh Freeport memang tidak mengacu pada KHL, tapi mengacu pada besaran keuntungan PT Freeport (perusahaan tambang emas/tambang) yang sangat besar, sedangkan upah buruhnya sangat kecil. Sementara, untuk menuntut upah minimum regional tidak mungkin berlaku tanpa standard KHL karena besar/kecilnya pabrik dalam suatu region itu berbeda-beda. Kemenangan buruh PT Freeport juga terpaksa kompromi (kesepakatan kenaikan upah, jauh di bawah tuntutan buruhnya yang sebelumnya).

 

Kembali ke persoalan upah Bekasi yang berujung pada penutupan kawasan. Ketua Apindo, Sofyan Wanandi menggugat SK Gubernur yang mengesahkan upah Rp1,4 juta-an untuk Upah Minimum, Rp 1,7 juta-an untuk Sektor 2 dan Rp1,8 juta-an untuk sektor 1 ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Akhirnya, buruh meresponnya dengan menutup kawasan hingga 3 kali. Penutupan kawasan terbesar dan memuncak pada tanggal 19 dan 27 Januari 2012 di mana tujuh kawasan industri di Bekasi lumpuh. Dan, akhirnya, pada aksi tutup kawasan kedua dan ketiga, unsur-unsur lain seperti FPBJ, KASBI, dan lain sebagainya, bergabung walau bersatunya hanya di lapangan, setelah sebelumnya berjalan sendiri-sendiri. Apa yang dilakukan oleh buruh-buruh di Bekasi, menular ke Batam, Jawa Timur, Tangerang, dan kota-kota lainnya. Sayangnya, rencana aksi penutupan kawasan dan tol di Tangerang yang direncanakan Februari, 2012, lalu tidak jadi terlaksana karena pabrik-pabrik ditongkrongi sekitar 7-8 tentara yang membuat tenda di depan pabrik=pabrik utama.

Saat BBM akan dinaikkan, FSPMI/KSPI meresponnya dengan aksi ke DPR bersama-sama dengan unsur-unsur lain yang bersatu di lapangan. Menang, kenaikan ditunda! dalam sejarah reformasi, baru sekali gerakan buruh berhasil menunda kenaikan BBM. Kemenangan ini membuat gerakan buruh semakin politis dan percaya diri.

 

Semua perkembangan gerakan di atas, dibingkai oleh metode konsolidasi, aksi, rapat akbar dan solidaritas. Solidaritas itu dimulai dari solidaritas antar-pabrik, solidaritas antar-kawasan hingga solidaritas antar-kota. Saat pendudukan di Kymco dan Kanefusa, buruh mempelajari solidaritas antar-pabrik (penting sekali karena merupakan bekal kemajuan saat ini), hingga solidaritas antar-kawasan--di mana FSPMI Bekasi pernah melakukan solidaritas ke Tangerang, Purwakarta danKrawang . Mengenai rapat akbar, aku bahas tersendiri di sini. Rapat akbar digunakan sejak rapat akbar di Kymco, rapat akbar Enkei, hingga rapat akbar di stadion Pilar Bekasi. Rapat akbar kemudian dikembangkan lagi (agar lebih maju) menjadi rapat akbar di Gelora Bung Karno pada Mayday. Ada dua capaian penting rapat akbar di GBK. Satu, peningkatan jumlah massa yang mencapai 60-100 ribu massa. Hal ini karena bersatu dengan unsur-unsur lain dalam MPBI. Setelah Presiden FSPMI, Said Ikbal, menjadi presiden KSPI, berhasil merangkul kelompok-kelompok konfederasi lain, seperti KSPSI, KSBSI dan 9 Federasi lainnya. Selain itu, perpecahan di SPSI sebagai hasil dari gerakan radikal di dalamnya, justru merapat ke KSPI. Dua, Mayday tidak lagi dimaknai sebagai fiesta, tapi di mana sebagai menuntut dan lebih politis, tidak seperti tuduhan dan sangkaan bahwa mayday di GBK itu hanya pesta dan konser. Bahkan Kaka Slank bisa mendukung perjuangan buruh dan mengangkat issue BBM. Dan pimpinan-pimpinan buruh bisa tampil sebagai alternatif (ini masih harus terus diupayakan).

 

Semakin jelas, bahwa kekuatan buruh semakin kuat. Setelah Kymco selesai, maka rumah buruh didirikan sebagai pusat konsolidasi melanjutkan konsolidasi di Kymco dulu. Pendirian rumah buruh juga hasil dari masukan keberhasilan pembangunan Omah Tani di Batang, Jawa Tengah, di mana pada bulan April saja, sudah 11 gelombang buruh bekasi yang studi banding di Omah Tani, Batang, mempelajari gerakan politik petani. Perjuangan upah layak dan hapus outsourcing kembali dilanjutkan sesuai rencana-rencana yang telah dibuat. Buruh juga terlibat dalam penelitian dengan Akatiga untuk menguak pelanggaran outsourcing di pabrik-pabrik (lihat publikasinya di akatiga.org). Hasilnya sekitar 80 persen outsourcing adalah pelanggaran. Ini penting diketahui, agar jangan ada pikiran bahwa buruh asal geruduk saja tanpa ada alasan-alasan kuat. Menurut UUK No. 13 Tahun 2003, outsourcing hanya dibolehkan di 5 bidang pekerjaan, yaitu catering, satpam, supir/delivery, cleaning service, dan pertambangan, tidak diperbolehkan di bagian pekerjaan utama di dalam pabrik. JIka melanggar, maka secara otomatis dan demi hukum, buruh outsourcing harus serta-merta (otomatis) menjadi buruh tetap (PKWTT). Kami tidak setuju dengan UU ini karena bagaimanapun juga buruh di 5 bidang pekerjaan itu adalah manusia yang harus dibela, dan ada upaya politik agar UU bisa diganti. Tapi sebagai awal, di lapangan, pelanggaran terhadap UUK 13 ini menjadi landasan kuat bagi buruh untuk menggeruduk pabrik.

 

Baru lah keluar Hostum KSPI, yang akan mengangkat soal outsourcing dan upah murah namun, sebelum ada hostum KSPI, FSPMI Bekasi sudah mengangkat soal upah murah dan outsourcing—misalnya, kawan-kawan yang bekerja di PT Enkei berhasil membebaskan 1.200 outsourcing; Hero (yang paling baru) membebaskan 300 tapi 500 yang mau dibebaskan, tapi karena 200 tidak berjuang, maka tidak dibela. Keluarnya program Hostum memperkuat gerakan-gerakan pembebasan outsourcing menjadi lebih massif. Sebagai catatan (seperti yang aku sebutkan sebelumnya), 30 ribuan buruh telah dibebaskan dari outsourcing maupun kontrak. Dan semua aksi geruduk pabrik itu bukan merupakan gerakan spontanitas. Aksi geruduk pabrik itu terstruktur dan tidak terjadi secara spontan, dalam artian gerakan geruduk pabrik itu memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: ada perencanaan (walaupun kadang waktunya bisa maju atau mundur), ada konsolidasi, dan ada organisasi. Aksi-aksi geruduk pabrik tersebut disertai dengan penghentian produksi (mogok) yang dilakukan oleh para buruh yang bekerja di pabrik. Jadi, senjata buruh yang utama tetap adalah menghentikan produksi, dengan mogok dan mencegah keluar/masuknya pengiriman barang. Untuk mengupayakan adanya mogok (menghentikan produksi) harus ada konsolidasi-konsolidasi yang terorganisir untuk melihat jantung-jantung pabrik yang harus dihentikan (proses produksinya) dan untuk melatih kekompakan dalam menghentikan produksi atau mogok. Jadi, adalah omong kosong jika dianggap gerakan geruduk pabrik adalah gerakan spontan.

 

Belakangan ini, ada perkembangan baru, aksi geruduk pabrik juga dilakukan oleh organisasi-organisasi lain dan tumbuh solidaritas. Misalnya: FSPMI solidaritas ke aksi buruh PT Byung Hwa (FPBJ), GSPB aksi solidaritas ke PT Pantos (FSPMI), dan lain sebagainya. (2)

 

 

Hidayah

 

Dari data kronologis tersebut dapat diambil pelajaran atau hidayah yang berupa siasat atau strategi dan taktik—yang harus dilihat kronologis sebab-akibatnya jangan tertukar siasatnya karena, bila tertukar siasatnya, atau bila tidak berurutan, maka siasatnya tidak akan berjalan):

 

1. Karena kami sadar ada berbagai sebab (lain kali aku bicarakan) bahwa perlawanan di masing-masing pabrik adalah kurang ampuh dan kurang memberikan sumbangan pada atmosfir perjuangan, maka diputuskan untuk (seberapa pun) kawan-kawan yang dapat dikerahkan (mobilisasi) kami arahkan untuk berkonsolidasi dan bersolidaritas. Mobilisasi-mobilisasi tersebutlah yang kemudian menciptakan atmosfir perjuangan yang dapat memberanikan, mendorong kawan-kawan buruh di pabrik yang didatangi (untuk berjuang dan menghentikan proses produksi) dan pabrik-pabrik lainnya (untuk terlibat)—yang paling cepat terdororong terlibat dalam atmosfir perjuangan adalah anggota, korlap, dan Garda Metal.

 

2. Mobilisasi konsolidasi harus bisa meningkatkan daya juang dan kepetrcayaan diri pabrik-pabrik yang bermasalah untuk melawan—bahkan dengan menghentikan proses produksi (tentu saja analisa mendalam syarat-syarat untuk menghentikan proses produksi diperdalam terlebih dahulu.

 

3. Karena keterlibatan dalam mobilisasi perjuangan semakin hari semakin besar maka, menurut analisa kami, diperlukan pusat-pusat konsolidasi. Ditetapkan lah Kymko, Kanefusa, dan Jagad menjadi pusat-pusat konsolidasi. Setelah Kymko, Kanefusa dan Jagad tak bisa lagi digunakan, maka kami mencari tempat yang lain (di pinggir kali) namun gagal, sehingga kami menduduki (occupy) jembatan buntung atau jembatan belum selesai (yang sekarang jadi Rumah Buruh di EJIP) dan menduduki tanah kosong di samping pabrik (yang sekarang jadi Sawung Buruh di Jababeka.

 

4. Memberikan pendidikan, agitasi-propaganda dalam bentuk pendidikan kelas (baik soal-soal perburuhan maupun ekonomi-politik) dan rapat akbar.

 

5. Perluasan pendidikan ke kota-kota lain dan peningkatan rapat akbar—dari mulai di Kymko, stadion pilar, hingga Gelora Bung Karno.

 

6. Peningkatan perlawanan, baik perlawanan dalam bentuk perundingan, hukum, maupun aksi massa. Peningkatan perlawanan tersebut di tingkatkan baik di tingkat pabrik sampai tingkat nasional, baik dalam issue-issue perburuhan (yang tak bernuansa politik hingga yang bernuansa politik), hingga issu di luar perburuhan yang sangat kuat nuansa politiknya. Perlu dicatat juga adalah peningkatan keampuhan metode aksi masasa: dalam jumlah besar mendatangi (bahkan menginap) di kantor-kantor lembaga negara dan MENUTUP KAWASAN (beberapa aksi belum menutup tol).

 

7. Bersamaan dengan kebutuhan peningkatan keampuhan perundingan dan keampuhan aksi massa, maka diupayakan lah peningkatan jumlah massa yang diarahkan untuk bersolidaritas lintas-pabrik, lontas-kota dan lintas-organisasi.

 

8. Kesadaran politik yang paling penting yang tumbuh bersamaan dengan perjuangan tersebut adalah kesadaran bahwa urusan perburuhan tidak bisa an sich (semata-mata) diselesaikan di luar politik (kekuasaan), harus dalam ranah politik. Kesadaran itu lah yang mendorong kami harus menguasai negara. Kesadaran politik yang penting lainnya adalah bahwa buruh harus menjadi pelopor dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan semata-mata membela kepentingan buruh, apalagi kami butuh dukungan suara rakyat dalam pemilu dan dukungan politiknya (dalam makna massa).

 

9. Yang belum membaik, bila kita mengacu pada keberhasilan gerakan buruh Brazil, adalah belum berhasilnya persatuan dengan gerakan buruh kiri, yang sangat diperlukan untuk menambah kekuatan melawan musuh bersama buruh sekarang ini, yaitu: serangan terhadap kesejahteraan buruh.

 

 

Rekomendasi

 

1. Memang masih banyak yang belum terbuka matanya atau belum mau membuka matanya akan adanya FAKTA rachmat-rachmat tersebut. Itulah yang akan memperlambat gerakan atau malah bisa mencapai anti-klimaksnya, apalagi bila struktur organisasi dan perangkatnya yang tidak mau mengakui adanya FAKTA rachmat-rahmat tersebut, sehingga tidak mau menyerap rahmat-rahmat tersebut menjadi (dan ke dalam) struktur organisasi, atau malah MENERTIBKANNYA. Padahal, banyak rachmat tersebut didapat oleh kelembagaan yang belum terstruktur dan pekerjaan-pekerjaan yang belum bisa ditangani oleh perangkat. Misalnya saja, Rumah Buruh dan segala isinya harus dikonsonsolidasikan dan dikoordinasikan secara struktural ke dalam organisasi—terutama kawan-kawan yang sejak lama sudah menjadi fasilitator konsolidasi kawan-kawan lama mapupun baru. Mereka jangan dibuang dengan semena-mena, dan seamdainyapun dikhawatirkan akan memberikan arahan yang “SESAT”, maka justru struktur lah yang harus memberikan pendidikan organisator, bukannya dibuang (karena itu salah satu bentuk anarkisme, membuang rachmat organisator yang seharusnya dinilai sangat tinggi). Dan, sebaiknya, Rumah Buruh dan Saung Buruh serta yang lainnya penggunaannya tak boleh dkotak-kotakan menurut sektor (SPA), siapapun organisatornya boleh menangani konsolidasi sektor apapun—oleh karena itu, pendidikan dan pembagian kerjanya pun jangan dikotak-kotakan—hal ini menjaga agar jangan sampai bila organisator sektor tertentu tidak mencukupi, berhalangan atau sebab-sebab lainnya, maka siapapun kawan yang tersedia bisa mengerjakannya.

Rekomendasi lainnya adalah: pendidikan perangkat dan PUK tentang siasat perjuangan di dalam pabrik dan siasat perjuangan politik, serta tentang peningkatan motivasi agar mereka dapat mengikuti atmosfir perjuangan sekarang ini yang sedang bergerak maju.

 

2. Mendayagunakan GARDA METAL untuk membantu perangkat/PUK menghidupkan (terutama) program penyadaran/pendidikan (termasuk pelajaran strategi-taktik, konsolidasi, mobilisasi dan perlawanan (baik di dalam pabrik maupun di luar pabrik).

 

 

Catatan Kaki:

 

(1) Ditulis tanggal 5 September dan disampaikan dalam "Kelas Pendidikan Pengupahan dan Sosialisasi Gerakan Hostum Buruh dan Aliansi BEM Jawa Barat", di Rumah Buruh, tanggal 6-7 September 2012

 

(2) Terima kasih kepada Sherr Rinn yang telah membantu menuliskan fakta-fakta tarikh (sejarah) nya.