Jump to
Press alt + / to open this menu
Join or Log Into Facebook  
Do you want to join Facebook?
Sign Up

Sifat tamak (rakus) itu adalah bibit dari segala macam kehinaan

70) Tidak akan berkembang biak berbagai cabang kehinaan itu, kecuali di atas bibit tamak (kerakusan)

Sifat tamak (rakus) itu adalah bibit dari segala macam kehinaan dan kerendahan.

 

Abubakar Al-Warraq Alhakiem berkata :

Andaikan sifat tamak itu ditanyai :

Siapa Ayahmu ? pasti jawabannya, ragu terhadap takdir Allah.

Apa tujuanmu ? Jawabnya, tidak dapat apa-apa.

 

Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra baru masuk ke mesjid jami' di Basrah, didapatkan banyak orang yang memberi ceramah di dalamnya, maka ia menguji mereka dengan beberapa pertanyaan dan ternyata tidak dapat menjawab dengan tepat, diusir dan tidak diizinkan memberi ceramah di mesjid itu.

Dan ketika sampai ke Majelis Alhasan Albasry, lalu ia bertanya :

Hai pemuda, saya akan bertanya kepadamu sesuatu jika engkau dapat menjawab, maka aku izinkan engkau terus mengajar di sini, tetapi jika engkau tidak dapat menjawab, maka engkau akan aku usir sebagaimana temanmu yang lainnya yang telah aku usir itu.

Al Hasan menjawab : tanyakanlah sekehendakmu...

Lalu Sayyidina Ali bertanya, kepada Al Hasan :

Apakah yang dapat mengukuhkan agama ?

Jawab Al Hasan : Wara (yakni berjaga-jaga diri/menjauh dari segala syubhat dan haram)

Lalu Sayyidina Ali bertanya lagi :

Apakah yang dapat merusak agama ?

Jawaban Al Hasan : tamak (rakus).

Lalu Imam Ali berkata kepadanya : Engkau boleh tetap mengajar di sini, orang yang seperti engkau inilah yang dapat memberi ceramah kepada orang.

 

Seorang guru berkata :

Dahulu ketika dalam permulaan bidayah di Iskandariyah, pada suatu ketika aku akan membeli suatu keperluan dari seorang yang mengenal aku, lalu timbul dalam perasaan hatiku; mungkin ia tidak akan menerima uangku ini,

tiba-tiba terdengar suara yang berbunyi :

Keselamatan dalam agama hanya dalam memutuskan harapan dari sesama makhluk.

 

Wara dalam agama itu menunjukan adanya keyakinan dan sempurnanya bersandar diri kepada Allah.

Wara yaitu jika sudah merasa tiada hubungan antara dia dengan makhluk, baik dalam pemberian atau penolakan dan semua itu hanya terlihat langsung dari Allah ta'ala.

 

Shal bin Abdullah berkata :

Di dalam iman tidak ada pandangan sebab perantara,  sebab itu hanya dalam Islam sebelum mencapai iman.

 

Semua hamba pasti akan memakan RizqiNya, hanya mereka berbeda-beda, Ada yang makan rizqiNya dengan :

berhina-hina, yaitu peminta-minta.

bekerja keras, yaitu kaum buruh

dengan menunggu, yaitu pedagang yang menunggu laku dagangannya

rasa mulya, yaitu orang sufi yang merasa tidak ada perantara dengan Tuhan