Jump to
Press alt + / to open this menu
Join or Log Into Facebook  
Do you want to join Facebook?
Sign Up

PENAWARAN KERJASAMA, PROSPEK DAN ANALISA KEUNTUNGAN BUDIDAYA POHON KAYU JABON

PENAWARAN KERJASAMA KEMITRAAN

 

 

PENANAMAN POHON KAYU JABON (Anthocephalus cadamba)

 

 

 

 

 

PENANGKAR BENIH PERTANIAN DAN KEHUTANAN

 

 

CV. TUTURUBUS

 

 

JALAN RAYA TIMUR KM 32 (CIKURUTUG) DESA CICALENGKA WETAN

 

 

KECAMATAN CICALENGKA KABUPATEN BANDUNG 40395

 

 

Contact : Wawan Setiawan

 

 

Hp. 085294779584

 

 

Email : one_ftr@yahoo.co.id

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

 

 

 

Sebagaimana keseriusan Pemerintah di berbagai program dalam hal ini kementrian kehutanan Republik Indonesia yang sangat gencar, seperti program,Indonesia Menanam, Kampanye Indonesia Menanam, Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN), Gerakan Bakti Penghijauan Pemuda (GBPP), Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDN), Kota Hijau (Green City), Gerakan Penanaman Pohon, guna menanggulangi berbagai masalah lingkungan hidup dan perekonomian masyarakat.

 

 

Kami CV. TUTURUBUS Penangkar Benih Pertanian dan Kehutanan yang beralamat di Jalan Raya Timur KM 32 (Cikurutug) Desa Cicalengka Wetan Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung 40395, ikut peduli dengan ikut berperan serta aktif dalam mewujudkan kesuksesan program pemerintah, dengan melakukan inovasi system pencapaian penanaman hingga mencapai populasi jumlah pohon yang maksimal. Melalui Program Penjalinan Kerjasama Penanaman pohon Kayu Jabon disetiap lahan Kritis dan kebun rakyat, melalui pola pemberdayaan bersama dengan hasil akhir system bagi hasil syariah. Antara Pemilik lahan, Investor (Pemberi Modal), Petani Penggarap dan Pengelola (CV. TUTURUBUS).

 

 

Total lahan kritis dan kebun rakyat yang tersedia untuk program tersebut di kecamatan Cicalengka saja sudah mencapai sekitar 650 Ha, dengan pola pendataan ke berbagai pihak, antara lain kelompok tani dan pemerintah setempat. Jika seandainya pola tanam yang digunakan menggunakan pola tanam 2 x 3 m, 1 hektar lahan bisa ditanami sebanyak 1600 pohon. Bila dengan Estimasi penanaman diatas lahan 650 Ha, maka akan dapat menanam pohon Jabon total sebanyak 1,04 juta pohon, dan itu baru estimasi untuk wilayah kecamatan Cicalengka saja, belum termasuk daerah sekitarnya, seperti kecamatan Nagreg, Cikancung dan Rancaekek, dimana kecamatan-kecamatan tersebut kurang lebih mempunyai luas lahan kritis serta kebun rakyat yang tak jauh berbeda luasnya.

 

 

Penghijauan selain mempunyai banyak fungsi utama juga tak dapat dipungkiri mempunyai banyak multi efek yang sangat banyak.baik dibidang lingkungan hidup, ekonomi, social maupun budaya

 

 

Oleh karena itu kami CV. TUTURUBUS Penangkar Benih Pertanian dan Kehutanan, tersentuh untuk dapat menjadi salah satu sosok yang ikut berperan aktiv dalam menyelesaikan permasalan dan pencerah baru dalam dunia tanaman kayu, dengan mengeluarkan Program Penjalinan Kerjasama Penanaman Tanaman Kayu Jabon baik dengan Perorangan, Pemerintah, BUMN maupun Swasta Nasional (selaku Investor)

 

 

 

 

 

Penangkar Benih Pertanian dan Kehutanan

 

 

CV. TUTURUBUS

 

 

 

 

 

Wawan Setiawan

 

 

Direktur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

DAFTAR ISI

 

 

BAB I PENDAHULUAN

 

 

A. Kebutuhan Kayu Jabon

 

 

B. Apa itu jabon? Mengapa jabon?

 

 

C. Menanam Jabon Bagaikan Menanam Emas

 

 

BAB II BOTANI JABON

 

 

A. Taksonomi dan Tatanama Jabon

 

 

B. Morfologi Jabon

 

 

C. Deskripsi Botani Jabon

 

 

BAB III BUDIDAYA JABON

 

 

A. Ciri-ciri Tanaman Jabon

 

 

B. Teknik Budidaya Jabon

 

 

BAB IV ANALISA INVESTASI

 

 

A. Pola Tanam

 

 

B. Perkembangan pertumbuhan

 

 

C. Tanaman Tumpang sari

 

 

BAB V MANFAAT DAN FUNGSI

 

 

A. Lingkungan Sekitar

 

 

B. Pelaku Budidaya

 

 

BAB VI PANEN DAN PASCA PANEN

 

 

A. Panen

 

 

B. Pasca Panen

 

 

C. Sistem Penjualan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I PENDAHULUAN

 

 

 

 

 

A. Kebutuhan Kayu Jabon

 

 

Kebutuhan kayu untuk pasar global pada tahun 2001 saja mengalami kekurangan dunia yang semakin meningkat tajam sementara pada saat yang bersamaan terjadi proses penyempitan kawasan hutan. Kenyataan tersebut telah membuka pasar yang lebar bagi siapapun yang melakukan investasi dalam bidang perkayuan ini. Kawasan hutan tropis mengalami kerusakan yang cukup parah. Penebangan tanpa diimbangi dengan upaya regenerasi serius menjadi penyebab utama masalah ini. Kerusakan hutan di kawasan tropis meningkatkan suhu bumi dan menipiskan kadar oksigen bumi. Kenyataan tersebut telah ikut mendorong organisasi international perkayuan (ITTO) untuk ikut serta menentukan masa depan perdagangan kayu tropis.

 

 

Organisasi ITTO (International Tropical Timber Organization) telah mengumumkan beberapa langkah untuk melindungi hutan tropis yang telah dilaksanakan mulai tahun 2002. Menjelang abad yang mendatang, ITTO menggunakan syarat bahwa kayu-kayu tropis tidak boleh diekspor kecuali kayu tersebut merupakan hasil pengolahan. Oleh karena itu sangat diperlukan program pembudidayaan kayu secara komersial untuk menghasilkan kayu bermutu dengan nilai yang lebih tinggi. Dibandingkan dengan jenis-jenis kayu yang lain, kayu jabon merupakan jenis kayu yang pertumbuhannya sangat cepat, berbatang silinder dan lurus, kayunya berwarna putih kekuningan tanpa terlihat serat, yang sangat baik dipergunakan untuk pembuatan kayu lapis maupun kayu gergajian.

 

 

 

 

 

B. Apa itu jabon? Mengapa jabon?

 

 

Jabon atau dalam bahasa latinnya disebut Anthocephalus cadamba merupakan tanaman kayu yang sebenarnya tumbuh liar di hutan. Tumbuhan ini sebenarnya dulu di tahun 1970-an sangat terkenal namun karena perkembangan eksploitasi hutan dan beralih fungsinya hutan menjadi ladang atau kebun menjadikan tanaman ini sulit ditemukan. Tanaman jabon sebenarnya merupakan tanaman yang dapat menjadi konservasi bagi tanah dan hutan karena sifatnya yang memiliki akar serabut dan banyak sekali menyerap air. Sebagai tanaman hutan, jabon jarang sekali dibudidayakan karena karakteristik tanamannya membuat budidaya jabon menjadi unik dan sangat bergantung pada alam sehingga tidak dapat direkayasa. Tanaman jabon mulai dilirik oleh pelaku ekonomi semenjak bahan baku industri perkayuan memiliki keterbatasan sumber daya sehingga memerlukan alternatif bahan baku. Ketersediaan bahan baku industri perkayuan seperti jati, sengon, mahoni, dll sangat terbatas karena memang umur tebang pohon yang relatif lama (lebih dari 8 tahun).

 

 

 

 

 

 

 

 

Tanaman jabon memiliki karakteristik yang unik :

 

 

1. Jabon mudah tumbuh tanpa perlakuan khusus dan ekstrim.

 

 

2. Batang jabon memiliki karakteristik yang unik yaitu silinder dan tegak lurus.

 

 

3. Cabang jabon dapat rontok dengan sendirinya sesuai dengan umur dan iklim sehingga

 

 

dapat mengoptimalkan tumbuh kembang batangnya secara mandiri.

 

 

4. Warna kayu jabon putih kekuning-kuningan sehingga memenuhi syarat karakteristik

 

 

bahan baku furniture.

 

 

5. Serat kayu jabon padat halus, sangat sesuai untuk produk plywood atau furniture.

 

 

6. Jabon memiliki ekologi tumbuh pada ketinggian 0 sampai 1000 dpl sehingga memiliki

 

 

cakupan kesesuaian tanam yang lebih luas dibanding tanaman kayu yang lain.

 

 

7. Tanaman jabon dapat tumbuh pada pH tanah antara 4,5 sampai 7,5.

 

 

8. Tanaman jabon dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1500 s.d 3000 mm/th.

 

 

9. Suhu lingkungan tempat tanaman jabon tumbuh berkisar antara 14 sampai 40°C

 

 

10. Usia tebang jabon relatif singkat yaitu berkisar antara 5 sampai 8 tahun.

 

 

11. Secara ekonomis, jabon merupakan bahan baku untuk pembuatan industri multipleks,

 

 

kertas, furniture, kerajinan tangan, pensil, dll.

 

 

C. Menanam Jabon Bagaikan Menanam Emas

 

 

Jabon (Anthocephalus cadamba), adalah salah satu jenis kayu yang pertumbuhannya sangat cepat dan dapat tumbuh subur di hutan tropis dengan ketinggian 0–1000 m dpl (di atas permukaan laut). Saat ini jabon menjadi andalan industri perkayuan, termasuk kayu lapis, karena jabon memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan tanaman kayu lainnya termasuk sengon / albasia.

 

 

Dari hasil uji coba yang telah dilakukan, keunggulan tanaman jabon dapat diuraikan dari beberapa sisi, diantaranya adalah:

 

 

Diameter batang dapat tumbuh berkisar 10 cm/th.

 

 

Masa produksi jabon yang singkat, hanya 4–5 tahun.

 

 

Berbatang silinder dengan tingkat kelurusan yang sangat bagus.

 

 

Tidak memerlukan pemangkasan karena pada masa pertumbuhan cabang akan rontok sendiri (self prunning).

 

 

 

 

 

Nilai Ekonomi

 

 

Budidaya tanaman jabon akan memberikan keuntungan yang sangat menggiurkan apabila dikerjakan secara serius dan benar. Perkiraan dalam 4–5 tahun mendatang, diperoleh dari penjualan 625 pohon berumur 4–5 tahun sebanyak 800–1.000 m3 per ha. Prediksi harga jabon pada 5 tahun mendatang Rp1,2-juta/m3. Dengan harga jual Rp1,2 juta per m3 dan produksi 800 m3, maka omset dari penanaman jabon mencapai Rp 960 juta per ha. Saat ini harga per m3 jabon berumur 4 tahun mencapai Rp 716.000; umur 5 tahun Rp 837.000. Andai harga jabon tak terkerek naik alias Rp 716.000 per m3, maka omset dari budidaya jabon Rp 572.800.000.

 

 

Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan pada tanaman jabon setelah dipanen pada usia 5-10 tahun (asumsi harga terendah, dan batang terkecil) pada setiap batang kayu jabon diperoleh :

 

 

Tinggi batang yang bisa terjual rata-rata 12 m.

 

 

Diameter batang rata-rata 30 cm.

 

 

Maka dari tiap batang pohon jabon menghasilkan kayu yang bisa dijual sebanyak 1,5 m³, sedangkan harga per kubik saat ini Rp 1.000.000,-

 

 

Sehingga harga terendah 1 batang pohon jabon usia 5-10 tahun minimal seharga Rp 1.500.000,-.

 

 

Informasi

 

 

Harga kayu jabon per kubik pada tahun 2009 :

 

 

1. Diameter 30-39 cm, Rp 1.000.000,-

 

 

2. Diameter 40-49 cm, Rp 1.100.000,-

 

 

3. Diameter > 50 cm, Rp 1.200.000,-.

 

 

Harga ini diprediksi akan mengalami kenaikan seiring dengan tingkat kebutuhan/permintaan yang semakin bertambah tiap tahunnya, sedangkan persediaan kayu jabon semakin lama semakin terbatas. Dalam 1 Ha lahan, 1000 batang bibit jabon dengan jarak tanam 3 m x 3 m, dapat ditanam sebanyak 2500 batang bibit jabon dengan jarak tanam 2 m x 2 m .

 

 

 

 

 

Peluang Investasi

 

 

Menanam jabon bagaikan menanam emas, sebab kebutuhan kayu akan terus meningkat, karena saat ini pemerintah melarang penggunaan kayu bulat hasil tebangan hutan alam, akibatnya banyak industri tutup akibat kekurangan pasokan kayu, jadi pada masa mendatang, harga kayu jabon akan semakin meningkat terus. Investasi tanaman keras/kayu yang menguntungkan dan menjanjikan.

 

 

Harga kayu jabon di pasaran relatif tinggi. Adapun harga jual jabon yang usia tebangnya antara 7 sampai 10 tahun dengan asumsi tiap batangnya mampu menghasilkan 1,5 m³. Pada tahun 2009 ini harga log kayu jabon berkisar antara Rp 850.000 sampai Rp 1.100.000 / m³. Berdasarkan harga minimal yaitu Rp 850.000 per meter kubik, maka apabila 1 batang kayu jabon usia tebang 8 tahun mampu menghasilkan setidaknya Rp 1.375.000 per batang. Berdasarkan karakteristik jabon dan keunggulannya secara ekonomis maka kita perlu melirik jabon menjadi salah satu alternatif untuk usaha karena memiliki peluang yang masih terbuka lebar dan sangat berpotensi return yang besar bagi kegiatan investasi anda.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II BOTANI JABON

 

 

A. Taksonomi dan Tatanama Jabon

 

 

Family : Rubiaceae.

 

 

Sinonim : Anthocephalus cadamba auct., A. cadamba (Roxb.) Miq., A. indicus A. Rich., A. morindaefolius Korth.

 

 

Nama Lokal : Kadam (India, Perancis dan nama perdagangan); Kelampayan, Kawak, Jabon (Indonesia).

 

 

B. Morfologi Jabon

 

 

Daun dan Tajuk

 

 

Bentuk tajuk seperti payung dengan sistem percabangan melingkar. Daunnya tidak lebat dengan panjang 13-32 cm.

 

 

Batang

 

 

Batang lurus silindris dan tidak berbanir. Ciri dan karakteristik batang jabon adalah : permukaan kayu licin serta serat arah tegak lurus, berwarna putih kekuningan mirip meranti kuning, batang mudah dikupas, dikeringkan, direkatkan, bebas dari cacat mata kayu dan susutnya rendah. Selalu hijau. Di alam bebas pohon dapat mencapai tinggi 45 m dengan diameter lebih dari 100 cm, sedangkan batas bebas cabangnya mencapai hingga 25 m. Pada umur 3 tahun tingginya dapat mencapai 17 m dengan diameter 30 cm.

 

 

Buah dan Bunga

 

 

Pohon jabon berbuah setiap tahun pada bulan Juni - Agustus. Buahnya merupakan buah majemuk berbentuk bulat dan lunak, mengandung biji yang sangat kecil. Jumlah biji kering udara 18-26 juta butir per kilogram. Jumlah buah 33 butir per kg. Buah yang berukuran sedang dapat menghasilkan sekitar 8300 pohon. Biji yang telah dikeringkan dan disimpan pada tempat yang tertutup rapat dalam ruangan yang sejuk dapat tahan selama satu tahun. Bunga jingga, berkelopak rapat, berbentuk bulat.

 

 

Akar

 

 

Tanaman jabon memiliki dua jenis akar, yaitu akar tunggang dan akar lateral. Akar tunggang merupakan akar yang tumbuh ke bawah dan biasanya berukuran besar. Fungsi utamanya menegakkan tanaman agar tidak mudah roboh. Sedangkan akar lateral merupakan akar yang tumbuh ke samping umntuk mencari air dan unsur hara. Pada akar tunggang dan lateral, biasanya juga tumbuh akar-akar serabut atau sering disebut dengan rambut akar yang membantu menyerap air dan unsur hara.

 

 

Tentang kayu :

 

 

Tanaman kayu keras yang dapat tumbuh sangat cepat. Lingkar batangnya pada usia 6 (enam) tahun bisa mencapai di atas 40-50 cm. Kayunya berwarna putih krem sampai sawo kemerah-merahan, mudah diolah, lunak dan ringan.

 

 

 

 

 

Kelas Kayu :

 

 

Kelas keras III, kelas awet V.

 

 

 

 

 

Hasil kayu :

 

 

Dapat dibuat sebagai bahan bangunan non-konstruksi, meubeler, bahan plywood (kayu lapis).

 

 

C. Deskripsi Botani Jabon

 

 

Penyebaran dan Habitat

 

 

Distribusi alami dimulai dari Nepal dan India, menuju Thailand dan Indochina serta bagian timur Kepulauan Malaya hingga Papua Nugini. Tanaman ini telah diintroduksi di Afrika serta Amerika Tengah dan mampu beradaptasi dengan baik.

 

 

Di Indonesia, tanaman ini terdapat di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sumbawa dan Irian Jaya.

 

 

Merupakan tipikal tanaman pioner dan umum terdapat di hutan sekunder. Jenis yang memerlukan cahaya dan tidak toleran terhadap cuaca dingin. Pada distribusi alaminya, tanaman ini tumbuh baik pada ketinggian 0-1000 mdpl dengan rata-rata curah hujan lebih dari 1.500 mm/tahun, pada jenis tanah lempung, podsolik coklat, dan aluvial lembab yang umumnya terdapat di sepanjang sungai yang beraerasi baik.

 

 

Namun demikian jabon dapat pula tumbuh pada daerah kering dengan curah hujan sedikitnya 200 mm/tahun serta toleran pada kondisi air tergenang yang periodik.

 

 

 

 

 

Sifat Fisik

 

 

Kayu teras berwarna putih semu-semu kuning muda, lambat laun menjadi kuning semu-semu gading, kayu gubal tidak dapat dibedakan dari kayu teras. Tekstur kayu agak halus sampai agak kasar. Arah serat lurus, kadang-kadang agak berpadu. Permukaan kayu licin atau agak licin mengkilap atau agak mengkilap.

 

 

 

 

 

Tempat Tumbuh

 

 

Jabon umumnya tumbuh pada tanah alluvial lembab di pinggir sungai dan di daerah peralihan antara tanah rawa dan tanah kering yang kadang-kadang digenangi air. Selain itu dapat juga tumbuh dengan baik pada tanah liat, tanah lempung, podsolik coklat, tanah tuf halus atau tanah lempung berbatu yang tidak sarang. Jenis ini memerlukan iklim basah hingga kemarau kering di dalam hutan gugur daun dengan tipe curah hujan A dan D, mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m dari permukaan laut.

 

 

Pertumbuhan

 

 

Pertumbuhan sangat cepat dibandingkan dengan kayu keras lainnya termasuk bila dibandingkan dengan sengon (albasia), jabon tergolong tumbuhan pionir sebagaimana sengon. Ia dapat tumbuh di tanah liat, tanah lempung podsolik cokelat, atau tanah berbatu. Sejauh ini jabon bebas serangan hama dan penyakit, termasuk karat tumor yang kini banyak menyerang sengon.

 

 

Hama dan Penyakit

 

 

Tanaman muda biasa dimakan binatang liar seperti rusa dan banteng. Serangga dan jamur Gloeosporium anrhocephali Desm and Mont. menyerang daun yang menyebabkan mati pucuk.

 

 

Penanaman dan Perawatan

 

 

Jabon merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan berkembang tidak memerlukan banyak perlakuan khusus dalam budidayanya.

 

 

Pemasaran

 

 

Karena jenis kayunya yang berwarna putih agak kekuningan dan tanpa terlihat seratnya, maka kayu jabon sangat dibutuhkan oleh industri kayu lapis (plywood), industri meubel, pulp, produsen peti buah, mainan anak-anak, korek api, alas sepatu, papan, tripleks, dsb. Hal inilah yang menyebabkan pemasaran kayu jabon sama sekali tidak mengalami kesulitan, bahkan industri kayu lapis siap untuk membeli setiap saat dalam jumlah yang tidak terbatas.

 

 

 

 

 

Data Pertumbuhan & Panen:

 

 

Mencapai usia optimal panen pada usia 5-7 th. Pertumbuhan diameter pohon antara 5-10 cm/th.

 

 

 

 

 

BAB III BUDIDAYA JABON

 

 

Di Indonesia Jabon dikenal sebagai kelempayan. Tanaman ini terdapat di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sumbawa dan Irian Jaya. Tanaman yang termasuk famili Rubiaceae ini tumbuh baik pada ketinggian 0–1000 mdpl, pada jenis tanah lempung, podsolik cokelat, dan aluvial lembab yang yang umumnya terdapat di sepanjang sungai yang beraerasi baik.

 

 

Jabon adalah jenis pohon cahaya (light-demander) yang cepat tumbuh. Pada umur 3 tahun tingginya dapat mencapai 9 m dengan diameter 11 cm. Di alam bebas, pohon jabon pernah ditemukan mencapai tinggi 45 m dengan diameter lebih dari 100 cm. Tanaman jabon (Anthocephalus cadamba) merupakan tanaman tropis dan sub-tropis yang sejak dahulu telah dikenal sebagai pohon yang memiliki kualitas tinggi dan bernilai jual tinggi. Tanaman jabon merupakan tanaman asli Indonesia yang terdapat di seluruh daerah dari Sabang sampai Merauke, tersebar secara alami dari dataran rendah sampai ke pegunungan.

 

 

 

 

 

A. Ciri-ciri Tanaman Jabon

 

 

* Batangnya Silindris, lurus, dan tegak. Cabang yang ada pada masa pertumbuhan akan rontok sendiri ketika pohon meninggi dan menguntungkan karena tidak memerlukan pemangkasan lagi. Kayu jabon termasuk kayu lunak, ringan berwarna putih kekuningan berserat sedikit serta termasuk kelas kuatnya digolongkan kelas tiga. Pohon jabon dapat mencapai tinggi 45 m dengan batang bebas cabang 30 m. Diameter dapat mencapai 160 cm. Kulit kelabu beralur memanjang, batang bulat panjang dan lurus.

 

 

* Pada bagian yang lebih tinggi mempunyai cabang-cabang mendatar tapak lebar. Pada puncak agak memadat, berbentuk bulat mendatar dan jarang. Kayu jabon dapat digunakan untuk kayu veener (kayu lapis), korek api, kotak/pallet, seedling board, meubel, kertas dan rayon, hard box dan kayu gergajian.

 

 

* Perbanyakan bahan tanaman secara generatif artinya perbanyakan melalui penanaman benih. Agar hasil perbanyakan ini mempunyai kualitas yang baik maka perlu memperhatikan aspek kualitas dari pohon induk benih. Oleh karenanya perlu adanya upaya pemilihan pohon induk alami atau membangun secara khusus pohon induk yang terisolasi dari areal tanaman jabon. Hal ini dimaksudkan agar pohon induk tidak terkontaminasi oleh bunga tanaman jabon yang tidak dikehendaki. Persyaratan sebagai pohon induk jabon :

 

 

Pohon memiliki penampakan tumbuh yang baik, sehat dan kokoh.

 

 

Tahan terhadap gangguan hama dan penyakit, memiliki kematangan umur optimal 15 Tahun, memiliki kecambah benih

 

 

 

 

 

 

 

 

Investasi Tanaman Kayu Jabon

 

 

1. Analisa Anggaran Biaya

 

 

Pada Luasan 1 Hektar Lahan dengan pola Tanam 2x2 m (2500 pohon)

 

 

 

 

 

1. Pembelian Bibit 2.500/batang x Rp. 2.500,-                 : Rp. 6.250.000,-

 

 

2. Pembelian Bibit Penyulam 625/batang x Rp. 2.500,-    : Rp. 1.562.500,-

 

 

3. Peralatan Rp. 2.500.000,-/set                                      : Rp. 2.500.000,-

 

 

4. Pembelian Pupuk (NPK, Urea, Pupuk Kompos)               : Rp. 9.687.500,-

 

 

5. Biaya Tenaga Kerja

 

 

a. Pengolahan Lahan 50.000/HOK x 50 HOK/Hektar          : Rp. 2.500.000,-

 

 

b. Lubang Tanam 50.000/HOK x 75 HOK/Hektar                : Rp. 3.750.000,-

 

 

c. Penanaman 50.000/HOK x 25 HOK/Hektar                     : Rp. 1.250.000,-

 

 

6. Biaya Perawatan/pemeliharaan selama 5 tahun             : Rp. 5.000.000,-

 

 

7. Pestisida

 

 

a. Insektisida Kondisional Rp.250.000,-/tahun x 5 tahun   : Rp. 1.250.000,-

 

 

b. Fungisida Kondisional Rp.250.000,-/tahun x 5 tahun     : Rp. 1.250.000,-

 

 

                                            JUMLAH                                 : Rp. 35.000.000,-

 

 

 

 

 

2. Penerimaan Dalam Investasi Jabon

 

 

Pada Luasan 1 Hektar Lahan Pola Tanam 2x2m (2500 Pohon)

 

 

 

 

 

1. Penjarangan

 

 

Estimasi 0,5 m3/pohon di usia 3-4 tahun x 1250 pohon = 625 m3

 

 

Hitungan : 625 m3 x Rp. 1.000.000,- (diameter 30-39 cm) : Rp. 625.000.000,-

 

 

 

 

 

2. Pemanenan akhir

 

 

Estimasi 0,75 m3/pohon di usia 5 tahun x 1250 pohon = 937,5 m3

 

 

Hitungan : 937,5 m3 x Rp. 1.100.000,- (diameter 40-49 cm)      : Rp. 1.031.250.000,-

 

 

 

 

 

3. Analisis Keuntungan Investasi Jabon

 

 

Pada Luasan 1 Hektar Lahan Pola Tanam 2x2m (2500 Pohon)

 

 

 

 

 

I. KEUNTUNGAN Penerimaan (penjarangan+Panen akhir)            : Rp. 1.656.250.000,-

 

 

Biaya Operasional Panen :

 

 

1.Biaya tebang                        Rp.150.000,-/m3 x 1562.5 m3       : Rp. 234.375.000,-

 

 

2.Biaya transport dari kebun      Rp. 50.000,-/m3 x 1562.5 m3     : Rp.   78.125.000,-

 

 

3.Biaya transport ke Pabrik     Rp.100.000,-/m3 x 1562.5 m3       : Rp.  156.250.000,-

 

 

4.Zakat/Infak 2,5%                                                                        : Rp.    41.406.250,-

 

 

5.Retribusi (surat jalan dari pemerintah setempat)                        : Rp.    16.562.500,-

 

 

 

 

 

Jumlah Keuntungan Bersih                                                      : Rp. 1.129.531.250,-

 

 

 

 

 

4. BAGI HASIL KONSEP SYARIAH

 

 

Pola kerjasama dengan konsep BAGI HASIL dengan skim sebagai berikut :

 

 

Pemilik lahan                          = 10 %

 

 

Investor                                = 50 %

 

 

Petani penggarap                 = 25 %

 

 

Pengelola PD. TUTURUBUS   = 15 %

 

 

Total                                      = 100 %

 

 

 

 

 

Keterangan:

 

 

1. PEMILIK LAHAN adalah Orang/Perusahaan/Organisasi yang mempunyai lahan dengan bukti kepemilikkan yang sah (Surat Girik/AJB/HGU/SHM).

 

 

2. INVESTOR adalah Orang/Perusahaan/Organisasi yang membiayai penanaman awal dengan total investasi sebesar Rp. 35.000.000,- per-hektar lahan.

 

 

3. PETANI PENGGARAP adalah Kelompok Masyarakat Tani di sekitar lokasi lahan yang dibina dan bertindak sebagai pelaksana dari penanaman, perawatan dan pemanenan selama masa tanam sampai dengan panen.

 

 

4. PENGELOLA adalah Penangkar Benih Pertanian dan Kehutanan. TUTURUBUS yang mengelola dan bertanggung jawab sejak mulai penanaman awal sampai dengan penjualan hasil panen.

 

 

 

 

 

SEHINGGA ESTIMASI PENDAPATAN:

 

 

Pemilik lahan         = 10 % x Rp. 1.129.531.250,- = Rp. 112.953.250,-

 

 

Investor                = 50 % x Rp. 1.129.531.250,- = Rp. 564.765.500,-

 

 

Petani penggarap = 25 % x Rp. 1.129.531.250,- = Rp. 282.383.000,-

 

 

Pengelola              = 15 % x Rp. 1.129.531.250,- = Rp. 169.429.500,-

 

 

 

 

 

HAK PEMILIK LAHAN ADALAH

 

 

10 PERSEN HASIL BERSIH DARI Rp. 1.129.531.250,- ATAU

 

 

SEKITAR Rp. 112.953.250,- RUPIAH/HEKTAR!

 

 

 

 

 

PEMILIK LAHAN DAPAT JUGA MERANGKAP SEBAGAI INVESTOR

 

 

DENGAN MEMBIAYAI PENANAMAN AWAL SEBESAR Rp. 35 JUTA/HEKTAR

 

 

SEHINGGA DI TAHUN KE-5 AKAN MEMPEROLEH HASIL:

 

 

Pemilik lahan = 10 % x Rp. 1.129.531.250,- = Rp. 112.953.250,-

 

 

Investor = 50 % x Rp. 1.129.531.250,- = Rp. 564.765.500,-

 

 

TOTAL PENDAPATAN = Rp. 677.718.750,-

 

 

 

 

 

HAK PEMILIK LAHAN YANG JUGA MERANGKAP SEBAGAI INVESTOR ADALAH

 

 

10% + 50% HASIL BERSIH DARI Rp. 1.129.531.250,- ATAU

 

 

SEKITAR Rp. 677.718.750,-/HEKTAR

 

 

 

 

 

                                            “BIAR UANG ANDA YANG BEKERJA UNTUK ANDA”

 

 

 

 

 

Catatan:

 

 

*) Pembagian hasil akan dibayarkan secara tunai, segera setelah penjualan hasil panen diakhir masa periode tanam.

 

 

**)Estimasi Perhitungan berdasarkan masukkan dari berbagai sumber dengan perkiraan hasil dan harga terendah.

 

 

 

 

 

Keuntungan Bersih per 5 tahun

 

 

Pemilik lahan         = Rp. 112.953.250,-

 

 

Investor                = Rp. 564.765.500,-

 

 

Petani penggarap = Rp. 282.383.000,-

 

 

Pengelola              = Rp. 169.429.500,-

 

 

 

 

 

Keuntungan Bersih per tahun

 

 

Pemilik lahan          = Rp. 112.953.250,- : 5 Tahun = Rp. 22.590.500,-

 

 

Investor                = Rp. 564.765.500,- : 5 Tahun = Rp. 112.953.000,-

 

 

Petani penggarap = Rp. 282.383.000,- : 5 Tahun = Rp. 56.476.500,-

 

 

Pengelola              = Rp. 169.429.500,- : 5 Tahun =Rp. 33.885.938,-

 

 

 

 

 

Keuntungan Bersih per Bulan

 

 

Pemilik lahan         = Rp. 112.953.250,- : 60 Bulan = Rp. 1.882.500,-

 

 

Investor               = Rp. 564.765.500,- : 60 Bulan = Rp. 9.413.000,-

 

 

Petani penggarap = Rp. 282.383.000,- : 60 Bulan = Rp. 4.706.000,-

 

 

Pengelola              = Rp. 169.429.500,- : 60 Bulan = Rp. 2.824.000,-

 

 

 

 

 

Keuntungan Bersih per Hari

 

 

Pemilik lahan         = Rp. 112.953.250,- : 1800 Hari = Rp. 63.000,-

 

 

Investor                = Rp. 564.765.500,- : 1800 Hari = Rp. 314.000,-

 

 

Petani penggarap = Rp. 282.383.000,- : 1800 Hari = Rp. 157.000,-

 

 

Pengelola              = Rp. 169.429.500,- : 1800 Hari = Rp. 94.000,-

 

 

 

 

 

Cat :

 

 

- PAY BACK PERIOD (PBP) : 0.0309 %

 

 

- RETURN ON INVESTMENT (ROI) : 32,27 %

 

 

- REVENUE-COST RATIO (R/C Ratio) : 47,32 %

 

 

 

 

 

 

 

 

C. Tanaman Tumpang Sari juga bias berdampingan dengan tanaman Lain :

 

 

- Tanaman Pangan

 

 

- Tanaman Hotikultura

 

 

- Tanaman Obat

 

 

- Dll.

 

 

 

 

 

BAB V MANFAAT DAN FUNGSI

 

 

 

 

 

*Lingkungan Hidup

 

 

- Pelestarian Hutan

 

 

- Mencegah erosi dan banjir

 

 

- Menyimpan Cadangan air tanah

 

 

- Penghasil O2

 

 

- Keindahan alam

 

 

- Mengurangi polusi udara

 

 

 

 

 

*Pelaku Budidaya

 

 

- Menambah penghasilan

 

 

- Penambahan lapangan kerja (per Ha 2 KK x 2000 Ha lahan = 4000 KK x rata-rata 2 orang anak + 1 istri = 16000 orang penerima pemanfaat)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh Draft

 

 

Perjanjian Kerjasama Penanaman Pohon Kayu Jabon

 

 

 

 

 

 

 

 

PERJANJIAN KERJA SAMA INVESTASI

 

 

TANAMAN KAYU JABON (ANTOCEPHALUS CADAMBA/CHINENSIS)

 

 

 

 

 

Pada hari ini ……….. tanggal ……. bulan …….. tahun ……… kami yang bertanda tangan di bawah ini:

 

 

 

 

 

1. Nama          : WAWAN SETIAWAN

 

 

    No KTP        : 32.4025.310777.0006

 

 

    Jabatan      : Direktur CV. TUTURUBUS

 

 

    Alamat        : Kp. Sawahlega RT 03 RW 03 Desa Nagrog

 

 

                         Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung 40395

 

 

 

 

 

Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama CV. TUTURUBUS yang beralamat di Jalan Raya Timur KM 32 (CIKURUTUG) Desa Cicalengka Wetan Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung

 

 

Selanjutnya disebut sebagai PIHAK PERTAMA

 

 

 

 

 

2. Nama          : ..............................................................................

 

 

    No KTP        : ..............................................................................

 

 

    Jabatan      : ..............................................................................

 

 

    Alamat        : ..............................................................................

 

 

 

 

 

Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama DIRINYA SENDIRI

 

 

selanjutnya disebut sebagai PIHAK KEDUA

 

 

 

 

 

Menerangkan terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut:

 

 

1. PIHAK PERTAMA adalah PENGELOLA tanaman kayu JABON (Anthocephalus cadamba/chinensis) yang berperan sebagai Penanggung jawab sepenuhnya Investasi penanaman tanaman kayu JABON yang diberikan oleh PIHAK KEDUA

 

 

2. PIHAK KEDUA adalah INVESTOR yang telah mengeluarkan dan menginvestasikan uangnya sejumlah ……………………………………………….. untuk biaya Pengelolaan penanaman tanaman kayu JABON yang dilakukan oleh PIHAK PERTAMA

 

 

 

 

 

Pasal 1

 

 

Dasar perjanjian

 

 

1. Formulir pendaftaran Investor penanam jabon

 

 

2. Perjanjian kerjasama kesediaan lahan untuk penanaman jabon antara Penangkar Benih Pertanian dan Kehutanan TUTURUBUS (PIHAK PERTAMA) dengan para pemilik lahan baik perorangan, kelompok tani, Peneriman kuasa Hak Garapan ataupun INVESTOR

 

 

3. Kesepakatan kerjasama Penanaman Tanaman Jabon dengan system Bagi Hasil Syari’ah

 

 

 

 

 

Pasal 2

 

 

Pengertian-pengertian dasar

 

 

Dalam perjanjian ini yang di maksud dengan:

 

 

1. Perjanjian adalah suatu peristiwa hukum dimana seseorang /badan hukum berjanji kepada seseorang /badan hukum lainnya ,atau dimana dua orang/dua badan hukum saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.

 

 

2. Sharing/bagi hasil adalah suatu obyek berbagi yang dapat berupa barang atau uang berdasarkan kesepakatan para pihak yang bekerjasama dengan proporsi berbagi yang disesuaikan dengan peran dan kontribusi masing-masing pihak.

 

 

3. Tanaman kayu jabon adalah jenis tanaman yang menjadi obyek sharing/bagi hasil antara para pihak.

 

 

 

 

 

Pasal 3

 

 

Obyek lokasi perjanjian

 

 

Lokasi perjanjian yang dimaksud adalah tanah …………. blok/wilayah ……………………………………….… seluas …………………………… beralamat di ……………………………………………………………………………………….

 

 

 

 

 

Pasal 4

 

 

Prisip kerjasama

 

 

Kerjasama memiliki prinsip dan tujuan untuk memanfaatkan potensi alam dan menghijaukan lahan-lahan agar lebih bermanfaat untuk kemakmuran Pemilik lahan, Petani, Pengelola dan Investor setempat serta sabagai upaya mendukung pemerintah dalam gerakan Penghijauan, pembendaharaan air tanah, pencegahan banjirn pencegahan erosi dan penanggulangan pemanasan global

 

 

 

 

 

Pasal 5

 

 

Hak dan Kewajiban PARA PIHAK

 

 

PIHAK PERTAMA Berhak :

 

 

1. Memantau pelaksanaan kerjasama ini bersama – sama dengan PIHAK KEDUA.

 

 

2. Memperoleh manfaat berupa sharing / bagi hasil berbentuk uang dari penjualan kayu jabon yang ditebang.

 

 

3. Bersama – sama PIHAK KEDUA menyusun rencana pelaksanaan penanaman dan melaksanakan rencana dan mengadakan evaluasi pelaksanaan kegiatan dalam perjanjian.

 

 

4. Melaksanakan kegiatan teknis tebangan / ekploitasi kayu jabon yang menjadi obyek kerjasama sesuai kesepakatan PARA PIHAK.

 

 

5. Melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan ekploitasi, dan sebagai satu – satunya pihak yang memiliki hak pemasaran atau penjualan kayu Jabon yang menjadi obyek kerjasama.

 

 

 

 

 

PIHAK KEDUA berhak :

 

 

1. Memperoleh manfaat berupa sharing / bagi hasil berupa uang dari penjualan kayu Jabon yang ditebang.

 

 

2. Bersama – sama PIHAK PERTAMA menyusun dan melaksanakan rencana pelaksanaan penanaman dan mengadakan evaluasi pelaksanaan kegiatan perjanjian ini.

 

 

3. Memantau dan turut mengawasi obyek perjanjian ini

 

 

4. Berkunjung dan melihat secara langsung lokasi obyek perjanjian ini

 

 

5. Mendapatkan laporan mengenai perkembangan tanaman yang dikerjasamakan

 

 

 

 

 

PIHAK PERTAMA Berkewajiban :

 

 

1. Mengelola tanaman yang dikerjasamakan sampai panen dan penanganan pasca panen

 

 

2. Melakukan bimbingan kepada petani penggarap untuk mematuhi ketentuan - ketentuan sesuai perjanjian

 

 

3. Membuat laporan perkembangan tanaman kepada PIHAK KEDUA

 

 

4. Memasarkan kayu jabon yang dikerjasamakan

 

 

 

 

 

 

 

 

PIHAK KEDUA Berkewajiban :

 

 

1. Memeriksa aspek legal atas areal tanaman yang akan ditanami kayu jabon. .

 

 

2. Memeriksa kesiapan lahan meliputi pelubangan sebelum tanaman ditanam.

 

 

3. Menyediakan biaya pananaman dan parawatan sesuai dangan nominal yang disepakati PARA PIHAK.

 

 

 

 

 

Pasal 6

 

 

Pembagian Hasil

 

 

1. Sharing / bagi hasil diterima oleh para pihak yang dalam bentuk dalam uang tunai dari hasil penjualan kayu Jabon.

 

 

2. Para pihak sepakat bahwa besarnya sharing/ bagi hasil yang diterima adalah sebagai berikut :

 

 

A. PEMILIK LAHAN                                                   : 10%

 

 

B. PIHAK KEDUA/INVESTOR                                    : 50%

 

 

C. PETANI PENGGARAP                                           : 20%

 

 

D. PIHAK PERTAMA/PENGELOLA (TUTURUBUS)      : 15%

 

 

E. TIM KEAMANAN TANAMAN                                  : 5 %

 

 

 

 

 

3. Penerimaan bagi hasil dalam bentuk uang tunai, setelah di kurangi biaya – biaya eksploitasi, zakat/Infak 2.5 %, dan transportasi.

 

 

4. Sharing / bagi hasil tersebut di tuangkan dalam bentuk berita acara penyerahan yang ditanda tangani oleh PARA PIHAK.

 

 

 

 

 

Pasal 7

 

 

Jangka Waktu dan Panen

 

 

1. Perjanjian kerjasama ini berlaku sejak tanggal, bulan dan tahun ditandatanganinya perjanjian kerjasama ini oleh PARA PIHAK sampai dengan masa tebang Jabon selama lima tahun dan diterangkan secara terperinci dalam pasal 6 ( enam ) ayat 2 ( dua ) sampai ayat 4 ( empat ).

 

 

2. PARA PIHAK yang dituangkan dalam BERITA ACARA PEMANENAN serta ditandatangani oleh PARA PIHAK. Pelaksanaan pemanenan mulai dilakukan pada tahun ke lima

 

 

3. Jika pada umur lima tahun tidak dapat dilakukan pemanenan karena belum memenuhi standar pasar atau permintaan pembeli atau belum menguntungkan secara ekonomis yang diketahui PARA PIHAK maka penebangan dilakukan pada tahun berikutnya

 

 

4. Perjanjian ini dapat diperpanjang kembali dengan kesepakatan PARA PIHAK.

 

 

5. Yang dimaksud dengan pemanenan adalah penebangan habis. Hasil dari pemanenan tersebut menjadi milik PARA PIHAK.

 

 

6. Selama masa perjanjian kerjasama ini PARA PIHAK tidak diperbolehkan melaksanakan kegiatan penebangan kayu jabon pada lokasi obyek kerjasama, tanpa kesepakatan dan sepengetahuan PARA PIHAK.

 

 

 

 

 

Pasal 8

 

 

Force Majoure

 

 

1. Apabila terjadi force majoure (keadaan memaksa) seperti bencana alam, serangan hama penyakit, peperangan, huru hara dan lain – lain yang berakibat pada tidak dapat terlaksananya kegiatan yang tercantum dalam perjanjian ini secara keseluruhan atau sebagian, akan dilaksanakan secara musyawarah.

 

 

2. Kerugian yang di akibatkan oleh force majoure tersebut menjadi beban PARA PIHAK.

 

 

 

 

 

Pasal 9

 

 

Perselisihan

 

 

1. Apabila terjadi perselisihan antara PARA PIHAK akan diselesaikan secara musyawarah.

 

 

2. Apabila perselisihan itu tidak dapat diselesaikan dengan musyawarah maka akan diselesaikan sesuai jalur hukum, melalui kantor kepaniteraan pengadilan negeri yang ditunjuk.

 

 

Pasal 10

 

 

Ketentuan tambahan

 

 

1. Harga jual kayu jabon disesuaikan dengan harga jual dipasaran pada saat kegiatan pemanenan dilaksanakan.

 

 

2. Apabila di lokasi obyek perjanjian ini terjadi pencurian dan atau kebakaran dan atau bencana alam terhadap tanaman jabon sehingga berakibat jumlah tanaman jabon menjadi berkurang dan tidak sesuai dengan yang tercantum di dalam berita acara penanaman terlampir, maka dapat dipertanggung jawabkan secara bersama - sama dengan ketentuan sebagai berikut :

 

 

 

 

 

a. Akibat pencurian dan atau kebakaran yang dilakukan secara sengaja oleh pelaku dibebankan kepada pelaku dan dapat dipidanakan.

 

 

b. Akibat bencana alam dan kelalaian PARA PIHAK menjadi beban bersama PARA PIHAK.

 

 

3. Apabila terdapat kekeliruan atau hal – hal yang belum diatur dalam perjanjian ini, maka diatur dalam suatu addendum yang tidak bertentangan dengan perjanjian ini dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan memiliki kekuatan hukum yang sama.

 

 

4. Segala biaya yang timbul sebagai akibat dari pembuatan perjanjian ini menjadi beban PIHAK KEDUA.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasal 11

 

 

Ketentuan penutup

 

 

Perjanjian ini dibuat rangkap 2 (dua) bermaterai cukup, masing – masing mempunyai kekuatan hukum yang sama dan dipegang oleh masing-masing pihak sebagai berikut ;

 

 

1. Buku kesatu untuk PIHAK PERTAMA.

 

 

2. Buku kedua untuk PIHAK KEDUA.

 

 

 

 

 

 

 

 

TERTANDA PARA PIHAK:

 

 

 

 

 

PIHAK KEDUA                                          PIHAK PERTAMA

 

 

  INVESTOR                                      Direktur CV. TUTURUBUS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

…………………                                    WAWAN SETIAWAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JABON USIA 4 BULANJABON USIA 4 BULAN