Posts
Cerita sufi updated their cover photo.
No automatic alt text available.

Abu Nawas membuat raja mau memijatnya

Suatu kali Abu Nawas diundang makan malam oleh raja. Pada kesempatan ini untuk kesekian kalinya raja ingin menguji kecerdikan Abu Nawas.

Setelah berdoa, hadirin dipersilakan makan oleh raja. Namun ketika Abu Nawas ingin mengambil ayam di hadapannya, Raja Harun Al Rasyid menyela, "Hai Abu, apa yang kau lakukan pada ayam itu akan aku lakukan padamu."

...

"Saya belum mengerti, bagaimana maksud paduka?" tanya Abu Nawas.

"Begini, Abu. Sebagai contoh, jika kau memotong bagian sayap ayam itu maka aku juga akan memotong lenganmu," jelas raja.

Abu Nawas jadi mengurungkan niatnya menyantap ayam yang dipandangnya lezat itu. Setelah terdiam cukup lama, Abu Nawas menemukan ide cerdik. Ia coba cubit sayam ayam itu. Maka seketika baginda raja mencubit lengan Abu Nawas. Abu Nawas menepuk lembut punggung ayam, raja pun menepuk lembut punggung Abu Nawas.

Maka Abu awas melanjutkan aksi cerdiknya, yakni memijat sayap ayam. Maka sang raja mau tidak mau memijat lengan Abu Nawas. Namun tak lama sang raja menghentikan gerak memijatnya, meskipun Abu Nawas masih memijat sayap ayam itu. Sang raja pun mempersilakan Abu Nawas untuk memakan ayam itu serta apapun yang Abu Nawas inginkan di meja hidangan tersebut.

Sang raja mengakui kecerdikan Abu Nawas untuk kesekian kalinya. Sang raja juga merasa terhibur dengan ulah Abu Nawas itu.

sumber : www.brilio.net

See More
Posts

_MEMBALAS TIPUAN SANG HAKIM_
Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid, ada seorang hakim yang baru saja diangkat. Hakim ini terkenal zalim, dan kezalimannya itu ditampakkan ketika ada seorang pemuda Mesir datang ke Baghdad untuk berdagang dengan membawa harta yang sangat banyak.
Pada suatu malam, pemuda ini bermimpi telah menikah dengan seorang wanita, yang mana wanitanya adalah anak dari seorang hakim dimana si pemuda membawa mahar (maskawin) yang sangat banyak. Mimpi...

Continue Reading

Kisah Abu Nawas : Pesan Bagi Para Hakim

Bapaknya Abu Nawas adalah penghulu kerajaan baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari, bapaknya abu nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.
Abu nawas dipanggil ke istana. Ia diperintah sultan (raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan abu nawas hampir tiada bedanya dengan kadi Maulana baik mengenai tatacara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati, dan ...

Continue Reading

Air Susu yang Pemalu

Suatu hari Sultan Harun Al-Rasyid berjalan-jalan di pasar. Tiba-tiba ia memergoki Abu Nawas tengah memegang botol berisi anggur. Sultan pun menegur san Penyair, “Wahai Abu Nawas, apa yang tengah kau pegang itu?”

Dengan gugup Abu Nawas menjawab, “Ini susu Baginda.”

...

“Bagaimana mungkin air susu ini berwarna merah, biasanya susu kan berwarna putih bersih,” kata Sultan keheranan sambil mengambil botol yang di pegang Abu Nawas.

“Betul Baginda, semula air susu ini berwarna putih bersih, saat melihat Baginda yang gagah rupawan, ia tersipu-sipu malu, dan merona merah.”

Mendengar jawaban Abu Nawas, baginda pun tertawa dan meninggalkannya sambil geleng-geleng kepala.

See More

Abu Nawas dan Kadi Malang

Abu Nawas, yang tidak diundang ke istana untuk upacara pemberian nama bayi lelaki yang diselenggarakan oleh Baginda Sultan, nekad datang. Ia tidak setuju dengan nama Fulan yang akan diberikan kepada bayi itu. “Biasanya orang yang bernama Fulan itu bodoh,” katanya.

Kepada Sultan yang memergoki dintara para orang besar yang di udang, Abu Nawas bertanya, “Tidak bolehkah nama itu diganti?”

...Continue Reading

Abu Nawas dan Kisah Enam Ekor Lembu yang Pandai Bicara

Pada suatu hari, Sultan Harun al-Rasyid memanggil Abu Nawas menghadap ke Istana. Kali ini Sultan ingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Sesampainya di hadapan Sultan, Abu Nawas pun menyembah. Dan Sultan bertitah, “Hai, Abu Nawas, aku menginginkan enam ekor lembu berjenggot yang pandai bicara, bisakah engkau mendatangkan mereka dalam waktu seminggu? Kalau gagal, akan aku penggal lehermu.

“Baiklah, tuanku Syah Alam, hamba junj...ung tinggi titah tuanku.”

Semua punggawa istana yang hadir pada saat itu, berkata dalam hati, “Mampuslah kau Abu Nawas!”

Abu Nawas bermohon diri dan pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah, ia duduk berdiam diri merenungkan keinginan Sultan. Seharian ia tidak keluar rumah, sehingga membuat tetangga heran. Ia baru keluar rumah persis setelah seminggu kemudian, yaitu batas waktu yang diberikan Sultan kepadanya.

Ia segera menuju kerumunan orang banyak, lalu ujarnya, “Hai orang-orang muda, hari ini hari apa?”

Orang-orang yang menjawab benar akan dia lepaskan, tetapi orang-orang yang menjawab salah, akan ia tahan. Dan ternyata, tidak ada seorangpun yang menjawab dengan benar. Tak ayal, Abu Nawas pun marah-marah kepada mereka, “Begitu saja kok anggak bisa menjawab. Kalau begitu, mari kita menghadap Sultan Harun Al-Rasyid, untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.”

Keesokan harinya, balairung istana Baghdad dipenuhi warga masyarakat yang ingin tahu kesanggupan Abu Nawas mambawa enam ekor Lembu berjenggot.

Sampai di depan Sultan Harun Al-Rasyid, ia pun menghaturkan sembah dan duduk dengan khidmat. Lalu, Sultan berkata, “Hai Abu Nawas, mana lembu berjenggot yang pandai bicara itu?”

Tanpa banyak bicara, Abu Nawas pun menunjuk keenam orang yang dibawanya itu, “Inilah mereka, tuanku Syah Alam.”

“Hai, Abu Nawas, apa yang kau tunjukkan kepadaku itu?”

“Ya, tuanku Syah Alam, tanyalah pada mereka hari apa sekarang,” jawab Abu Nawas.

Ketika Sultan bertanya, ternyata orang-orang itu memberikan jawaban berbeda-beda. Maka berujarlah Abu Nawas, “Jika mereka manusia, tentunya tahu hari ini hari apa. Apalagi jika tuanku menanyakan hari yang lain, akan tambah pusinglah mereka. Manusia atau hewan kah mereka ini? “Inilah lembu berjenggot yang pandai bicara itu, Tuanku.”

Sultan heran melihat Abu Nawas pandai melepaskan diri dari ancaman hukuman. Maka Sultan pun memberikan hadiah 5.000 dinar kepada Abu Nawas.

See More

Cara Abu Nawas Merayu Tuhan

Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan.

Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas...

Continue Reading

suatu ketika abu nawas sedang bercengkrama dengan teman2nya. Tiba2 terdengar suara atap kriet....kriet. Lalu seorang temannya bertanya pada abunawas"kenapa atap itu?". "Atap itu sedang berzikir" jawab abu nawas enteng. Semakin lama suara atap itu semakin kencang, abu nawas berdiri lalu lari terbirit-birit."Kenapa kau lari", tanya seorang temannya. Abu nawas menjawab"aku khawatir atap itu semakin khusuk ,lalu sujud,kalau sampai sujud penyetlah kita....

assalamu'alaikum

Assalamu ' Alaikum
Translated

Abu Nawas dan Pesta Yahudi

Suatu hari Abu Nawas singgah di rumah kenalannya, seorang Yahudi. Di sana sedang berlangsung permainan musik. Banyak yang menonton sehingga susananya meriah. Semua tamu yang datang terlibat dalam permainan musik itu, termasuk Abu Nawas yang baru saja masuk, ada yang main kecapi, ada yang menari-nari, semua bersuka ria. Demikian asyiknya permainan itu sampai menguras tenaga, karena makan waktu cukup lama.

Dan ketika para tamu sudah pada kehausan, tua...

Continue Reading

Abu Nawas, Kuah Dibalas Makjun

Di mata Khalifah Harun al-Rasyid figur Abu Nawas memang lihai, dia tidak hanya lucu tetapi juga bijaksana sehingga tidak dapat dipandang enteng. Di satu pihak hal itu sangat membanggakan khalifah, tetapi di lain pihak, sangat menjengkelkannya, karena ia suka kurang ajar dan tidak tahu diri. Oleh karena itu baginda tidak pernah berhenti memeras otak untuk dapat membalas Abu Nawas.
Pada suatu hari di bulan Rabiulawal, baginda khalifah tersenyum si...

Continue Reading

Kisah Abu Nawas akan Disembelih

Hari itu Abu Nawas sengaja menghabiskan waktunya berkeliling kampung, pinggiran Kota Baghdad. Ia baru pulang saat menjelang maghrib. Ketika lewat Kampung Badui (orang gurun) ia bertemu dengan beberapa orang yang sedang memasak bubur. Suasananya ramai, bahkan riuh rendah. Tanpa disadari ia di tangkap oleh orang-orang itu dan dibawa ke rumah mereka untuk disembelih.

“Mengapa aku ditangkap?” tanya Abu Nawas.

...Continue Reading

Abu Nawas, Mengajar Lembu Mengaji Al-Qur’an

“Panggil Abu Nawas kemari hari ini juga,“ titah Sultan Harun Al-Rasyid kepada seorang hambanya.

“Tuan Abu Nawas …” kata si hamba raja sesampai di rumah Abu Nawas, “Tuan Hamba dipersilahkan Baginda datang ke istana hari ini juga.”

...Continue Reading

Abu Nawas dan Mimpi Indah

Seorang pendeta dan seorang rahib berencana memperdayai Abu Nawas. Rencanapun disusun rapid an mereka segera bertandang kerumah Abu Nawas yang disambut baik oleh yang empunya rumah.

“Kami ingin mengajakmu melakukan pengembaraan suci, wahai Abu Nawas. Kami berharap engkau tidak keberatan dan dapat bergabubg bersama kami,” ujar si Rahib sambil melirik pada kawan di sebelahnya.

...Continue Reading