Photos
Reviews
4.4
42 Reviews
Tell people what you think
Johanes Fabou Koraag
· October 11, 2017
Mengenal sejarah suatu daerah membuat kita semakin mencintai daerah tersebut. Saya usul agar foto foto dan kisah kisah di grup ini dibukukan supaya bisa dibaca oleh anak cucu kita kelak.
Asep Kawer
· August 16, 2017
Dengan mengenal dan mengenang sejarah masa lalu wilayah kita, baik itu sisi kondisi ekonomi, sosial, budaya maupun politiknya. Setidaknya akan mengingatkan dari mana kita, siapa kita...termasuk apa ya...ng harus kita perbuat ke depan...bravo...!! See More
Ellyzabeth Yati
· September 20, 2017
hayu urang sauyunan urang banjar patroman
Mimin Mitha
· August 21, 2017
Bangga pernah jadi orang banjar ...alumni sdn 10 banjar..tahun 1986..ada ngak ya...
Pipin Saripima Amani Amani
· March 31, 2017
Lan msh aya foto jadulnya he he eta dkat rmh lie bok kie bpknya lie poe cu ya
Teh Yayah Aza
· August 20, 2017
Aku bangga jadi orang banjar patroman...
Iwan Hermawan
· July 12, 2016
Hatur nuhun. Sugan aya sobat zaman sd kapungkur di sdn 7 banjar. (Ryan dan cecep)
Ega Ramanda Putri
· November 23, 2016
Sae...sae pisan...abi urg banjar asli ti parung sari...ayena nj ngartow d jkrta...kapungkur sakola d sdn banjar2 ankatan taun 91 nu sakolana msh mayunan alun"....sgn we pendak dei sarrng rerencangan n... ka pungkur.... See More
Darso Abdullah
· February 6, 2016
Boleh juga ..karena saya juga orang banjar rumah di jln tentara pelajar cikabu barat. Ya sekarang lg ngumbara.
Junoiys
· April 16, 2016
Kanggo para wargi anu di banjar anu hoby foto selfi.sakedap.deui bade aya wahana foto 3 dimensi...tiasa sapuasana di 35 wahana foto..rencana tgl 26 sd 30 afril.di gedung guru..dekat mitra idaman banja...r hatur nuhun hapunten.numpang info. See More
Wawan Boggo Setiawan
· December 7, 2015
Sangat membantu untuk mengenang masa - masa lalu ketika di kota kelahiran dan bahkan sekalipun belum bisa kembali tapi empati masih di sana.
Maju terus kota banjar tanpa menggeser tradisi dan sejarah....
Iringi hidup dengan kearipan lokal bukan keangkuhan.
See More
Dony Juliansyah II
· November 12, 2015
Sangat" baik sekali..kita juga bisa mengetahui sejarah" silam kota kelahiran saya..
Sri Momo
· July 14, 2015
Sangat2 bagus ski saya jd tau sejarah 2 yg ada di kota banjar dan perkembangan nya karna saya jarang sekali pulang k banjar tp saya slalu mengikuti tulisan2 yg ada di paguyuban urang banjar patroman
S...ukses tuk paguyuban urang banjar See More
Hehe Heri Ciandari
· September 29, 2016
manawi aya sejarah kampung jelat
Aceng S
· April 12, 2016
Punten we ka sadayana abi ge urang banjar slam ka urang banjar sadayana
Nunung L
· March 14, 2016
Subhanalloh sy lm bnget ngga prnah plng, stlah sy pensiun, cb bk fb trnyta ada paguyuban urang Banjar Patroman,kota yg penuh dg knngan2 di ms kcl s/d rmja.
Lisdiani
· October 25, 2015
Sae pisan..abi teh urang banjar asli bm kapungkur di jalan pagadean pengker bioskop kenanga..sakola alumnus smun 1 banjar angkatan 97
Nani Suwarni
· September 20, 2015
Bagus banget... kita jadi tau ceritera2 tempo dulu, dan bisa mengikuti perkembangan kota Banjar yg kita cintai, sukses!!! Paguyuban Urang Banjar Patroman
Dicky Song Chek
· March 24, 2016
Seneng Ayana paguyuban, asal positif kanggo majukeun kampung/kabupaten Banjar.tempat abdi dilahirkeun.
Heru Heryanto
· July 21, 2015
Banjar karang pamidangan
Posts

BALADA KALI “TJIROWAS” SEJAK 1890 – 1940, SAMPAILAH RIWAYATNYA SEKARANG (2015-2017) “CIROAS.. OH CIROAS” MENYERUPAI SOLOKAN “CIKELOMBERAN”

Bibir muara kali ‘Tjirowas’ (Ciroas) itu bertemu dgn badan sungai Citanduy (eastudria). | Di kawasan muara pertemuan sungai inilah dahulu membawa kisah, dimana warga Cikadu yg ada di sebrang Jelat bertemu dgn warga pituin Jelat dan warga lembur Balong hingga ke lembur Tanjungsukur. | Mereka yg dari Cikadu menelusuri kali Ciroas dan intera...ksi sosial ekonomi dengan warga daratan kawasan ‘eastudria’ yaitu salah satunya tumbuh cikal bakal pasar tradisional yg sekarang berkembang dan tumbuh pesat jadi pasar raya seperti sekarang.

Kawasan muara sungai sekaligus fungsi penting sbg simpul yg menciptakan titik aglomerasi kegiatan interaksi “sosek” (sosial ekonomi) yg paling ‘kolot’/tua karena situasi dan kondisi kawasan ‘eastudria’ yg membentuk simpul kegiatan, serta pembentukan simpul modern saat pertemuan jalan poros dari/ke arah timur dan Barat dgn infrastruktur jaringan jalan antar kecamatan atau antar desa itu jadi berkembang cukup pesat membangkitkan semakin meluasnya ‘radiasi’ sosek dari dampak urbanais, namun semakin pesat juga kompetisi peruntukan ruang yg berakibatkan banyaknya peralihan fungsi lahan. Yang semula lahan kebun dan ladang dan beralih secara cepat maupun perlahan jadilah fungsi lahan untuk pertokoan, perdagangan, dan permukiman hunian.

Sekarang kondisi ‘Tjirowas’ selain ejaan maupun tulisannya jadi “Ciroas”, juga jadi badan kali atau sungainya menyempit dan dangkal sbg akibat smulasi perjalanan waktu yg cukup lama (lebid dari satu abad yg lalu)) dan proses sedimentasi, baik sedimentasi dari alam maupun dari ‘residu kegiatan penduduk’ maka Ciroas nampak dangkal hingga menyempit yg pada akhirnya seperti skala ukurannya seperti ‘solokan’ yg seemprit alit, bahkan dgn fungsinya menjadi got pembuangan “Cikolemberan”. Yakh itulah “Tjirowas” yg lebih dari 2 (dua) abad yg lalu kemudian jadilah seperti solokan atau parit se’emprit sempit seperti sekarang. !

{(ASGM, dari tulisan awal pada paper seminari ‘sejarah kota di jawa’ pada lembar thema: Kotaku, Kota Banjar Patroman sekarang dan yg akan datang” oleh Wa’Odeng Sanud, Thn 2006)}

See More
Image may contain: tree and outdoor

PARA JAGOAN DARI MARAG’S DAN CHIKABU. GADIS MANIS DARI JAGUD DAN ZHELAT. INI ADALAH BAGIAN DARI SIMBOLIK DINAMIKA KOTA BANJAR PATROMAN (1950-1970)

Ini cerita atau gambaran aktualitas dari muda-mudi, remaja ABG dan Remako zaman baheula di Kota Banjar Patroman 1958-1968an. Muda-mudi, Remaja ABG dan Remako zaman dahulu itu biasanya dikumunitaskan sesuai dgn daerahnya atau jalur jalannya. Seperti dari Jln. Cimaragas disebutlah Geng Marag’s, dari Jl. Gudang disebut Anak Jagud, dan... dari Jelat disebut dan direkatulisnya menjadi De’Zhelat ada Juga yg menyebut HIBOSPAHO alias “Hidup Bosen Paeh Hoream”… dan seterusnya dari daerah-daerah lainpun demikian memiliki merk geng dan rekatulisnya sekenanya…. Hal ini tentu sebagai reaksi dan emosionalitas kumunitasnya terhadap keadaan, dimana keadaan Situasi dan Kondisi waktu itu lagi serba tidak bebas berkreasi, maklum katanya zaman Orba (Orde Baru) yg dilarang ketat untuk berkumpul bahkan berkegiatan yg dicurigai…

Sadar dan tidak sadar memang eposide tahun 1960-1970an (Era GBHN ke I dan ke II) adalah dimana Kota Banjar, terutama wilayah Kecamatan Banjar itu sendiri sebagian besar untuk keberadaan “sosek” nya sedang mengalami masa transisi perubahan dari ekonomi masyarakat agraris perdesaan ke ekonomi masyarakat jasa dan perdagangan (perkotaan).

“Urbanezedic” (Urbanaisic)) alias proses alimiah suatu wilayah dari perdesaan ke perkotaan, yaitu yg biasanya terjadi karena ada titik kawasan Aglomerasi kegiatan yang besar dan berkembang meluas shg menginvasi ke ruang atau lahan di sekitarnya. Diikuti oleh tumbuh dan berkembangnya perekonomian daerah setempat dan berkembangnya penduduk, serta semakin kuat maupun tingginya “pergerakan” (transportasi) untuk proses ‘sosek’ eksternalitas ke wilayah yang lebih luas.

Generasi muda dan atau SDM dari beberapa generasi, waktu itu banyak migrasi ke luar Kota Banjar, saking banyak migrasi dan SDA pertanian kurang diperhatikan alias tidak dipersiapkan utk mengarahkan kepada apa yg disebut Pertanian Berkelanjutan… Maka pada akhirnya akibat dan dampak tersebut bisa dirasakan bahwa pertanian yg ada sekarang banyak ditinggalkan oleh SDMnya (SDM khususnya pertanian mengurang) dan terjadinya peralihan fungsi lahan, dari agraris perdesaan ke perkotaan…. Sekaligus diepisode 1970-1980an tsb juga terjadi proses wilayah transisi dari masyarakat sosial ekonomi kewadanaan Banjar menuju masarakakat sosek Kotif Banjar 1996an, dan seterusnya pembentukan jadi Town Area Midle City (Kota kecil ke kota sedang) yang sudah memenuhi standar jumlah pertambahan penduduk mencapai lebih dari kisaran 50.000 – 150.000 jiwa.

{(ASGM, dari tulisan paper seminari Wa’Odeng Sanud, Bandung Maret 2005)}

See More
Image may contain: one or more people, people standing and outdoor